Nasionalisme dalam Pandangan Islam

Nasionalisme dalam Pandangan Islam

Nasionalisme merupakan paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Disisi lain merupakan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan indentitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan suatu bangsa. Nasionalisme melahirkan spirit kebangsaan, sehingga timbul rasa mencintai dan mengabdi kepada tanah air. Mengingat kurang dari beberapa hari menuju Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-76, adanya baik bagi kita untuk memaknai kembali nasionalisme dalam perspektif kita sebagai Muslim.

Baca Juga :

Konsep Nasionalisme Islam

Agama Islam dengan indahnya telah menjelaskan konsep kewarganegaraan yang adil, dan menjadikan tanah air sebagai hal yang dijunjung tinggi. Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah memberi contoh yang luar biasa berkenaan dengan rasa kecintaan terhadap tanah air, hal ini dibuktikan saat beliau melakukan hijrah dari Makkah Al-Mukarramah ke Al-Madinah Al-Munawwarah. Saat itu beliau bersabda :

ما أطيبَكِ من بلدٍ وأحبَّكِ إليَّ، ولولا أنَّ قومي أخرجوني منكِ ما سَكَنتُ غيرَكِ
“Alangkah baiknya kau sebagai negeri (kota) dan betapa cintanya diriku terhadapmu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), niscaya aku tidak akan tinggal di kota selainmu.” (HR At-Tirmidzi)

Dalam hadits ini kita belajar mengenai bagaimana menanamkan rasa cinta dan syukur yang tulus atas tanah air. Oleh karena itu penting bagi setiap warga negara membangun relasi dengan tanah air dengan loyalitas dan kesetiaan yang murni.

Rasa cinta terhadap tanah air juga telah dijelaskan oleh Hz. Mirza Masroor Ahmad atba dalam kunjungan di Markas Besar Militer Koblenz, Jerman tahun 2012. Dalam kunjungan tersebut, Huzur atba menjelaskan bahwa :

“Nabi Muhammad s.a.w. sendiri mengajarkan bahwa cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman. Karenanya, patriotisme yang tulus adalah suatu keharusan dalam Islam. Kecintaan sejati kepada Tuhan dan kepada Islam, menyaratkan orang itu harus mencintai bangsanya sendiri. Jadi hal ini sangat jelas bahwa tidak ada pertentangan kepentingan kecintaan seseorang kepada Allah dan kecintaannya pada tanah airnya. Karena cinta tanah air telah menjadi bagian dari ajaran Islam, sudah jelas bahwa seorang muslim harus mencapai standar loyalitas tertinggi terhadap tanah airnya, karena hal tersebut adalah jalan untuk meraih Allah dan menjadi lebih dekat kepada-Nya. Dengan demikian, adalah tidak mungkin bahwa cinta seorang muslim sejati pada Tuhannya akan menjadi penghalang baginya untuk menunjukkan cinta dan kesetiaan pada tanah airnya.”

Baca Juga :

Islam Memandang Cinta tanah Air

Huzur atba menjelaskan dengan begitu rinci, bahwa tanah air merupakan bagian dari ajaran Islam sehingga setiap Muslim harus memiliki loyalitas dalam keadaan apapun kepada tanah air. Sehingga kecintaan sejati kepada Tuhan dan kepada Islam, menyaratkan orang itu harus mencintai bangsanya sendiri. Dengan demikian, adalah tidak mungkin bahwa cinta seorang muslim sejati pada Tuhannya akan menjadi penghalang baginya untuk menunjukkan cinta dan kesetiaan pada tanah airnya.

Dalam kunjungan tersebut selanjutnya Huzur atba menjelaskan pentingnya menjunjung tinggi loyalitas dalam Islam. Adapun ajaran lain yang diberikan oleh Al-Quran dalam kaitannya dengan loyalitas adalah manusia harus menjauhkan diri dari semua perbuatan keji, dan munkar dan segala bentuk pemberontakan. Mengingat Indonesia menjunjung tinggi nilai demokrasi, maka penyaluran aspirasi dapat dilakukan dengan mengikuti proses demokrasi yang tepat. Penyaluran aspirasi dengan cara yang destruktif, meski dilakukan atas dasar cinta namun akan menambah dampak negatif lainnya. Maka dari itu penting bagi setiap Muslim mengingat makna loyalitas yang baik.

Adapun di negara lain seperti Pakistan, Muslim Ahmadiyah harus dihadapkan dengan undang-undang anti Ahmadiyah. Kejadian tersebut menjadikan keimanan dan nasionalisme berlawanan satu sama lain, lantas bagaimana seharusnya cara yang baik menghadapi kejadian tersebut? Hal ini juga telah dijelaskan oleh huzur atba bahwa :

“Di sini saya harus jelaskan bahwa di mana keadaan ekstrim seperti itu terjadi, maka hukum dan loyalitas kepada bangsa, menjadi dua masalah terpisah. Kami, Muslim Ahmadi, percaya bahwa agama adalah masalah pribadi bagi setiap individu dan dirinya sendiri bebas untuk menentukan pilihan serta tidak boleh ada paksaan dalam hal keimanan.

Baca Juga :

Nasionalisme, Loyalitas Tanpa Batas

Dengan demikian, jika hukum diterapkan untuk mengganggu hak ini, tidak diragukan lagi, hal itu merupakan tindakan kekejaman dan penganiayaan besar. Meski di perlakukan secara kejam dan diskriminatif dalam semua aspek kehidupan, mereka terus menjaga hubungan yang penuh loyalitas dan kesetiaan sejati pada negaranya. Apapun bidang pekerjaan mereka atau dimana pun mereka berada, mereka terus membantu membangun untuk kemajuan dan keberhasilan negara”

Dalam hal ini huzur atba menekankan kembali bahwa loyalitas harus dijunjung tinggi. Kesetiaan sejati membutuhkan suatu hubungan yang dibangun berdasarkan ketulusan dan integritas. Oleh karena itu sangat penting bagi warga setiap warga negara membangun hubungan dengan tanah airnya dengan loyalitas dan kesetiaan yang murni dalam segala keadaan. Walaupun menjadi korban dan sasaran hukum, namun rasa nasionalisme tidak boleh surut. Kejadian atas apa yang dialami Muslim Ahmadiyah di Pakistan menggambarkan komitmen yang luar biasa kepada Tuhan, dan standar yang baik mengenai loyalitas.

Dengan memaknai nasionalisme dalam pandangan Islam, semoga kita mampu terus menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air dan mengekspresikannya melalui cara yang benar. Sebagai masyarakat dan seorang Muslim, perlu untuk memaknai loyalitas terhadap tanah air yang baik dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam Semoga kita terus saling menjaga satu sama lain, dan ikut serta dalam kemajuan bangsa.

Sumber :
https://ahmadiyah.id/khilafat/masroor-ahmad/cinta-tanah-air-menurut-ajaran-islam
https://kbbi.kemdikbud.go.id/
https://republika.co.id/berita/cinta-tanah-air-sunnah-rasullah-saw-yang-utama
https://www.kompasiana.com/fikriarly/5f337d77d541df62853c2d03/cinta-tanah-air-dalam-perspektif-islam

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.