Ujian  Penghantar  Kesuksesan

Ujian  Penghantar  Kesuksesan

Penghantar Listrik yang baik disebut “Konduktor”. Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan konduktor adalah benda atau bahan penghantar panas, listrik dan suara. Ilmu fisika juga menyebut konduktor sebagai penghantar listrik yang terbaik.

Nah, dalam artikel di bawah ini, akan dibahas “penghantar” yang lain yaitu ujian, sebagai penghantar kepada kesuksesan.

Allah Ta’ala berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Niscaya kamu akan diuji dalam hartamu dan jiwamu, dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan dari orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan juga dari orang-orang musyrik. Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya hal itu merupakan urusan keteguhan hati”. ( Ali Imran : 186 )

Baca Juga : “Fa Shabrun Jamiilun”, Indahnya Hidup Dengan Sabar

Empat pondasi serta tujuan dari ujian untuk perkembangan nilai-nilai ruhani dalam rangka penyempurnaan iman adalah:

1. Membedakan mereka yang ragu-ragu dan lemah iman dari para pengikut yang tulus ikhlas lagi sabar

Tujuan yang pertama merupakan suatu ajang seleksi terhadap keyakinan atau keimanan seseorang. Hal itu karena ujian akan menjadikan keimanan dari orang tersebut tergambar dalam segala corak kehidupan, bahkan tersirat dalam gerak-gerik keseharian.

Itu semua menjadikan seleksi dasar bagi dirinya apakah ia akan yakin akan wujud yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, atau ia akan terperosok dalam keragu-raguan yang menghantarkannya larut dalam kerugian.

Dari Hasan Bin Abi Ali, Rasulullah ﷺ bersabda :

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu”, Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (Menipu) akan menggelisahkan jiwa”. ( Tirmidzi dan Ahmad ).

2. Menjadi Sarana kemajuan Rohani bagi mereka yang tulus ikhlas  dalam keimanan

Ujian merupakan sarana untuk menjadikan setiap insan dapat mendapatkan kemajuan tahap berikutnya yang lebih baik lagi. Seperti halnya dengan suatu ujian di sekolah seseorang akan menjadi naik kelas, demikian halnya juga dalam hal keimanan. Seseorang yang dapat menyelesaikannya bahkan lulus dari ujian, tentunya akan meraih kesuksesan, sepanjang didasari dengan keikhlasan, kesabaran dan selalu bertawakkal kepada Allah Ta’ala.

Kabar dari Allah Taala kepada orang-orang yang sabar dan istiqomah melalui firmannya “وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ”: dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang Sabar. ( Al Baqarah : 155 ). Bahkan dijelaskanlah lagi bagi orang-orang yang mampu dan dapat menyelesaikan ujian demi mencapai derajat ruhani yang lebih baik lagi…..

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka inilah yang dianugrahi berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan merekalah mendapat petunjuk”. ( Al Baqarah : 157 ).

Baca Juga : Kunci Keberhasilan Hidup Adalah Meningkatkan Rasa Syukur Dan Sabar

3. Dapat mengatur perilaku mereka sesuai dengan keadaan

Introspeksi diri tatkala menerima ujian menjadikan dirinya menjadi lebih baik lagi, dapat memahami kondisi dan melangkahkan kaki ke depan guna menata kehidupan yang baru. Tentu saja, seraya berharap dan yakin akan wujud Tuhan melalui doa.

Meraih kesuksesan dan tidak mau terjatuh terprosok kedua kali pada lubang (Ujian) yang sama, akan menjadi perwujudan yang nyata apabila seseorang memaknai ujian itu dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran.

Falsafah orang yang Bijak “ Hanya keledailah yang akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.” 

Intropeksi dan ishlah diri menjadikan seseorang bisa menyonsong kehidupan mendatang setelah ia melewati dan mampu menghadapi ujian demi ujian. Dengan memahami kondisi yang ada, baik terhadap diri sendiri, keadaan lingkungan dan lain-lain serta mampu meluruskan niat positif (Positif Thinking), serta berupaya agar ujian yang sama tidak terulang. Berjuang atau melangkah ke depan berusaha mencari jalan keluar serta memohon kepada Allah Ta’ala untuk dapat meraih apa-apa yang menjadi cita-cita, dan tentunya selalu berharap akan Ridha-Nya.

Itu semua aakn berakhir pada sikap senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dengan wujud Istiqomah dan bersujud kepada-Nya.

4. Dengan cobaan itu pula terbukti siapa yang layak menerima ganjaran.

Allah Ta’ala akan menjadikan suatu pemisah terhadap orang-orang yang berhak menerima ganjaran-Nya setelah dengan adanya ujian yang diberikan terhap hamba-hamba-Nya.

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersabar segala ujian “Innallaha-ma’as-shoobirin” Sesunggunhya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan kebersamaan Allah kepada hamba yang sabar itulah wujud cinta dan sayang Allah yang akan membuahkan suatu kebahagian.

Setelah kesuksesan dan kebahagian yang ia raih, tentunya akan menghantarkannya kepada jajaran derajat yang lebih dari orang lain. Tidak lain, derajat kemuliaan yang dijanjikan Allah Ta’ala yang merupakan kebahagian yang hakiki, yaitu surga keridhaan-Nya.

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

”Apa yang ada padamu akan punah, dan apa yang ada pada Allah akan kekal. Dan kami pasti akan memberikan orang-orang yang sabar ganjaran yang lebih baik sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. ( An Nahl : 96 )

Wallahu a’lamu

Baca Juga : Jadikan Sabar dan Sholat Sebagai Penolong

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.