Pikirkan Datangnya Nikmat, Maka Taat Nggak Akan Berat

Pikirkan Datangnya Nikmat, Maka Taat Nggak Akan Berat

Pikirkan Datangnya Nikmat, Maka Taat Nggak Akan Berat

Rahma Roshadi

October 11, 2019

Assalamu’alaikum. Sobat keren, pernahkah kita berada dalam sebuah antrian yang sangat panjang? Misalnya di sebuah restoran cepat saji, atau ketika hendak menyelesaikan pembayaran di loket instansi tertentu. Kita terjepit di tengah antrian yang mengular dan bergerak dengan sangat lambat, sementara tidak ada pilihan tempat dan hari lain selain harus di sini dan sekarang juga. Pasti akan ada beberapa saat kita menghela napas panjang, atau sekadar menggerak-gerakkan pergelangan kaki karena tulang sendi yang mulai terasa kaku, tapi kaki ini tetap saja patuh bertahan di dalam antrian yang panjang.

Kenapa demikian? Karena kita tahu di depan sana ada sebuah solusi yang sedang kita tunggu dan cari. Kita juga sadar bahwa tidak ada cara lain selain berdiri di dalam jalur antrian yang ada. Bisa saja kita memberontak dengan menerobos antrian, tapi akan ada resiko menghadapi caci maki orang yang ikut mengantri juga, atau bahkan harus berurusan dengan petugas keamanan. Mungkin kita bisa juga menyerah dan meninggalkan antrian, tapi akan ada resiko semakin lapar atau akan dikenakan denda keterlambatan bayar.
Analogi di atas adalah sekelumit cara pandang tentang sebuah pilihan bernama ‘patuh’. Terhadap sebuah hal yang kita sudah tahu betul bagaimana perintahnya, apa manfaatnya, dan juga resikonya, maka kita akan menerobos segala kepenatan dan rela melawan semua pegal serta ngilu untuk mendapatkan sebuah kenikmatan dan kesudahan dari semua masalah.

Begitulah sejatinya patuh atau taat, sobat keren. Dalam segala aspek kehidupan, ada hal yang sudah diperintahkan dengan jelas dan tegas melalui aturan tertulis. Dalam hal mana, bagi mereka yang melaksanakan dengan taat, maka akan ada kemudahan, kenikmatan, atau kebahagiaan yang didapat. Jika tidak dilaksanakan, maka kita pun harus siap berhadapan dengan resiko pelanggaran yang dilakukan.

Ketaatan kita dengan tidak menerobos antrian di restoran cepat saji, adalah salah satu bentuk ketaatan dengan meninggikan adab dalam bermasyarakat. Ketaatan kita dengan bertahan dalam antrian di loket pembayaran, adalah bentuk kepatuhan kepada pemerintah yang telah memberikan aturan, perintah, serta denda dan ancaman lainnya.

Jika kepada sesama manusia dan kepada pemerintah saja kita demikian taat mengikuti aturan yang dibuat, mari kita telaah kepatuhan kita sebagai makhluk yang diciptakan. Siapa yang menciptakan kita? Apakah pencipta kita memberikan pedoman berupa perintah-perintah yang harus kita laksanakan agar memperoleh kebahagiaan ketika hidup dan setelah kematian? Dan apakah pencipta kita juga memberikan batasan-batasan agar kita terhindar dari marabahaya, kesedihan, dan ketakutan masa depan?

Bila untuk sebuah urusan sekecil makan saja, kita rela berjejal dalam antrian dengan patuh, lalu mengapa kita tidak mampu bertahan untuk taat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah taala sebagai zat Yang Mahakaya, sumber pemberi makan semua makhluk. Jika pemerintah saja, yang juga berisi makhluk ciptaan Allah, memberikan aturan yang kita patuhi pelaksanaannya agar nyaman hidup bermasyarakat, mengapa kemudian kita tega melakukan negosiasi untuk aturan Allah yang bahkan berjanji kepada mereka yang taat, akan menolong, melindungi, melimpahkan berkah, dan mendatangkan kemenangan?

[DISPLAY_ULTIMATE_PLUS]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *