Radikalisme Adalah Ajaran Islam?

Radikalisme Adalah Ajaran Islam?

Assalamu’alaikum sobat keren. Belakangan ini Islam terus menerus tercoreng namanya oleh sikap radikalisme dari individu atau kelompok yang mengatas namakan muslim. Bentuk radikalisme di Indonesia yang sering ditemukan antara lain sikap intoleransi yang membuahkan kekerasan baik secara fisik ataupun psikologis.

Sementara itu, Menurut hasil riset Direktur Setara Institute tahun 2018, dari 109 peristiwa intoleransi terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, ada lima provinsi menduduki peringkat teratas dengan jumlah kejadian pelanggaran.

Kelimanya adalah DKI Jakarta dengan 23 kasus, Jawa Barat dengan 19 kasus, Jawa Timur dengan 15 kasus, DI Yogyakarta dengan 9 kasus dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 7 kasus.

Baca Juga :

Radikalisme Penyebab Islamophobia

Namun ternyata, radikalisme yang dilakukan individu atau kelompok ini menghasilkan sebuah reaksi sikap yang diberi nama “Islamophobia”. Menurut Wikipedia Islamophobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim.

Di Eropa sendiri, Islamophobia meningkat setelah kejadian tragedi WTC di Amerika, bom bunuh diri di Inggris, bom Bunuh diri di Spanyol, dan pembunuhan terhadap sutradara Theo Van Gogh di Belanda. Selain itu ada juga pembunuhan politikus Belanda, Pim Fortuyn, oleh seorang Belanda keturunan Marokko. Baru-baru ini, penembakan brutal terhadap kaum muslim di New Zealand yang hendak melaksanakan shalat Jum’at memakan korban meninggal kurang lebih 50 orang.

Presiden Erdogan pun mengatakan bahwa kejadian pada tanggal 15 Maret 2019 tersebut didasari karna Islamophobia. Namun yang perlu disoroti adalah apakah betul bibit terbentuknya Islamophobia adalah radikalisme dari umat muslim?

Sebelumnya mari kita perhatikan definisi dari kata muslim itu sendiri, menurut Wikipedia muslim secara harfiah berarti “seseorang yang berserah diri kepada Allah”. Lalu kita soroti kata muslim dalam TQS. Ali Imran ayat 52:

قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia Nabi Isa a.s.) berkata kepada Isa: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.".

Baca Juga :

Islam, Ajaran Yang Membawa Perdamaian

Dari terjemahan ayat Al-Qur`an di atas dapat kita simpulkan makna seorang muslim adalah makhluk yang berserah diri kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Makna berserah diri disini bukan berarti hanya diam menunggu ketetapan Allah subhaanahu wa ta’ala, namun konteksnya adalah menjadi seorang muslim yang mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya untuk mengejar keridhoan Allah subhaanahu wa ta’ala.

  1. Menghargai agama orang lain.

Hal ini merupakan salah satu perintah Allah subhaanahu wa ta’ala yang wajib dijalankan oleh manusia. Sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al Kafiruun)

Kesimpulannya, Islam tidak pernah memerintahkan kepada kita untuk mekmaksakan sebuah keyakinan kepada orang lain. Namun, bukan berarti Islam juga membenarkan seluruh agama. Perihal pilihan terhadap suatu keyakinan adalah urusan pertanggung jawaban masing-masing orang kepada Allah subhaanahu wa ta’ala kelak.

  1. Mengedepankan damai.

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS Al Anfal : 61)

Ini membuktikan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala menyerukan kepada umat manusia untuk mengedepankan damai. Jika manusia mampu menunaikan perintah ini, maka hal tersebut merupakan bentuk tunduk kepada perintah Allah subhaanahu wa ta’ala dan bentuk ketaqwaan pada ajaran Islam.

  1. Menyampaikan ajaran Islam dengan baik

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.“ (QS An Nahl : 125)

Ayat ini menekankan kepada umat Islam untuk menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang baik, secara bahasa dan juga sikap. Dengan demikian, akan muncul sebuah kesadaran dari penerimanya. Jika sebuah ajaran disampaikan dengan cara yang salah, maka yang muncul pun adalah suatu keburukan.

Namun, jika kita menemukan perbedaan atau perdebatan, maka hendaklah pula dibantah dengan cara yang baik dan menggunakan sumber yang valid. Bahkan, bisa langsung mengambil sumber dari Al-Qur`an dan hadits.

Di atas hanyalah beberapa dari banyaknya perintah Allah subhaanahu wa ta’ala yang kadang dilupakan, dan sebenarnya harus manusia amalkan serta sebar luaskan. Jika kita perhatikan, dari ketiga point tersebut Islam mengajarkan tentang bagaimana menghargai orang lain agar terciptanya perdamaian.

Baca Juga :

Membenci Bukanlah Ajaran Islam

Islam tidak pernah mengajarkan hal yang dapat bermuara kepada terpecahnya umat manusia karena kebencian, lalu bagaimana dengan orang-orang yang bersikap melenceng dari apa yang Allah subhaanahu wa ta’ala sudah perintahkan?

Tandanya dia tidak mengimani Allah subhaanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ dengan mengabaikan perintah seperti pada point-point di atas. Dalam kandungan ayat berikut ini pun dijelaskan agar manusia terus beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدً
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (An Nisaa’:136).

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami, ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kami kembali.”

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *