25 10 min 4 mths

Meningkatkan Kualitas Hidup Dengan Mengingat Kematian

Islamku Keren

April 9, 2021

Setiap hari, banyak sekali hal-hal remeh terjadi dan seringkali kita permasalahkan, contohnya: marah-marah karena makanan yang dipesan salah, murung karena orang yang kita harapkan tidak juga meinggalkan komentar di postingan kita di medsos, patah hati berlarut-larut karena putus dengan pasangan, atau pusing memikirkan jodoh yang tak kunjung tiba. Setiap hari juga, saya berpikir betapa hal-hal remeh tersebut sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan. Ada hal yang lebih kekal dari itu yang sedang saya pikirkan.

Sejak Kakek saya meninggal, saya sering berpikir mengenai hari kematian. Tenang, tidak perlu kaget meski bahasan tentang kematian ini terdengar begitu menakutkan buat kita. Pada awalnya, saya pun takut. Memikirkan kematian membuat saya berpikir tentang kemungkinan kehilangan orang-orang yang saya cintai, ataupun sebaliknya; kemungkinan saya meninggalkan mereka lebih dulu. Bagaimanapun, menghadapi kehilangan pastilah tidak mudah, akan selalu dibarengi dengan rasa kehilangan.

Pada  saat   Kakek  saya   meninggal,  saya   pelan-pelan  memahami bahwa sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepada kita, Dia juga yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu yang di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan. Kita tidak memiliki apa pun yang ada di dunia ini. Jadi,  dengan kesadaran tersebut,  saya  mencoba mengatasi  rasa kehilangan akibat kematian.

Kesadaran bahwa kita tidak memiliki apa pun di dunia ini juga lah yang membuat saya berpikir tentang sesuatu yang lebih kekal tadi, yaitu kematian.

Memikirkan kematian membuat saya sering membayangkan: jika hari ini adalah hari terakhir saya hidup, apa yang akan saya lakukan? Berapa banyak waktu yang sudah saya buang sia-sia melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat? Apakah saya sudah siap? Apakah keluarga dan teman-teman saya akan menangis dengan kepergian saya? Dan banyak lagi hal lain yang membuat saya jadi gentar menghadapi kematian.

Akan tetapi, jika kita memikirkan kematian dengan cara yang lebih positif, ternyata memikirkan kematian justru memiliki banyak manfaat. Alih-alih menyia-nyiakan, berpikir tentang hari kematian bisa membantu mendorong kita menggunakan waktu yang kita punya sekarang sebaik mungkin; tidak ada lagi keinginan untuk mengurusi hal-hal remeh secara berlebihan. Memikirkan kematian membuat saya lebih memikirkan kebaikan-kebaikan dan hal-hal positif dalam hidup, dan berperilaku berdasarkan pikiran-pikiran baik tersebut.

Mengingat kematian saat ini, membuat saya banyak melakukan refleksi diri. Apa yang keluarga dan teman-teman akan kenang tentang saya di hari kematian saya nanti? Apakah saya  sudah cukup membanggakan  mereka? Apakah saya  sudah cukup menyayangi mereka dengan baik? Apa yang sudah saya lakukan untuk hidup saya sendiri? Apakah sudah cukup kebaikan yang saya kumpulkan selama hidup di dunia ini ataukah masih kurang?

Sesungguhnya,  jika kita membuka mata,  sudah terlalu  banyak cara Allah SWT mengingatkan kita semua tentang kematian melalui banyak sekali kejadian akhir- akhir ini; bencana alam, kecelakaan transportasi, dan lain-lain. Kita juga sering mendengar kabar tentang orang yang hari ini sehat wal afiat, besoknya sudah tiada. Kita tidak pernah tahu berapa lama kita akan menghabiskan  waktu di dunia ini, sebelum akhirnya kembali kepada Sang Pencipta, karena kematian tidak mengenal usia, tua, muda, pria, wanita, anak-anak, remaja atau orang tua, kaya atau miskin, pejabat atau orang biasa, terkenal atau tidak. Semuanya sama di hadapan kematian yang bisa datang kapan saja.

Kesadaran itulah yang membuat saya berusaha terus menghargai setiap detik dalam hidup dengan banyak melakukan refleksi diri.

Setiap kali bertatap muka dengan orang-orang yang saya cintai, saya membayangkan bahwa itulah tatapan terakhir saya untuk mereka. Karena itu, di setiap kesempatan saya selalu berusaha menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada mereka, tidak segan menolong mereka sesuai kemampuan, dan tidak menunda-nunda hal yang harus dilakukan untuk mereka.

Selain itu, mengingat kematian juga membuat saya semakin optimis dan semangat untuk menabung lebih banyak pengalaman berharga dalam hidup saya sendiri. Karena ketika ajal menjemput nanti, saya ingin meninggalkan kenangan-kenangan baik buat orang yang saya cintai.

Begitu banyak dampak positif yang saya rasakan dari mengingat kematian. Saya pun semakin yakin ketika mengetahui bahwa dalam Islam, kita memang dianjurkan untuk selalu mempersiapkan dan mengingat kematian.

Terdapat sekurang-kurangnya 15 ayat dalam kitab suci Al Qur’an yang membahas mengenai kematian. Di antaranya surat Ali Imran:185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu  tidak  lain  hanyalah  kesenangan yang memperdayakan.”

Ternyata, hidup di dunia ini memang hanya sementara, seperti firman Allah STW dalam surat Ar-Rahman: 26, ”Seluruh yang ada di atas dunia ini fana (tidak kekal).” Hidup ini adalah bagian dari perjalanan menuju akhirat. Hari itu akan tiba, hari ketika kita berpisah dengan dunia ini dan meninggalkan semua hal yang kita cintai.

Di surat lain, yaitu Al-Anbiya:35, Alloh SWT berfirman: ”Setiapyangberjiwapastiakan merasakan mati, dan kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satufitnah(ujian),danhanyakepadaKamilahkalianakankembali.”

Lalu di surat Al-A’raaf:34 Allah SWT berfirman, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barangsesaatpundantidakdapat(pula)memajukannya.”

Selain ayat Al-Qur’an ada banyak hadits juga yang membahas kematian, di antaranya Riwayat Ibnu Dunya, dari Anas dengan Sanad Dhaif: “Perbanyaklah ingat kematian, karenamengingatkematiandapatmenyucikandosadanmembentuksikapzuhuddi dunia. Bila kamu semua mengingatnya dalam keadaan kaya maka dapat menghilangkannya, dan  bila kamu mengingatnya ketika kafir maka dapat merelakan kehidupanmu.”

Secara Islam, mengingat kematian ternyata memiliki nilai pahala, karena mengingat kematian  merupakan ibadah dan dianjurkan  oleh Rasulullah. Dengan banyak mengingat-ingat kematian kita akan menjadi orang yang senantiasa bertaubat, takut berbuat dosa, dan menyesali kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Semoga kebiasaan mengingat kematian kita menjadi amal saleh yang akan diganjar pahala oleh Allah SWT di hari nanti, ya.

Mengingat  kematian secara Islam  juga  menjauhkan  kita dari perbuatan zalim. Karena dengan mengingat kematian, kita akan mengingat bahwa akan ada hari ketika kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita di akhirat kelak.

Seperti yang sudah saya bahas di atas, mengingat kematian membuat saya tidak lagi  mengurusi hal-hal  remeh  duniawi.   Ternyata   sesuai  dengan  sabda Rasulullah, “Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian), karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasalapangdanjikaseseorangmengingatnyasaatkehidupannyalapang,makaia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).”(HR. Al Baihaqi). Ucapan Rasulullah SAW tersebut mengandung makna yang sangat dalam buat saya, bahwa apa pun nikmat yang kita peroleh di dunia ini adalah fana. Karena yang kekal hanyalah ibadah.

Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlahkematiandalamsalatmukarenajikaseseorang mengingat mati dalam salatnya, maka ia akan memperbagus salatnya. Salatlah seperti salat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukansalatyanglainnya.Hati-hatilahdenganperkarayangkelakmalahengkau memintaudzur(meralatnya)(karenatidakbisamemenuhinya).”(HR. Ad Dailami)

Namun, sering memikirkan kematian tidak lantas membuat saya siap menghadapi akhirat. Tidak jarang saya ragu, apakah saya sudah pantas menghadapi kehidupan akhirat?

Kita semua pasti menginginkan kematian yang baik (husnul khatimah), terlepas dari siksa kubur dan dibangkitkan dalam keadaan yang baik. Setiap saat saya berdoa, semoga dengan banyak mengingat kematian dan peristiwa yang akan dilalui setelah kematian, akan menjadikan saya  selalu berusaha memantaskan  dan mempersiapkan diri sebelum menghadapi akhirat.

“Dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari (akhirat).”(Al-Hasyr:18)

Takdir Allah SWT itu  tepat  waktu dan tidak pernah meleset. Ajal tidak bisa ditangguhkan. Saya membayangkan, betapa ruginya saya ketika berjalan menuju alam baka, kembali tanpa membawa bekal. Saya berharap, semoga saya tidak termasuk orang yang tidak beruntung tersebut. Semoga ketika saatnya tiba, bekal untuk kematian berupa amal saleh selama saya hidup di dunia ini telah siap.

Apakah kamu pernah membayangkan  hari kematianmu? Kita  semua pastinya berharap hari ketika sakaratul maut mendatangi kita adalah hari yang baik. Ada ibu yang melahirkanmu di sampingmu, ada ayah yang merawat dan bekerja untukmu di hadapanmu, dan ada keluarga yang kamu cintai melihatmu dengan pandangan kasih sayang. Mereka semua berusaha mengikhlaskanmu, begitu pun kamu sebaliknya.

Membicarakan kematian mungkin masih merupakan hal yang tabu bagi sebagian orang. Akan tetapi, kita tidak bisa mengelak bahwa kematian adalah hal yang pasti. Entah giliranmu esok, lusa, atau sepuluh tahun yang akan datang, tetapi ia pasti tiba tepat pada waktuknya. Hanya Allah SWT yang memegang rahasia itu.

Lalu apa saja  yang  sebaiknya  kita  persiapkan sebelum hari kematian  tiba? Menghargai kehidupan yang  kita  punya  saat  ini adalah satu-satunya  jalan. Mengisinya dengan kebaikan, manfaat, dan pahala untuk bekal akhirat. Tak perlu lagi mempermasalahkan hal-hal remeh yang  kadang datang  atau  hinggap dalam kehidupan kita.

Jangan lupa juga untuk meraih anugerah bahagia dari Allah SWT dengan menebar cinta dan kasih sayang kepada sesama. Meninggalkan hati yang buruk dengan tidak menyimpan dendam dan dengki, serta melapangkan hati dengan memaafkan orang lain. Serta senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT.

Karena, seperti yang sudah saya bahas di atas, kita tidak memiliki apa pun di dunia ini. Maka pada saat kematian, apa pun yang kita miliki tidak akan bisa kita bawa. Hanya amal ibadah yang akan menyelamatkan kita di akhirat, serta jasa-jasa, pemikiran yang bermanfaat, dan kebaikan-kebaikan yang telah kita berikan untuk orang lainlah yang akan selalu dikenang.

Saya selalu terinspirasi oleh siapa saja yang menghargai, memilih, memperjuangkan dan merayakan hidup, sekaligus tidak lupa kalau suatu saat kita bakal berhenti, bakal mati. Jadi, jangan takut mengingat  kematian.  Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang bisa menunaikan hidup di dunia ini dengan lebih berarti.

Penulis : Lutfi Sagita


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

25 thoughts on “Meningkatkan Kualitas Hidup Dengan Mengingat Kematian

  1. Terharu pembahasannya sangat menyentuh 🙁 jadi lebih mengingat pada tujuan kita yang sesungguhnya yaitu kematian.

  2. keren dan sangat inspiratif dan membuat diri menjadi terketuk akan pentingnya mengingat kematian. terima kasih atas artikelnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *