Pandemi; Antara Pengingat dan Peringatan

Pandemi; Antara Pengingat dan Peringatan

Beberapa bulan lagi tahun bergulir memasuki 2022, dan kita masih mempunyai banyak pekerjaan rumah terkait pandemi, karena sejauh ini belum memperoleh penurunan kasus yang signifikan.

Vaksinasi, masker yang dinilai dapat melindungi, dan beberapa protokol kesehatan lain digemborkan sana-sini, tetapi semua itu baru akan memengaruhi jika didapat dan diterapkan semua lini dengan penuh kesadaran diri.

Kesadaran yang perlahan memupuk pemahaman, mungkin pandemi bukan sekadar pengingat, tetapi sekaligus peringatan sebuah perbuatan, bahwa Allah takkan membiarkan satu pun tindakan lewat tanpa teguran.

Baca Juga :

Pandemi Covid-19, (Bukan) Awal yang Mengawali

Virus corona jenis SARS-CoV-2 (Covid-19) bukan virus pertama yang menjadi pandemi. Mundur ke belakang, kita dapat melihat bagaimana virus ebola yang bersemayam dalam tubuh kera merenggut banyak nyawa manusia. Serupa dengan ebola, Covid-19 juga semula hinggap dalam tubuh hewan dan menyebar menjadi wabah karena perilaku manusia yang tidak higenis.

Pandemi yang meluluhlantakkan tatanan manusia ini pun melahirkan pandangan pesimistis tentang kehidupan masa depan yang tampak lebih suram. Tetapi di sisi lain, pandemi juga menggiring pandangan optimistis kemajuan teknologi terutama dalam bidang kesehatan. Sejauh ini, satu fakta konkret yang dapat kita pelajari dari pandemi, adalah, jangan mengabaikan kebersihan.

Meski bukan wabah awal, virus inilah yang membuat kita belajar untuk membuat kebiasaan baru, dengan lebih memerhatikan kebersihan, terutama bagian tangan, hidung, dan mulut. Sebagai seorang Muslim, kita beruntung karena bagian-bagian tersebut sering dibasuh ketika berwudhu.

Mengutip sebuah jurnal berjudul Urgensi Wudhu dan Relevansinya bagi Kesehatan, disebut bahwa wudhu dapat membersihkan berbagai kotoran, virus, dan bakteri yang berada di telinga, hidung, mulut dan gigi, serta dapat mempermudah regenerasi selaput lendir sehingga mencegah berbagai penyakit yang masuk melalui telinga, hidung, dan mulut.

Bahkan berkenaan dengan kebersihan mulut, Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

لَوْلاَ أنْ أشُقَّ عَلَى أُمَّتِي – أَوْ عَلَى النَّاسِ – لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Jika aku tidak menjadikan berat umatku, maka sungguh aku perintahkan bersiwak (menggosok gigi) setiap hendak shalat.” (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut, terlihat betapa Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut, salah satu organ yang menjadi jalur masuknya virus dan bakteri. Melalui pandemi, kita dibimbing, meski tidak ada yang dapat menjamin pandemi ini segera berakhir dan menjadi wabah terakhir, situasi ini seharusnya dapat mengakhiri kebiasaan buruk kita selama ini.

Baca Juga :

Agenda Kebersamaan dalam Keberagaman

Dalam beberapa waktu ke belakang, tagar donasi dan semangat saling menolong seperti “Teman Bantu Teman” atau “Warga Bantu Warga” kian merebak. Sama-sama berada dalam kesulitan mendorong kita untuk lebih bergerak.

Wabah, betapapun beratnya, telah menghadirkan agenda kebersamaan. Saling sambung, bahkan ketika terlihat saling berjauhan. Saling dukung, bahkan ketika terlihat saling mengalahkan.

Situasi ini selaras dengan salah satu makna yang terkandung dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 3, bahwa ketika asas tolong-menolong dilaksanakan, baik oleh perorangan atau bersama-sama, maka segala dendam-kesumat, kebencian, dan permusuhan antara satu sama lain akan lenyap-sirna.

Di sisi lain, virus covid-19 tidak pandang bulu dalam menjangkiti seseorang. Dia tidak memilih korban berdasarkan suku, ras, agama, warna kulit, atau bahkan usia. Dia tidak peduli itu semua. Selama seseorang memungkinkan untuk disinggahinya, virus ini tentu akan masuk ke dalamnya.

Barangkali, pandemi ini adalah cara Allah mengingatkan kita untuk memupuk rasa kemanusiaan tanpa melihat latar belakang. Selama seseorang membutuhkan bantuan, kita disadarkan untuk selalu mengulurkan tangan.

Baca Juga :

Evaluasi Diri dan Refleksi Toleransi

Lonjakan kasus covid-19 beberapa waktu lalu membuat tempat-tempat ibadah, termasuk masjid, ditutup sementara waktu. Keputusan ini menuai polemik, beberapa pihak keberatan dengan keputusan tersebut sekalipun dilakukan guna menghindari kerumunan dan demi kebaikan bersama.

Selain itu, keputusan tersebut diambil atas pertimbangan ibadah yang bisa dilakukan dimana saja. Namun, sebenarnya kita bisa memaknai peristiwa ini sebagai bahan evaluasi diri.

Ketika pintu mesjid lebar terbuka, apa kita turut memakmurkannya? ketika kesempatan masih ada, apa kita termasuk bagian dari jamaahnya?

Bahkan, barangkali ini sebuah ajang refleksi toleransi, dimana kita diminta untuk menghargai perubahan aturan dan senantiasa untuk taat terhadapnya. Di sisi lain, mungkin juga dalam situasi ini Allah tengah mengingatkan kita untuk berempati kepada mereka yang masih mendapat persekusi. Dan barangkali, Allah sedang memeringatkan kita agar berhenti menutup dan merusak tempat ibadah orang lain sesuka hati.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 26,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan takutilah fitnah yang tidak hanya menimpa khusus orang-orang yang aniaya saja di antaramu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Sejauh ini, pandemi telah memberikan dua pemahaman; hikmah yang harus diresapi, dan perbuatan yang harus segera dibenahi.

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *