Time Flies : Berlalunya Waktu

Time Flies : Berlalunya Waktu

Time Flies : Berlalunya Waktu

Rahma Roshadi

October 10, 2019

Assalamu’alaikum sobat keren.

Seringkah kita mendengar frasa ‘time flies’? Demikianlah waktu. Bergerak hanya dengan detik, namun tak pernah mampu kita kejar detaknya.

Sobat keren, pernahkah kita merenung, berapa usia kita sekarang, dan kesuksesan apa saja yang sudah kita raih? Apakah kita sudah cukup puas dengan semua perolehan dalam genggaman? Apakah kita merasa sudah merasa sangat jauh melangkahkan kaki kita menuju gerbang kesuksesan? Atau bahkan kita merasa belum memulai suatu hal penting apapun?

Ada orang yang menjalani hidupnya dengan selow, tanpa pernah membuat rencana hidup yang serius, karena berpikir bahwa keseluruhan hidup ini adalah takdir ilahi yang sudah tercatat sehingga tidak ada lagi yang perlu direncanakan dan diperjuangkan. Ada pula sebagian yang membuat rencana, namun hanya sekedar rencana yang menjadi hiasan dinding karena tidak pernah memaksakan diri untuk meraihnya. Sementara di tempat lain, ada sebagian lain yang rela membuat badannya lelah dan menangis di usia muda, karena dia yakin lelah dan tangis ini akan membuatnya tersenyum bahagia di masa depan.

Demikian indahnya Islam, yang mengajarkan sebuah konsep ‘waktu’ sebagai sebilah pisau dengan mata yang tajam pada kedua sisinya. Bagi mereka yang membuang dan menyia-nyiakan  ‘pisau’ ini, maka ia akan menyayatnya dan membuatnya berdarah-darah. Sementara bagi mereka yang bisa merawatnya dengan baik, maka ia akan menjadi sebilah pisau yang mengilap tajam dan memberi banyak manfaat.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali bagi mereka yang senantiasa beramal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Demi waktu, yang sangat melalaikan manusia, Allah taala sudah memberikan peringatan, bahwa tidak akan merugi dan pasti akan ada kesuksesan dalam genggaman, jika kita senantiasa fokus pada beribadah kepada Allah dan amal saleh lainnya, meskipun dengan sesederhana saling menasehati dalam kebaikan, dan bersabar dalam menjalaninya.

Ibadah, sejatinya membutuhkan sebuah kondisi yang harus dipaksakan agar muncul kebiasaan, dan dari kebiasaan itulah, kita akan menemukan kenikmatan.

[DISPLAY_ULTIMATE_PLUS]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.