SYARAT-SYARAT MERAIH KEBERHASILAN DI SISI TUHAN

SYARAT-SYARAT MERAIH KEBERHASILAN DI SISI TUHAN

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ ٥
“Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau,jugakepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau, dan akhirat pun mereka yakin.” (Q.S. Al-Baqarah/2:4)

Saudara-saudari sekalian sobat Islamkukeren, Firman Allah Ta’ala di awal, menyebutkan tiga tanda dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan kedudukan takwa di sisi Allah Ta’aala. Dari tanda-tanda yang disebutkan ini, Allah SWT menetapkannya bagi orang-orang yang yakin dengan sesungguh-sungguhnya.

Mendapatkan petunjuk dan sekaligus kedudukan takwa merupakan khazanah yang teramat berharga yang dapat menyelamatkan kita, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Karena seorang Muttaqi adalah orang yang senantiasa berjaga-jaga terhadap dosa, dan menganggap Allah SWT sebagai perisainya atau pelindungnya.

Sikap kehati-hatiannya terhadap dosa, menjadikannya hidup dalam kesucian lahir maupun batin. Dengan Allah SWT Yang menjadi perisai atau pelindungnya, maka dengan-Nya, tidak akan ada yang mampu untuk mencelakakan, merugikan atau menggelincirkannya.

Baca Juga :

Iman : Syarat Utama Berhasil Di sisi Tuhan

Di dalam mengawali ayat ini, Allah SWT berfirman:

Wal-ladziina yu-minuuuun, yang artinya adalah “dan mereka yang beriman”.

Kalimat ini merupakan prasyarat untuk memenuhi tanda-tanda yang akan dikemukakan di dalam ayat ini. Dengan mempersiapkan diri menjadi orang yang beriman, maka seseorang bersiap untuk mengamalkan tanda sebagai syarat untuk mendapatkan petunjuk dan kedudukan takwa.

Demi menyegarkan kembali ingatan kita tentang apa itu iman, Hadhrat Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ حَجَرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أْلإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِاْلقَلْبِ وَقَوْلٌ بِالِّلسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ (رواه ابن ماجه والطبراني)Artinya:
“Dari Ibnu Hajar Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: Iman adalah Pengetahuan hati, pengucapan lisan dan pengamalan dengan anggota badan” (H.R. Ibnu Majah dan At-Tabrani).

Sobat islamkukeren,

Mari kita perhatikan ciri pertama yang menjadi definisi iman ini. al-Iimaanu ma’rifatum bil-qolbi. Iman adalah pengetahuan hati. Dalam hal mana, pengetahuan bukan hanya sekadar ilmu, bahkan hafalan, atau rangkaian kata-kata yang nantinya hanya perlu diulang-ulang.

Perlu kita cermati bahwa Rasulullah saw menggunakan kata ma’rifat. Dalam Kamus Al-Qur’an, dikutip bahwa Imam Raghib mengatakan bahwa al-makrifatu adalah hal dengan refleksi dan dengan mempertimbangkan efeknya pada pikiran atau pengertian.

Dari sini diketahui bahwa pengetahuan adalah hasil dari langkah awal kebaikan (yakni yang terefleksi darinya) dan dengan pertimbangan penuh kebijaksanaan, menjadikannya sebagai penyebab dari langkah baru pada kebaikan-kebaikan yang akan tertuang dalam berbagai amalan yang terus-menerus ditingkatkan baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya.

Sobat islamkukeren,

Langkah awal kebaikan ini tidak lain beranjak dari hati dalam wujud niat. Berkenaan tentang hal ini Rasulullah saw bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati.”  (H. R. Muslim)

Baca Juga :

Jaga Lisanmu, Bahagia Hidupmu

Ciri kedua yang menjadi bagian definisi iman adalah wa qaulum bil-lisaan. Yakni pengucapan dengan lisan. Bagaimana kita mencermati definisi ini?

Tentu saja bentuk perkataan di sini bukan sekedar perkataan yang seperti biasanya, atau yang cukup berlalu begitu saja. Tetapi perkataan yang berlandaskan pada kebaikan dan menghasilkan kebaikan-kebaikan yang lebih luas lagi.

Sebagaimana tanda-tanda dari hamba Tuhan yang digambarkan dalam kebaikan lisannya dan sekaligus menjadi lawan dari setan yang menimbulkan perselisihan, dalam Firman-Nya:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Q. S. Al-Isra: 54)

Dari sisi lain, kebaikan itu beranjak dari ruang lingkupnya yang terkecil hingga seluas-luasnya. Ruang lingkup itu pada awalnya berasal dari berbagai langkah perbaikan-perbaikan diri, keluarga, hingga orang-orang di sekitar kita.

Baca Juga :

Amal Cerminan Tingkat Keimanan

Generasi Muda islamkukeren,

Poin terakhir dari hadits Nabi SAW yang memaparkan tentang definisi iman yaitu, wa ‘amalu bil-arkaan. Yang menggambarkan bahwa iman itu adalah pengamalan dengan anggota badan.

Sampai di sini Nabi saw telah dengan terang benderang dan seutuhnya menjelaskan tentang definisi iman, yang dengannya keimanan ternyata tidak cukup pada keyakinan hati saja. Tetapi beranjak kepada bukti nyata dengan perkataan dan perbuatan.

Sobat keren, mari kita perhatikan Firman Allah Ta’aala berikut ini:

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan,” (Q. S. Yasin: 66).

Dari ayat ini jika sedikit saja kita menyadari bahwa segala sesuatu yang ada pada diri kita berasal dari Allah Ta’aala, maka dengannya akan melahirkan sikap kehati-hatian untuk tidak bermaksiat terhadap-Nya dan senantiasa memacu diri ke arah kebaikan-kebaikan.

Baca Juga :

Al-Quran: Sumber Petunjuk Tuhan, Penyempurna Iman

Kemudian, setelah kita berusaha untuk memenuhi dan mencoba untuk layak menjadi orang-orang yang beriman yang sebenar-benarnya seperti yang dijelaskan tadi, maka demi tetap berada pada jalan Tuhan yang tentu saja akan berakhir dengan kebaikan, maka masuklah kepada langkah-langkah berikutnya dalam menyempurnakan keimanan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Allah Ta’aala di dalam ayat yang kelima dari Surah Al-Baqarah ini.

Yakni,

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ
Yang artinya adalah “Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau.”

Mereka yang disebutkan di sini adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan orang orang-orang yang meraih kedudukan takwa di Sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, Allah Ta’ala akan menjadi pelindung bagi orang-orang ini.

Beriman berarti dapat merefleksikan keyakinan, ilmu dan kepasrahannya ke Hadirat Allah Ta’aala dengan dibuktikan melalui perkataan serta perbuatannya dalam hal,

Bimaa u(n)zila ilaika. Dengan apa-apa yang yang telah Allah Ta’ala turunkan kepada engkau. Kepada siapa? Kepada orang yang tengah Allah Ta’ala ajak bicara dengan ayat ini, yakni yang mulia Rasulullah SAW.

Sobat keren, Apa yang telah Allah turunkan kepada Hadhrat Rasulullah SAW?

Mari kita perhatikan Firman Allah Ta’aala berikut ini:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ  
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q. S. Al-Hijr [15]: 10)

Melalui ayat ini, kita mengetahui bahwa salah satu yang terbesar yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Hadhrat Rasulullah Muhammad saw adalah Al-Qur’an. Bersama dengan Alquran Allah Ta’ala menurunkan para Malaikat yang menjadi perantara. Kemudian bersamaan dengan itu juga, segenap keberkatan dan bahkan setiap unsur alam raya menjadi pendukung demi terbuka lebarnya khazanah kekayaan dan keberkahan yang diturunkan melalui Alquran.

Lalu bagaimana kita selayaknya merespon akan pernyataan, pengetahuan dan ajaran luhur dari Tuhan Yang Maha Kuasa ini?

Nah, sobat keren, apakah sobat keren masih ingat tentang bahasan dari definisi iman yang telah diutarakan langsung oleh Baginda Nabi Besar SAW di awal kajian ini?

Ya. Secara ringkas, keimanan yang pada awalnya berdasar pada keyakinan dan ketetapan hati, selanjutnya berbuah menjadi perkataan dan pengamalan sebagai pembuktiannya.

Sehingga apabila keimanan tersebut diterapkan terhadap Al-Qur’an sebagai suatu bentuk agung yang diturunkan Allah Ta’ala dengan limpahan keberkatannya, maka dengan keyakinan, penyampaian secara lisan dan pengamalan melalui amal perbuatan berdasarkan Al-Qur’an, akan semakin semarak dan meluas dalam keberkatannya.

Lebih lanjut, kita patut untuk senantiasa memikirkan, mengevaluasi dan memperbaiki diri dalam menjadi sosok hamba Tuhan yang menyatu dalam sikap dan tingkah laku yang selaras dengan Alquran.

Baca Juga :

Orang Beriman, Percaya Pada Risalah Yang Lalu Dan Yang Akan Datang

Sobat keren,

Lebih lanjut Allah SWT berfirman:

وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ
juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau.

Kalimat ini diawali dengan kata wa, yang artinya adalah “dan”. Salah satu fungsi kata “dan” adalah sebagai kata penghubung antara satu kalimat dengan kalimat yang lain. Sehingga satu sama lainnya memiliki hubungan dalam makna maupun konteksnya.

Kalimat pembuka dari ayat ini adalah seruan kepada orang-orang yang beriman. Kalimat kedua adalah syarat awal sebagai ciri pertama dari tanda-tanda orang beriman di ayat ini. Nah, saat ini kita sampai pada syarat selanjutnya sebagai ciri yang kedua dari tanda-tanda orang beriman.

Syarat tersebut yaitu beriman kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau. Kenapa di sini disebutkan juga untuk mengimaninya, padahal tidak disebutkan secara jelas dengan kata mengimani. Inilah yang disebut dengan kaidah wau athaf. Wau yang menjadikan adanya hubungan secara tekstual dan kontekstual dengan kalimat sebelumnya.

Jadi, ternyata kita tidak saja harus mengimani setiap hal (atau dalam hal ini adalah wahyu) yang turun kepada yang mulia Nabi Muhammad saw saja. Akan tetapi, dengan petunjuk dari Allah ini, mengisyaratkan agar kita pun turut mengimani setiap hal yang turun kepada para Nabi atau orang-orang suci pilihan Allah di masa lampau sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.

Kenapa demikian? Karena Islam mewajibkan para pengikutnya beriman bahwa ajaran semua nabi terdahulu bersumber dari Allah swt, sebab Allah mengutusnya untuk semua kaum.

Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah:

وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦٓۗ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٞۖ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ 
“Dan berkatalah orang-orang yang ingkar, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu tanda dari Tuhan nya?’ Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada seorang pemberi petunjuk.” (Q. S. Ar- Ra’d [13]: 8)

Perhatikan kalimat dari Firman Allah “dan bagi setiap kaum ada seorang pemberi petunjuk”. Demikianlah Allah memberitaukannya kepada kita.

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗاۚ وَإِن مِّنۡ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ 
“Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan. Dan tiada suatu kaum pun melainkan telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan.”

Perhatikan kalimat “Dan tiada suatu kaum pun melainkan telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan”. Demikianlah juga Allah telah memberitaukannya kepada kita.

Lalu bagaimana cara kita mengimani semua hal yang telah diturunkan kepada sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw, sedangkan setiap ajarannya boleh jadi sudah tidak sesuai lagi dengan aslinya?

Sobat keren,

Untuk menyikapi hal demikian, mari kita cermati sabda yang mulia Rasulullah Muhammad SAW berikut ini:

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah:

كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لأَهْلِ الإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ الآيَةَ
Ahlul Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka menafsirkankannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka", namun katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami … (Al-Ayat)" (QS: Al-Baqarah:137)

Sebagaimana sabda dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Kitabnya Ayyaamus-Sulh yang dikutip dalam Khutbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih V aba pada Jumat, 30 Maret 2012 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, bahwa:

“Kami beriman kepada semua nabi dan beriman kepada semua kitab yang kebenarannya terbukti dari Alquranul Karim.”

Generasi Muda Pecinta Alquran,

Firman Allah Ta’aala berikutnya dalam ayat Alquran pada kajian kita ini adalah:

وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ
dan akhirat pun mereka yakin.

Seperti apa akhirat yang diyakini?

Kata sifat al-aakhirotu dipergunakan di banyak ayat, dan dipahami para ahli tafsir sebagai sebuah tempat di kehidupan yang akan datang. Namun dalam konteks bahasannya, tetap menunjukkan bahwa kata akhirat dalam ayat ini bukanlah dipahami sebagai sebuah tempat pada kehidupan yang akan datang. Tetapi, hal ini merupakan sebuah risalah; ar-risaalatu al-aakhiratu atau tuntunan wahyu yang akan datang.

Seperti yang dikutip oleh situs ahmadiyah.id yang menyertakan terjemahan dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berkenaan tentang kebutuhan wahyu ini, yaitu:

“Singkat kata, hasrat apa pun yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri manusia, maka Dia juga telah memberikan sarana untuk pemenuhannya. Sekarang kita perlu mempertimbangkan bahwa jika semua sarana telah disediakan bagi pemenuhan kebutuhan fisikal dari jasmani manusia, betapa pula yang disediakan bagi pemenuhan hasrat batin manusia akan kecintaan, pemahaman dan pengabdian kepada Tuhan. Sarana tersebut berbentuk kasyaf dan tanda-tanda Ilahi yang bisa mencerahkan pengetahuan dangkal seseorang dengan keyakinan hakiki. Sebagaimana Tuhan telah menyediakan sarana guna pemenuhan hasrat jasmani manusia, begitu juga Dia telah mengaruniakan sarana ruhani untuk pemenuhan kebutuhannya dan dengan demikian sistem fisikal dan spiritual akan menjadi selaras. Penalaran induktif seperti ini selanjutnya disempurnakan melalui penalaran deduktif atau dengan kata lain melalui contoh dari wahyu itu sendiri. Kesadaran akan kebutuhan terhadap sesuatu merupakan suatu hal terpisah dengan pencaharian akan cara pemenuhannya.”

Sobat keren,

Dari kajian ayat ini, maukah kita untuk meraih petunjuk dan mencapai kedudukan istimewa di sisi Tuhan dalam ketakwaan kepada-Nya? Jika jawabannya “Ya”, maka mari kita terus berupaya untuk memantaskan diri agar selaras dengan petunjuk Allah Ta’ala ini. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita semua untuk memenuhi petunjuk-petunjuk-Nya ini. Aamiin AllaaHumma Aamiin.

Ditulis oleh : Mln. Yudi Wahyudin

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.