Rasa Syukur Menentukan Kekayaan Seseorang

Rasa Syukur Menentukan Kekayaan Seseorang

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan ketika Tuhan engkau mengumumkan, “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak padamu; dan jika kamu tidak mensyukuri, sesungguhnya azab-Ku amat keras.” [1]

Di dalam ayat tersebut dijelaskan dengan tafsir bahwa syukr (syukur), dibagi menjadi 3 kondisi, yaitu:

  1. Syukur dengan hati atau pikiran, yaitu dengan sebuah pengertian yang tepat di dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya;
  2. Syukur dengan lidah, yaitu memuji, menyanjung, atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan;
  3. Syukur dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa tersebut.

Baca Juga :

5 Dasar Rasa Syukur

Masih mengacu kepada makna syukur, pada dasarnya syukur bertumpu kepada 5 dasar, sebagai berikut:

  1. Kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia, yang kepadanya syukur itu dinyatakan;
  2. Kecintaan terhadapnya;
  3. Pengakuan tentang jasa yang diberikan;
  4. Sanjungan terhadapnya untuk pemberian / jasa tersebut;
  5. Tidak mempergunakan jasa tersebut dengan cara yang si pemberi tidak akan menyukainya.

Hal di atas merupakan syukur dari pihak manusia. Sementara, syukur dari pihak Tuhan ialah dengan mengampuni seseorang, memuji, atau merasa puas terhadapnya. Selain itu, syukur dari pihak Tuhan adalah juga dengan berkemauan baik untuk orang tersebut, senang kepadanya, dan oleh karena hal tersebut diberikanlah imbalan atau ganjarannya. Seseorang hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Tuhan, bila kita mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat.[2]

Baca Juga :

2 Kondisi Yang Muncul Dari Rasa Syukur

Rasa syukur bagi manusia, bisa mendatangkan 2 kondisi yang berlainan. Syukur bisa membuat kita kaya, namun juga dapat memiskinkan. Bagaimana caranya?

Sesuai dengan firman Allah Taala dalam Surat Ibrahim ayat 7, dikatakan bahwa jika seseorang bersyukur, maka Allah subhaanahu wa ta’ala akan menambah dan melimpahkan banyak lagi rezeki dan karunia-Nya untuk kita.

Tetapi jika seseorang kufur nikmat atau tidak bersyukur, di akhir ayat tersebut disebutkan bahwa azab Allah subhaanahu wa ta’ala itu amat keras. Jangankan mendapat rezeki tambahan, justru azablah yang kita terima.

Jika demikian, di mana letak atau fungsi harta kekayaan yang kita miliki? Mengapa kaya atau miskin justru ditunjukkan dengan adanya rasa syukur, dan tidak dengan harta kekayaan?

Secara zahir, kebanyakan orang memang mengukur kaya atau miskin hanya dari harta, dari mewahnya bangunan yang ia miliki, mobil yang berjejer, atau bahkan terlihat dari pakaiannya yang branded. Namun, kebanyakan manusia lupa bahwa sejatinya kaya atau miskin ditentukan oleh dirinya sendiri, dan bukan dari harta yang melimpah.

Baca Juga :

Kekayaan Tidak Akan Bermakna Tanpa Rasa Syukur

Mari kita perhatikan orang-orang yang terjerat kasus korupsi, apakah mereka adalah orang-orang yang tidak berpunya atau tidak memiliki apapun? Tidak sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang memakai jas mewah, duduk di singgasana kelas atas dengan jenjang pendidikan yang tinggi. Rumah dan mobil mewah, bukan sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan telah menjadi sebuah koleksi pribadi.

Lalu, jika harta melimpah sudah mereka miliki, mengapa mereka masih melakukan korupsi seolah-olah mereka adalah orang-orang yang miskin, yang masih selalu membutuhkan uang. Mengapa mereka masih mengambil hak orang lain? Apakah tidak cukup harta yang mereka punya?

Inilah contoh konkret yang bisa kita ambil, bahwa harta bukanlah parameter kekayaan seseorang. Tentu saja, karena di dalam diri orang-orang tersebut tidak ada rasa syukur. Sehingga, walaupun secara nyata harta mereka melimpah, namun kekayaan tidak membuat mereka puas. Orang-orang tersebut masih saja merasa miskin.

Sementara itu, di belahan bumi yang berbeda, kita melihat orang-orang yang kurang beruntung. Jangankan memiliki mobil atau harta berlimpah, rumah untuk tinggal pun tidak ada, atau sangat sederhana bahkan tidak layak huni secara kasat mata. Namun demikian, tak sedikit dari mereka yang bahkan masih bisa berbagi kepada sesama. Tidak hanya itu, orang-orang tersebut juga menjalani kehidupan dengan sangat jujur.

Nah, sekarang kita dapatkan inti sari dari semuanya, bahwa kunci yang menentukan seseorang kaya atau miskin, adalah adanya rasa syukur dalam dirinya. Selama kita bersyukur, apapun yang Allah berikan adalah hal yang selalu mencukupi kebutuhan. Dengan rasa syukur, Allah Taala pun akan senantiasa menambah nikmat dan rezeki-Nya lagi dan lagi.

Sebaliknya, dengan tidak adanya rasa syukur dalam hati, maka sebanyak apapun kekayaan yang dimiliki, tidak akan pernah mencukupi. Selalu akan ada rasa tidak puas dan selalu ingin menambah hartanya. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita abdan syakuran, yaitu hamba yang selalu beryukur kepada-Nya dalam setiap kondisi dan situasi. Aamiin.


[1] QS. Ibrahim: 7

[2] Al-Qur’an Dengan Terjemahan Dan Tafsir Singkat, Yayasan Wisma Damai, Cet. 2006, Jil.II, Hal. 877

Baca Juga :

Share

One thought on “Rasa Syukur Menentukan Kekayaan Seseorang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *