Shalat Lima Waktu, Apa Maknanya?

Shalat Lima Waktu, Apa Maknanya?

Kita melaksanakan shalat dalam lima waktu sehari, tapi sudah pahamkah tentang apa itu shalat? Shalat adalah permohonan yang ditujukan kepada Tuhan yang terhormat, yang tanpanya seseorang tidak dapat benar-benar hidup, juga tidak dapat memperoleh sarana keamanan dan kebahagiaan. Ketika Allah swt memberikan kasih karunia ini kepada seseorang, hanya bahwa karena orang tersebut mendapatkan kenikmatan sejati.

Dari saat itu, dia akan mulai merasakan kesenangan dan kenikmatan dalam shalat. Sebagaimana ia mendapatkan kenikmatan dari makanan lezat, ia akan mulai memperoleh kesenangan dari menangis demi menangis di dalam shalat. Sebelum ia mengalami kondisi itu dalam shalat, ia harus berkanjang atau berkeras hati dalam melakukan shalat, seraya menelan obat pahit agar ia dapat pulih.

Baca Juga : Shalat, Kewajiban Atau Kebutuhan ?

Shalat Tekun, Karunia Turun

Demikian pula, ia harus sangat tekun dalam shalat lima waktu dan terus membuat permohonan seraya ia tidak memperoleh kesenangan darinya. Dalam kondisi seperti itu dia hendaknya mengupayakan kesenangan dan kenikmatan dalam shalat dengan permohonan:

“Allah! Engkau tahu betapa buta dan tak dapat melihatnya aku, dan pada saat ini aku seperti orang mati. Aku tahu bahwa dalam beberapa saat aku akan dipanggil dan akan tampil di hadapanMu dan tak seorang pun akan dapat menghentikanku. Tapi hatiku buta dan tidak tercerahkan. Apakah Engkau menyebabkan untuk turun ke atasnya seperti api cahaya sehingga dengan demikian dapat diilhami dengan kasih dan pengabdian kepada Engkau? Apakah Engkau melimpahkan ke atas diriku kasih karunia yang sedemikian rupa sehingga aku tidak akan dibangkitkan tanpa penglihatan atau bergabung dengan yang buta?”

Ketika dia mendukung dengan cara ini dan bersikeras dalam permohonan dia akan melihat bahwa waktunya akan tiba ketika sesuatu akan turun ke atas dirinya sementara dia terlibat dalam jenis doa yang akan melelehkan hatinya.

[Malfiuzat, jil. IV, HLM. 321-322]

والذين هم علٰى صلوٰ تهم يحافظون

“Dan orang orang yang menjaga shalatnya” (Q.S 23: 10)

Ini berarti orang-orang percaya. Mereka sendiri berjaga-jaga terhadap doa-doa yang mereka panjatkan didalam shalat lima waktu dan tidak membutuhkan pengingat apa pun dari siapa pun. Hubungan mereka dengan Allah memiliki kualitas bahwa mengingat Allah menjadi berharga bagi mereka, dan menjadi sumber penghiburan mereka dan kehidupan mereka sendiri, sehingga mereka terus-menerus memperhatikannya dan setiap saat dari mereka berbakti padaNya dan mereka tidak ingin berpisah dariNya kapan pun.

Adalah jelas bahwa seseorang sangat waspada setiap saat hanya tentang kehilangan yang dia anggap akan menyebabkan kehancurannya, seperti seorang penjelajah yang sedang melintasi padang belantara tanpa air, yang kemungkinan besar baru akan menemukan air atau makanan setelah ratusan mil, adalah yang paling waspada terhadap perbekalan yang dia miliki bersamanya.

Baca Juga : Shalat tepat waktu, dapatkan keutamaannya!

Menjaga Shalat Seperti Menjaga Kehidupan Kita

Memegang mereka seperti sayang hidupnya karena keyakinannya bahwa kehilangan mereka akan berarti kematiannya. Dengan demikian, orang-orang mukmin yang sejati tanggap terhadap doa-doa mereka demikian seperti sang penjelajah. Mereka tidak mengabaikan doa mereka bahkan dengan risiko kehilangan kekayaan atau kehormatan mereka, atau menimbulkan ketidaksenangan.

Ketakutan apa pun dari kehilangan doa mereka menyebabkan penderitaan yang besar dan membawa mereka mendekati kematian. Mereka tidak dapat membiarkan pikiran mereka menjadi lalai dari mengingat Allah untuk sesaat. Mereka menganggap doa dan mengingat akan Allah sebagai pemeliharaan penting mereka yang bergantung pada kehidupan mereka sendiri.

Kondisi ini dicapai ketika Allah Yang Mahakuasa mengasihi mereka dan suatu kemasyhuran terang akan kasih pribadi-Nya, yang adalah jiwa dari keberadaan mereka, turun ke atas hati mereka dan menganugerahkan kehidupan baru ke atas diri mereka. Dan dengan demikian makhluk rohani mereka diterangi dan menjadi hidup.

Dalam kondisi seperti itu mereka menyibukkan diri mereka dengan mengingat Allah, bukan karena rasa formalitas atau hasrat untuk penampilan, tetapi karena Allah menjadikan kehidupan rohani mereka, yang mereka anggap berharga dengan bergantung pada pemeliharaan yang disediakan oleh mengingat Nya, sebagaimana Dia telah membuat kehidupan jasmani manusia bergantung pada pemeliharaan jasmani.

Oleh karena itu mereka berutang pemeliharaan rohani ini lebih daripada pemeliharaan jasmani dan pemahaman akan kehilangannya. “Bagi orang-orang mukmin sejati, shalat dan kedekatan kepada Allah yang agung adalah nutrisi terpenting bagi kehidupan mereka”. Menjadi arti bahwa shalat lima waktu bukanlah sebuah kewajiban melaikan kebutuhan setiap umat Muslim.

Penulis: Tariq Ahmad

Baca Juga : MENYENANGI DAN MENCINTAI SHALAT

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.