“Taftii Nafsaka”, Tergolong Manakah Kita?

“Taftii Nafsaka”, Tergolong Manakah Kita?

Firman Allah Ta’ala dalam Surah At Taubah: 81,

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.”

Kalimat “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Berangkat dari kalimat di atas yang terlontar dari kata-kata orang munafik, menghantarkan penulis untuk mengajak hatinya dan pikirkannya untuk mengoreksi diri, apakah “aku” terlibat di dalamnya? Atau adakah itu semua terselubung dalam sanubari dan kehidupannya? Taftii Nafsaka. Coba tanyakan pada dirimu sendiri.

Bagaimana tidak, setelah mereka bermalas-malasan dirumah dengan duduk-duduk (berdiam diri) dengan tidak menyadari kerugian kerugian yang diterima mereka, mereka juga menganjurkan orang lain untuk tidak berangkat ke medan jihad pengorbanan (jiwa dan harta) yang panas terik itu. Itu semua menghantarkan diri dalam jurang yang sangat dalam serta tenggelam dalam kesesatan-kesesatan, pula mempercepat dirinya akan sampai kepada ujung yang terik dan panas sebenarnya, yaitu api neraka.

Baca Juga : Waspada! 5 Perkara Ini Dapat Mengeraskan Hati

Orang-orang yang bakhil dan yang tidak menganjurkan orang yang berjuang pada Jalan Allah, sifat ini ada dalam diri orang-orang munafik. Itulah “Taftii Nafsaka”, yang harus kita tanyakan pada diri sendiri, Adakah itu ada pada diri kita?

Sebagai seorang mukmin yang mengklaim dirinya sebagai orang yang beriman, sudah barang tentu sifat atau gaya hidup tersebut diatas harus dibuang jauh-jauh. Karena, dirinya menyadari akan adanya balasan dari Allah Ta’ala “Api jahanam lebih hebat panasnya”.

Menyadari akan adanya balasan dari Allah Ta’ala, tentunya menjadikan golongan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin menjadi dua kelompok yang berbeda, dengan konsekuensi yang berbeda juga. Konsekuensi yang berbeda yang diterima oleh orang-orang munafik dan orang-orang mukmin akan menghantarkan kelompok tersebut kepada muara Yang Maha Kuasa untuk diberikan ganjaran atau ganti rugi terhadap apa-apa yang dilakukannya.

Hai orang-orang yang hanya berdiam diri yang enggan untuk berjuang dijalan Allah Ta’ala dan bergembira dan larut dalam kegembiraan, ketahuilah Allah Tidak “sare” atau tidak tidur. Namun akan menjanjikannya kepada orang-orang itu suatu adzab yang lebih dahsyat, terkecuali bagi hamba-Nya yang mau bertaubat dan memperbaiki diri.

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa terpelihara dari Kebakhilan diri sendiri, mereka itulah yang akan berjaya”. ( At Taghabhun : 16 )

Hai orang-orang yang yang Mengklaim dirinya sebagai orang yang beriman, jadikanlah seruan Allah untuk kita lebih lagi berdekatan dengan Sang Khaliq melalui bentuk jihad dengan berjuang kepada Allah Ta’ala. Melalui jiwa dan juga pengorbanan, agar kita juga terlepas dari sifat bakhil, karena apabila kita bakhil, sesungguhnya Allah Ta’ala juga akan banyak perhitungan kepada hamba-hamba-Nya.

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah suatu pinjaman yang baik, niscaya Dia akan melipatgandakan bagimu, dan akan mengampuni kamu dan Allah itu Maha menghargai dan Maha penyantun”
( At Taghabun : 17 )

Baca Juga : Berhati-hati Dengan Zona Nyamanmu

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *