Vaksin Bahaya? Latih Ini untuk Mencegahnya!

Vaksin Bahaya? Latih Ini untuk Mencegahnya!

Setahun berjalan sudah, Corona Virus Disease-19 mewabah di tanah ibu pertiwi. Semua lapisan masyarakat terdampak, dari bayi hingga lanjut usia. Banyak raga yang terkubur massal, salah satu cara bumi mengurangi populasi manusia katanya. Banyak cara juga telah dicoba untuk menanggulangi, vaksin salah satu nya

Apresiasi sejuta kali untuk tenaga kesehatan yang berjuang kuat, meski harus bertahan di dalam pengap Hazmat. Entah telinga masyarakat yang terlalu tebal untuk enggan mendengar himbauan para tenaga medis, atau hati yang terlalu keras dengan air mata yang menetes. Perjuangan mereka, adalah komitmen teguh yang dijunjung tinggi untuk setia menjaga negara.

Pemerintah rasanya sudah menghalalkan banyak cara untuk berjuang. Banyak yang sudah tidak kuat untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah, atau bahkan bekerja dalam ketidakamanan. Bagaimana cara mengatasi kehidupan diatas pandemi COVID 19? Mungkin ribuan dahi masyarakat mengernyit memikirkan hal ini.

Katanya, tidak akan bisa, karena pandemi tak akan kunjung usai sampai sepuluh tahun kedepan. Jiwa raga yang masih belum terkubur ternyata membara, pemerintah tak kunjung temukan solusinya, payah! Begitu protesnya.

Sampai setelah ribuan purnama, manusia semakin hari semakin banyak yang tumbang. Hingga pada 13 Januari 2021, mulailah diperkenalkan vaksin oleh pemerintah. Banyak warga menghela nafas. Akhirnya …

Baca Juga :

Vaksin, Solusi Atau Penambah Masalah ?

Kita setidaknya satu langkah lebih terproteksi. Namun, ada pula yang berpikir, kalau itu suntikan mati. Bukan mencari pemecahan, namun hanya agar pemerintah tak banyak punya beban.

Tidak ingin warganya berpikir begitu, Presiden kita, Joko Widodo pun turun tangan dan disiarkan langsung proses injeksi vaksin kepada orang nomor 1 di negara ini. Apakah berakhir pemikiran negatif rakyatnya? Tentu tidak! Ada banyak alasan mereka tidak ingin divaksin, dan semuanya berujung pada tuntutan kesejahteraan.

Sebaiknya kita semua sadar, bahwa kunci keamanan vaksin adalah kejujuran. Kita akan melewati tahap screening, diperiksa suhu, tekanan darah, dan wawancara riwayat penyakit dan kondisi badan. Bila dalam hal ini kita tidak jujur, maka datang ke tempat vaksinasi hanyalah sebuah langkah penghancur.

Seperti halnya vaksin untuk anak-anak, beragam vaksinasi covid seperti Sinovac, AstraZeneca, atau Nusantara, pasti akan menimbulkan efek pada setiap orang. Ada yang demam, flu, lemas, positif covid, meninggal, dan efek lainnya. Hah? Positif? Meninggal? Vaksin ni berbahaya, dong? Ya! Vaksinasi berbahaya. Berbahaya bila diiringi kebohongan.

Jadi, hal yang perlu dilatih sebelum vaksin, adalah jujur. Mereka yang mengalami banyak keluhan, bahkan terindikasi positif setelah vaksin, bukan karena vaksin yang disuntikkan. Hal itu adalah indikasi orang tersebut sudah terpapar beberapa hari sebelum vaksin, atau bahkan beberapa saat setelah vaksin. Hanya saja, hal tersebut tidak disadari oleh penerima vaksin. Alhasil, setelah disuntik ia langsung positif. Ibaratnya anak-anak bila ketemu teman mainnya, menjadi-jadi kan semangatnya.

Kita pindah pada keluhan selanjutnya, setelah vaksin lalu meninggal. Setelah diulik, ternyata ada riwayat penyakit yang tidak disampaikan korban ketika screening sebelum vaksin. Artinya, semuanya kembali pada kejujuran penerima vaksin. Setiap orang memiliki pengaruh berbeda pada zat apapun yang masuk ke tubuhnya. Efek samping tersebut adalah reaksi pada benda asing yang masuk ke dalam tubuh.

Baca Juga :

Ikrar Cinta Untuk Negara

Melakukan vaksinasi merupakan bentuk cinta kita pada negara, dan ikhtiar untuk diri sendiri. Kita tidak akan membiarkan tubuh ini merasakan sakit yang begitu parah ketika suatu saat –semoga tidak, ya- kita terkonfirmasi positif virus yang berbahaya. Hal ini dibuktikan oleh Hanung Bramantyo yang tetap terkena positif corona padahal ia sudah vaksin. Namun,berkaca dari riwayat penyakit dimana beliau memiliki asma, vaksinasi amat membantunya.

Vaksinasi membuat imun terhadap penyakit lebih kebal. Kita mengetahui secara bersama bahwa virus ini menyerang ke dalam sistem pernafasan, berkaitan pada asma juga. Namun ajaibnya, vaksinasi menyelamatkan Hanung dengan tidak merasakan sesak apapun selama positif.

Ada banyak sekali pesohor dunia hiburan yang bisa kita jadikan contoh bahwa vaksinasi bukan jaminan kita tidak terkena Corona Virus, melainkan memperkukuh pertahanan imun terhadap si gaib berbahaya ini. Pada saat ini, ribuan jalan terbuka untuk kita melakukan vaksin Covid-19. Di daerah manapun kita, meski membawa identitas berbeda dengan daerah yang tempati pun bisa diterima.

Hal ini memberi penegasan bahwa melakukan vaksinasi sangatlah penting, dan harus merata ke seluruh rakyat Indonesia. Iya, sulit kan? Pasti pemerintah sangat sulit untuk memonitor semua. Maka kita lah yang harus memonitor diri kita sendiri. Menggerakkan diri kita dan lingkungan untuk mau vaksin.

Banyak hal besar dimulai dari hal yang kecil. Bagaikan naik roller coster, mustahil rasanya meminta petugas untuk menjalankan mesin jika kita belum memakai pengaman. Maka, rasanya tidak ada alasan untuk tidak mau divaksin, karena satu per satu kriteria yang tidak boleh vaksin pun sudah mulai ditemukan jalan keluarnya. Jadi, apa ragumu untuk vaksin?

Penulis : Amatul Waheed

Baca Juga :

Share

2 thoughts on “Vaksin Bahaya? Latih Ini untuk Mencegahnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.