0 5 min 1 yr

TBC : Tarbiyat Berlandaskan Cinta

Islam Keren

April 30, 2020

Assalamu’alaikum sobat keren,

TBC adalah Tuberkulosis atau penyakit yang disebabkan oleh bakteri “Mycobacterium Tuberculosis”, penyakit yang menyerang organ tubuh yang bernama paru-paru.

TBC di kalangan kaum Milenial sering diplesetkan dengan istilah yang kekinian dan juga sedikit berbau Romantisme “Tekanan Batin Cinta”…

Tidak akan membahas tentang TBC “Penyakit yang menyerang paru-paru, tidak juga akan membahas masalah TBC “ Tekanan Batin Cinta” kaum milenial punya istilah… namun TBC yang akan ditorehkan adalah TBC “Tarbiyat Berlandaskan Cinta”.

Merujuk kepada Firman Allah Ta’ala didalam Al-Qur’an-ul-Karim Surah Asy-Syura

Itulah yang mengenainya Allah memberi kabar suka kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu atasnya upah, melainkan kecintaan diantara kaum kerabat.” Dan barang siapa berbuat kebaikan, Kami menambahkan kebaikan baginya di dalamnya. Sesungguhnya, Allah itu Maha Pengampun, Maha Menghargai. (Q.S. 42 : 24)

Kata-kata itu dapat juga berarti :

  1. Aku tidak meminta kepadamu upah karena mengajak kamu ke jalan Allah, kecuali oleh karena aku dan kamu terikat oleh tali kekeluargaan, kekhawatiran akan kesejahteraan ruhanimu mendorongku berbuat demikian.

Solidaritas diri terhadap orang lain atau sesama menjadikan rasa emosional diri guna mendorong  untuk mentarbiyati diri beserta harapan dapat berimbas kepada kebaikan  terhadap orang lain, dan berlandaskan rasa kekeluargaan serta mengharapkan kesejahteraan ruhani, dengan demikian mewujudkan perintah Allah Ta’ala agar kita senantiasa saling menasehati dalam hal kebajikan.

Tarbiyat yang dilandasi kekeluargaan sudah barang tentu tidak terdapat unsur kedengkian atau hasud yang merugikan namun berupaya menjadikan peningkatan nilai-nilai ruhani yang dapat diraih oleh keluarga tanpa kecuali dan sudah barang tentu dilandasi dengan penuh kecintaan dengan harapan ahli keluarga ini menjadi pencinta-pencita Ilahi…

  1. Aku tidak meminta kepadamu upah atas usaha besar yang kulakukan untuk faedah ruhanimu, melainkan supaya kamu belajar hidup dan berprilaku bagaikan anggota keluarga sedarah-daging.

Usaha seorang pemberi kabar atau seorang penyampai kabar suka tentunya tanpa pamrih agar bermanfaat atau berfaedah bagi orang lain dengan harapan kita dapat meraih “Nilai-nilai ruhani”. Terwujudnya nilai-nilai ruhani bagi orang lain atas apa yang kita berikan demi tercapainya unsur-unsur kebaikan menjadikan kita peduli seperti kepedulian kita terhadap sanak saudara.

Pembelajaran hidup dan demi tercapainya nilai-nilai ruhani yang baik sesuai harapan dan keinginan Allah Ta’ala menciptakan kita sebagai Insan manusia yang  peduli terhadap orang lain dan menginginkan kebaikan-kebaikan. Selain itu nilai-nilai ruhani mampu diraih secara kebersamaan tentunya dengan berlandaskan cinta.

  1. Aku tidak meminta upah atau imbalan atas kekhawatiran dan cintaku padamu, kecuali dalam mengadakan perlawanan terhadapku hendaklah kamu memperhatikan juga sedikit tali kekeluargaan yang ada antara aku dan kamu.

Rasa simpati dan empati kita terhadap orang lain menjadikan pemberi kabar suka tidak menginginkan nilai-nilai ruhani itu bisa diraih sendiri, melain kepedulian terhadap sanak saudara dan juga orang-orang yang berada di sekitarnya.

Firman Allah Ta’ala “Peliharalah dirimu dan kaluargamu dari Api neraka”. (Q.S. 66:7) tidak hanya peringatan untuk ahli keluarga di dalam rumah saja, namun tentunya untuk dapat juga memelihara keluarga yang lebih kompleks atau dalam jangkauan yang lebih luas..

Rujukan Tarbiyat yang kita lakukan, Allah Ta’ala juga menyinggung dalam Al-Qur’an surah Shad : 87.  Katakanlah. “aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas Dakwah itu, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang berpura-pura”. (Q.S. 38:87)

Dengan Tarbiyat Berlandaskan Cinta menjadikan seseorang bisa mencapai derajat nilai-nilai ruhani yang baik, karena terdapat di dalam dirinya kepedulian terhadap orang lain dan berharap orang lain bisa meraih nilai-nilai ruhani juga,  dengan tidak didasari kepura-puaran namun dengan penuh rasa cinta dan kekeluargaan.

  1. Aku tidak menghajatkan upah dari kamu kecuali kamu hendaknya belajar menumbuhkan keinginan mencapai kedekatan kepada Tuhan.

Allah Ta’ala tidak hanya menginginkan Tarbiyat yang kita lakukan dengan dalih berlandaskan Cinta pun hanya diberikan kepada orang lain, namun Allah Ta’ala juga menasehatkan terhadap seorang pendakwah juga bukan hanya bisa “Jarkoni” (iso ngajar ga iso ngelakoni)

Tarbiyat yang kita lakukan harus sekaligus mentarbiyati diri sendiri sehingga kita dapat meraih pendekatan diri seorang hamba kepada Allah Ta’ala, tarbiyat yang dilakukan dengan penuh rasa peduli karena menginginkan saudara kita dapat mencapai nilai-nilai ruhani sebagaimana amal ibadah yang  di senangi Allah Ta’ala sudah barang tentu jauh dari kekerasan atau pemaksaan kehendak.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Q.S. Al-Furqon : 58 yang di lukiskan kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw :

Katakanlah, aku tidak meminta balasan kepadamu untuk ini, kecuali supaya barangsiapa menyukainya, baiklah ia menempuh jalan kepada Tuhan-Nya”. (Q.S. 25:58)

Wallahu a’lamu

By : Mahmud Ahmad Syamsuri

[DISPLAY_ULTIMATE_PLUS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *