Nasihat Khalifah Islam tentang Doa dalam Menghadapi Kesulitan

Nasihat Khalifah Islam tentang Doa dalam Menghadapi Kesulitan

Saat pandemi COVID-19 hadir dalam kehidupan dunia, mungkinkah kesulitan itu menunjukkan bahwa sebelumnya terjadi kekeringan rohani yang panjang? Karenanya, Allah Ta’ala menurunkan air rohani dari langit untuk menghidupkan kembali rohani manusia yang tadinya kering gersang?

Wabah covid-19 yang melanda dunia, telah membawa dampak serius pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Mulai dari persoalan ekonomi, sosial, politik, hingga ketenagakerjaan. Di Indonesia, pandemi telah “memaksa” pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus berupa himbauan penghentian sementara aktivitas-aktivitas yang menimbulkan kerumunan, seperti aktivitas belajar di sekolah, bekerja di kantor, kegiatan di ruang umum, hingga keagamaan di rumah ibadah.

Baca Juga :

Kesulitan Tak Membuat Seorang Muslim Menjauh Dari Allah

Lalu, sikap terbaik apa yang harus dipilih oleh seorang muslim jika mendapatkan kesulitan dengan banyak nya aktivitas yang dihentikan? Apalagi, setiap aktivitas belajar dan bekerja juga merupakan ibadah. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ، وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً، وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian/cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 35).

Khalifah Ahmadiyah memberikan arahan-arahan kepada para jamaah muslim Ahmadi yang tersebar di seluruh dunia dalam menghadapi pandemi covid 19 ini.Salah satu arahan beliau adalah, agar setiap muslim Ahmadi memperbaiki diri dan menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apa yang dimaksud dengan mendekatkan diri kepada Allah? Apakah hanya semata-mata dengan memperbanyak ritual ibadah?

Terkait hal ini, dijelaskan bahwa siapapun yang tulus mendekat kepada Allah Ta’ala, maka ia akan menjadi orang yang memiliki bagian dari karunia-karunia-Nya. Allah Ta’ala telah menciptakan sarana-sarana kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang berupaya untuk meraih keridhaan-Nya. Demi pengabulan doa-doa hamba-Nya, Dia telah mengubah semua kejauhan itu menjadi kedekatan-kedekatan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, mendekatkan diri kepada Allah juga akan menjadi salah satu upaya untuk memperoleh karunia dan berkat pengabulan doa. Sebagaimana fiman Allah Ta’ala yang sudah disampaikan di awal bahwa, “Aku dekat dengan mereka dan kapan saja hamba-hamba-Nya menyeru kepada-Ku, maka Aku menjawabnya”.

Hadhrat Imam Mahdi bersabda, “Orang-orang yang merupakan pengumpul dari dua perkara itu. Yakni haququllah dan haququl’ibad, mereka itulah yang dikatakan muttaqi (orang yang bertakwa).”

Berkenaan dengan itu, dapat dikatakan bahwa pencarian Allah Taala, atau upaya mendekatkan diri kepada Allah, belum akan terlaksana hanya dengan beribadah kepada Allah saja. Mengucapkan labbaik atas seruan Allah Ta’ala, mengandung makna bahwa kita juga harus menunaikan hak-hak sesama.

Baca Juga :

Pereda Kesulitan : Menerapkan Haququllah dan Haququl ibaad

Tidak lah dikatakan muttaqi jika seseorang hanya menunaikan sebagian hak Allah saja tanpa mengindahkan hak kepada sesama. Jadi, agar doa dapat dikabulkan dan untuk meraih kedekatan Allah Ta’ala, maka kita perlu meraih standar taqwa, yaitu menunaikan hak Allah sekaligus hak sesama makhluk.

Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak penurunan kestabilan ekonomi dunia akibat pandemi covid-19. Tidak terbayangkan bagi orang-orang yang terkena PHK atau kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya. Banyak saudara kita berada dalam kondisi tersulit, bahkan untuk makan sehari-hari. Apalagi, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi aktivitas.

Di sisi lain tuntutan untuk menjaga kesehatan agar terlindungi dari sebaran virus juga membutuhkan biaya yang banyak. Contohnya, kebutuhan membeli makanan sehat, vitamin, masker, dan masih banyak lagi. Hanya dengan rasa syukur dan tawakal yang tinggi, seseorang dapat tetap tekun dan berteguh hati dalam doa dan ikhtiar.

Menerapkan pentingnya memenuhi hak sesama, maka tengoklah saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Meskipun mungkin kita tidak bisa membantu dalam bentuk materi, setidaknya kita menjadikan diri ini kurir harta Allah, dengan menginformasikan kondisi mereka kepada lembaga atau badan sosial yang ada.

Baca Juga :

Hakikat Permohonan Melalui Doa

Mengutip dari buku Inti Ajaran Islam halaman 183, bahwa berdoa itu sama seperti petani yang menebar benih. Ia menyesapkan benih yang bagus ke dalam tanah, namun taka da yang bisa memperkirakan apakah benih itu akan tumbuh baik dan memberikan hasil.

Orang luar dan si penanam itu sendiri tidak bisa melihat bagaimana benih itu di dalam tanah mengambil bentuk sebagai tanaman. Realitasnya dalam waktu beberapa hari, benih itu berubah dan mengambil bentuk sebagai tanaman yang tunasnya menyembul ke permukaan tanah dan terlihat oleh siapapun.

Sejak saat ditanam sebenarnya benih itu telah mengadakan persiapan untuk menjadi tanaman, namun mata kita yang hanya bisa melihat suatu yang kasat mata tidak menyadarinya sampai kecambah benih muncul di atas permukaan tanah.

Sesungguhnya terdapat keterkaitan di antara doa dan pengabulannya sejak awal manusia diciptakan. Ketika Allah swt bermaksud melakukan suatu hal, maka sudah menjadi cara-Nya bahwa akan ada hamba Allah yang saleh yang menyibukkan dirinya dengan berdoa dalam keresahan dan kegalauan, serta membaktikan seluruh perhatian dan niatnya bagi pencapaian tujuan tersebut.

Berdasar doanya itu, manusia menarik karunia rahmat Ilahi dari surga dan Tuhan akan menciptakan sarana-sarana baru guna pencapaian tujuan dimaksud. Meskipun doa bersangkutan diajukan oleh manusia, sebenarnya ia telah larut dalam Tuhan-nya. Demikianlah bentuk doa di mana manusia bisa mengakui Tuhan-nya, sehingga eksistensi-Nya yang terselubung seribu tirai sekarang menjadi bisa dikenali.

Baca Juga :

Kapan Waktunya Harus Berdoa?

Pernahkah kalian berpikir, bahwa kita sudah berupaya menjadi orang yang menunaikan salat lima waktu, akan tetapi masih ada doa yang belum terkabul? Kita tidak memahami bagaimana kemudian bisa memohon kepada Allah Ta’ala untuk pengabulan doa-doa.

Mengutip dari Pidato Sialkot; Ruhani Khazain, Jld. 20, Halaman 222, Hadhrat Imam Mahdi as mengingatkan kepada kita bahwa janganlah beranggapan setiap hari berdoa dan semua salat itu adalah doa yang kita baca. Sebab doa tercipta dalam kondisi yang berbeda satu sama lain.

Doa merupakan sesuatu yang mem-fana-kan atau meleburkan, dan merupakan api yang melunakkan. Kita harus yakin bahwa doa adalah rahmat yang menarik satu daya tarik magnet, maut yang kemudian pada akhirnya dapat menghidupkan, ombak dahsyat yang pada akhirnya menjadi sebuah bahtera.

Sejalan dengan sabda tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa doa datang dari Allah Ta’ala dan pergi kepada Allah Ta’ala. Dengan doa, Allah Ta’ala sedemikian rupa menjadi dekat. Sebagaimana halnya jiwamu dekat denganmu. Nikmat pertama doa adalah, di dalam diri manusia akan timbul perubahan suci.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan makrifat kepada kita, sehingga dapat memahami hakikat doa dan bisa mengerti falsafah memperoleh kedekatan Allah Ta’ala. Penuh harap setiap amal dan perbuatan kita meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Jadi, inilah api yang sebaiknya menyala di dalam kalbu, sebagai cara untuk menghadapi pandemi ini. Curahkan kepedihan, kesedihan, kesulitan, serta ketakutan kita dalam bentuk doa-doa. Dalam hal mana, kita menarik kasih sayang Allah dan mendekatkan diri kepada-Na, untuk meraih pengabulan doa-doa kita.

Referensi:

  1. Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 238-239, London, 1984
  2. Pidato Sialkot; Ruhani Khazain, Jld. 20

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *