Tulisan Mengiringi Sejarah

Tulisan Mengiringi Sejarah

Tulisan Mengiringi Sejarah

Islamku Keren

April 9, 2021

“Scripta manent, verba volant” begitulah bunyi peribahasa dalam bahasa latin yang berarti kata- kata lisan akan hilang, tapi tulisan akan abadi. Pramodya pun pernah berkata bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Yap, benar sekali. Sejarah yang kita pelajari saat ini merupakan hasil tulisan-tulisan dari masa lalu. Tanpa tulisan kita tidak akan pernah tahu bagaimana dan apa yang terjadi di masa lalu, siapa raja majapahit, bagaimana perang Diponegoro bisa terjadi, tanpa tulisan yang dibuat mendiang pahlawan-pahlawan pejuang Indonesia dulu kita tidak tahu apa-apa. Bersyukurlah mereka memikirkan kita sebagai anak cucu mereka, mereka tuliskan setiap detail pekerjaan untuk menjadi panduan kita saat ini. Walaupun media untuk menulis pada saat itu sangat seadanya seperti, batu, dinding goa, dsb. Bersyukurlah kita yang sudah disediakan media yang layak untuk menulis dan seharusnya digunakan untuk menoreh sejarah juga.

Menulis memang menjadi salah satu faktor penting dalam pengaruh peradaban, sebagai media yang berperan untuk mengevaluasi setiap kehidupan yang berlangsung khususnya bagi sebuah negara supaya bisa dijadikan pelajaran dalam pengambilan keputusan. Kemerdekaan indonesia pun tak lepas dari tulisan. Tulisan lah awal mula perjuangan kemerdekaan Indonesia, ketika para pemuda Indonesia dapat menulis dan membaca lah disanalah letak reformasi rakyat Indonesia baik di dalam dan luar negeri. Mengingat perjuangan rakyat Indoneisa bukan melulu tentang perang, diplomasi, atau konforntasi tapi juga melalui tulisan para pemuda Indonesia.

Abdul Kohar Mudzakir, nama yang asing jarang didengar pada saat ini. Namun perjuangan beliau tak pupus dalam sejarah. Beliau salah satu tokoh pahlawan nasional dalam diplomasi luar negeri di Mesir melalui tulisan tersebut Indonesia mendapat pengakuan dari negara tersebut.

Aktif pada tahun 1920 sampai dengan 1930-an, beliau kerap menulis jurnal ataupun tulisan untuk majalah tentang kemerdekaan di negara Indoneisa dengan semangat yang diplomasi serta dengan rasa nasionalisme juga perjuangan demi Indonesia.

Wuah, dari sini kita bisa melihat bahwa tulisan memang berpengaruh sangat penting apabila dilakukan untuk negosiasi secara tidak langsung. Bukan hanya pada masa lalu, sama hal nya untuk saat ini apalagi di masa pandemi sekarang banyak sekali pengambilan keputusan yang dilakukan dalam bentuk tulisan seperti email, whatsapp, dan sebagainya. Walaupun dalam bentuk digital itu tidak menyalahi standar menulis, justru itu adalah pengaruh dari globalisasi dan meningkatnya tren teknologi yang semakin hari semakin bertambah.

Bung Tomo juga salah satu dari pahlawan nasional yang berjuang melalui tulisan. Dikenal sebagai pahlawan yang disegani pada masa itu, dikenal juga sebagai seorang jurnalis yang kritis terhadap lemahnya pemerintahan kolonial Belanda apalagi tentang diskrimanasi orang-orang pribumi yang membuat ia semangat untuk melakukan perubahan untuk kemerdekaan Indonesia. Tulisan beliau juga menjadi salah satu awal dari terbukanya golongan terpelajar di Indonesia.

Sepanjang hidup beliau merupakan tokoh yang kritis kepada dua Presiden di Indonesia yakni pertama pada Presiden Soekarno, beliau mengkritik kebijakan yang gagal dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat dan juga kehidupan pribadi Presiden terkait pernikahan padahal sebelumnya mereka bisa dikatakan dekat. Kemudian, kepada Presiden RI Soeharto ia mengkritik kebijakan- kebijkan Orde Baru, padahal sebelumnya ia kerap mendukung Orde Baru dalam pemberantasan PKI juga komunisme di Indonesia. Bahkan sering kali sifat kritisnya itulah yang membawa beliau ke penjara dengan tuduhan melakukan tindakan subersif. Akan tetapi, melalui tulisan beliau itulah kemerdekan Indonesia perlahan-lahan mulai terealisasikan.

Tak hanya itu, pada masa Orde Baru ini la banyak sekali peran menulis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Walaupun pada saat itu pers dibungkam namun para jurnalis tak kehabisan ide untuk menuangkan pemikiran kritis tentang pemerintahan ia dituliskan pada novel- novel fiksi salah satu penulis yang terkenal pada saat itu ialah Ayu Utami. Ia menuliskan tentang realitas kondisi pemerintahan Indonesia yang mulai kacau pada masa itu pada sebuah novel yang dikenal “Saman” sempatlah pada saat itu novel tersebut tidak boleh dipublikasikan ataupun disita karena dianggap kritik terhadap pemerintah. Tak habislah cara untuk menuangkan pemikiran dalam sebuah tulisan walaupun dilarang oleh pemerintah itulah sejatinya prinsip seorang penulis.

Jika mengenai tokoh penulis Indonesia yang membantu berjuang melalui tulisan, maka Pramodya Ananta Toer tak boleh dilupa. Tulisan beliau yang begitu legendaris bukan hanya di Indonesia bahkan di seluruh di dunia yang sangat menginspirasi setiap pembacanya dan membawa pemikiran baru bagi siapapun yang menikmati tulisannya. Sama dengan Ayu Utami, buku beliau sempat tak boleh di publikasikan di negara sendiri bahkan beliau pernah di penjara karena menulis sesuatu yang mengkritisi pemerintah Indonesia. Akan tetapi, di penjara itulah beliau dapat membuat tulisan yang luar biasa dan tetap dikenang bahkan sampai saat ini.

Ditilik kembali, pemuda Indonesia merupakan seorang penyair. Hampir semua dari sejarah yang kita dengar tak pernah lepas dari tulisan. Mulai dari kitab sutasomo dan sebelumnya, ataupun tentang perjuangan kemerdekaan bahkan tentang penyelenggaran pemerintahan. Sehingga, yang perlu kita ketahui bahwa tulisan memang sangat berpengaruh pada kelangsungan kehidupan kita, tentang bagaimana kita dapat membuat suatu sejarah baru yang dibentuk dalam tulisan-tulisan indah. Sebab, percuma saja jika kita membuat sejarah akan tetapi tak pernah dituliskan mengingat manusia yang selalu khilaf dari “lupa” maka dari itu peran penting menulis lah yang mengambil alih.

Jadi, kamu masih ragu untuk memberanikan diri supaya tekun menulis? Bukan hanya tentang menulis mata pelajaran untuk sekolah ataupun sekedar mengirim pesan digital tapi memang menulis menoreh sebuah revolusi ataupun sebuah karya yang dapat dibaca oleh banyak serta bisa menginspirasi. Setidaknya pada saat ini bersyukurlah kita memiliki kebebasan berpendapat dimanapun bahkan bisa menyinggung siapapun akibat kebebasan berpendapat, miris dan sedih sekali jika membaca sejarah reformasi Indonesia yang melarang kebebasan pers, kebebasan untuk berpendapat. Haruskah kita merenung sejenak agar kita dapat memahami bahwa betapa penting menulis ataupun tulisan bagi reformasi kemerdekaan kita?

Tentang para jurnalis yang keluar masuk penjara hanya untuk membeberkan kebenaran pada masyarakat yang dimuat di koran, majalah, dan sebagainya. Tentang masyarakat yang dibutakan oleh berita palsu untuk mengelabuhi mereka. Tentang para jurnalis yang dipaksa bungkam padahal air mata darah sudah dikeluarkan hanya untuk memberi tahu kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Betapa beruntungnya kita saat ini dapat menuliskan keluh kesah pribadi, romansa-romansa cinta anak muda, bahkan kritik pemerintah khusus Presiden pun nampaknya biasa saja saat ini.

Dan yang tetap menjadi pr kita sebagai generasi milenial adalah bagaimana cara kita menuliskan hari ini untuk sejarah di masa depan, dan bagaimana cara kita membuat sebuah tulisan yang akan memberikan pengaruh positif untuk diri kita sendiri bahkan untuk negara ini. Tetaplah menulis agar namamu tetap ada dan tidak hilang dari sejarah bahkan di masyarakat. Sebab melalui tulisan lah, perasaan mu yang sesungguhnya dapat dirumuskan tanpa tulisan kita akan buta dengan keadaan. Itulah yang difikirkan para pahlawan-pahlawan nasional kita saat itu ketika memutuskan menuliskan kejadian sejarah yang kita pelajari saat ini. Beliau-beliau memikirkan tentang bagaimana generasi muda dapat mengambil pembelajaran dari kesalahan-kesalahan masa lalu yang membuat dijajah Indonesia ini.

Selain menulis kita juga harus membaca, sebab menulis tanpa membaca sama saja sia-sia. Bukan hanya membaca buku tapi membaca situasi, suasana yang dapat kita ambil kesimpulannya untuk dibuatkan sebuah tulisan. Salah besar jika kita mengatakan bahwa membaca itu sekedar membaca buku. Sebab, membaca memiliki cakupan yang luas. Orang yang cerdik pun akan kalah dengan orang yang mampu membaca situasi dengan baik. Bahkan kita bisa memvalidasi keraguan data jika kita jeli melihat suasana bahkan situasi yang terjadi di sekeliling kita.

Mungkin bisa saja, beberapa penulis di zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia melakukan pembacaan situasi untuk menulis sebuah karya mengenai kritik pada pemerintah. Sebab, tanpa itu bagaimana mereka mendapatkan kecurigaan tanpa adanya pembacaan situasi.

Seorang pemuda Indonesia salah satunya ialah Ging Ginanjar, pendiri Aliansi Jurnalis Independen dan tokoh pers yang ikut menyertai kelahiran orde reformasi. Ging Ginanjar jadi terasa penting buat wartawan muda yang sedang mencari pojok buat dihuni di tengah rimba media. Kisah hidupnya patut dijadikan contoh. Kesetiaannya pada jurnalisme layak diteladani. Berulangkali dia mendapat kesempatan buat menaiki tangga kekuasaan, namun dia memilih berkarya dengan pena hingga akhir hayatnya.

Di era Orde Baru, Ging dikenal sebagai jurnalis yang berani mengritik kebobrokan pemerintahan Soeharto. Karya-karya jurnalis tangguh berusia 54 tahun ini turut menggugat pelanggaran hak asasi manusia di Aceh, Papua dan Timor Leste. Bersama rekan-rekannya, pria asal Cimahi kelahiran tahun 1964 itu turut membidani kelahiran Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 1994, sebagai wadah kebebasan di bawah rezim Suharto yang hanya mengakui Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai satu-satunya organisasi profesi wartawan di Indonesia.

Ketika Indonesia menapaki era reformasi dan menikmati kebebasan pers, siaran luar negeri berbahasa Indonesia yang di masa otoriter Soeharto jadi sumber berita kalangan aktivis, juga perlu berbenah. ia turut memrakarsai Kongres Rakyat Indonesia (KRI) bulan Maret 1998, dengan agenda memilih secara simbolik presiden versi rakyat, menanggapi Sidang Umum MPR RI yang ketika itu siap memilih Suharto menjadi presiden lagi dengan suara bulat. Kegiatan ini menyeretnya ke penjara. Ia diadili dan diputus bersalah pada tanggal 20 Mei 1998, namun dibebaskan hari itu juga. Sehari setelahnya, Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya.

Wuaa, bagaimana teman-teman bukan kah ini dapat menjadi suatu tantangan untuk kita para generasi milenial agar tetap berjuang untuk berkarya pada tulian demi kemajuan Indonsia, haruslah kita mempelajari para pahlawan kita sebab tanpa tulisan yang mereka buat kita tidak tahu apa saja yang terjadi pada masa lalu, kita tidak pernah tahu siapa dalang dari terjadi peperangan, siapa saja yang memimpin pada masa lalu, itu semua kita tahu dari inisiatif para pahlawan kita agar menjadi pembelajaran bagi kita.

Penulis : Dyfa Maharani Andalusia


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

Share

51 thoughts on “Tulisan Mengiringi Sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.