0 5 min 1 yr

MENGINTIP CARA I’TIKAFNYA RASULULLAH SAW

Islam Keren

May 22, 2020

Assalamu’alaikum sobat keren,

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya banyak keberkahan dan ampunan dari Allah Ta’ala. Setiap orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan Ihtisaban maka Allah Ta’ala sendirilah yang akan menjadi pahalanya/ganjarannya. Di penghujung sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan ada suatu amalan ibadah khusus yang selalu menarik perhatian dan konsentrasi umat Islam di seluruh dunia, yang senantiasa dinanti-nanti oleh jutaan umat Islam yang sedang berpuasa, yakni I’tikaf. Inilah ibadah khusus yang menjadi amalan melekat yang mulia Rasulullah saw sampai menjelang akhir hayat beliau saw. Sebagai umat dan juga pengikut sejati beliau saw tentunya kita juga senantiasa mengikuti contoh dan mengamalkan apa yang sudah menjadi sunnah/kebiasaan dari yang mulia Rasulullah saw, meskipun secara hukum memang tidak wajib tetapi bagi yang memperoleh karunia dan memiliki iradah untuk melaksanakan I’tikaf, maka hendaknya mesti sesuai dengan yang dicontohkan oleh yang mulia Rasulullah saw. Karena amalan-amalan beliau saw adalah merupakan gambaran dari Al-Qur’anul Karim, tentunya hal tersebut akan sejalan dengan petikan Firman Allah Ta’ala berikut ini:

Artinya: “Dan Janganlah kamu bercampur dengan mereka ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam Masjid-masjid.” (Q.S. Albaqarah: 187).

I’tikaf sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Arab yakni : ‘Akafa yang artinya mendiami, mengasingkan/mengurung diri, sementara secara Harfiah adalah berdiam diri atau kegiatan menetap di dalam Masjid yang dilakukan oleh sebagian orang yang sedang berpuasa agar fokus dan khusyu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Disebabkan ibadah I’tikaf ini sangat erat sekali hubungannya dengan bulan suci Ramadhan dan tidak bisa terpisahkan satu sama lainnya, walaupun I’tikaf itu sendiri bisa dilaksanakan di luar bulan suci Ramadhan. Maka oleh karena itu pula kita akan mengintip bagaimana contoh ataupun cara Yang Mulia Rasulullah saw dalam melaksanakan  I’tikaf di bulan Suci Ramadhan tersebut, yuk kita intip dari berbagai sumber mata air ruhani yang bisa kita nikmati sebagai menu hidangan santapan ruhani kita semuanya, diantaranya sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi saw, berkata: bahwa Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Suci Ramadhan hingga wafatnya, kemudian Istri-istri beliau saw beri’tikaf setelah kewafatan beliau. (Hadits Bukhari, Nomor Hadits 1886)

Artinya“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami  Laits dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dan ‘Amrah bin Abdurrahman, bahwa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Nabi saw, berkata:”Sungguh Nabi saw pernah menjulurkan kepala beliau kepadaku ketika sedang berada dalam masjid lalu aku menyisir rambut beliau. Dan beliau tidaklah masuk ke rumah kecuali ada keperluan(buang hajat) apabila beliau sedang beri’tikaf. (Hadits Bukhari, Nomor Hadits 1889)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata:”Jika tiba sepuluh hari yang terakhir bulan Suci Ramadhan, beliau sibuk menghidupkan malam hari untuk fokus beribadah. beliau membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh beribadah serta mengencangkan kainnya. (Hadits Muslim, Nomer 3/176)

Dari beberapa riwayat di atas secara sederhana kita bisa menarik dan memetik hikmah contoh amalan I’tikaf yang biasa dilaksanakan oleh yang Mulia Rasulullah saw. Yang point intinya adalah: “I’tikaf harus dilaksanakan di Masjid, (kecuali dalam masa Pandemi Covid 19 saat ini I’tikaf bisa dilaksanakan dirumah, ini hanya untuk dalam kondisi darurat saja, dalam kondisi normal harus dilaksanakan di Masjid sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw), orang yang beri’tikaf harus dalam keadaan sedang berpuasa dan memusatkan perhatian sepenuhnya untuk fokus beribadah kepada Allah Ta’ala dengan khusyu. Jadi sesuai dengan maknanya juga adalah orang yang sedang melaksanakan I’tikaf  secara sadar mengetahui bahwa kita sedang memusatkan perhatiannya kepada Allah, sedang bertafakur dan bermuhasabah/mendekatkan diri kepada Allah, harus membasahi mulut kita dengan banyak berdzikir dan membaca kalamullah (Al-Qur’anul Karim) dengan mendalami arti dan tafsinya, meningkatkan/menyibukan diri kita dengan ibadah-ibadah Fardhu dan Nafal (Tahajud, Sholat Dhuha, Hajat dll), Muthalaah buku keIslaman dll. Maka segala yang menjadi urusan-urusan duniawi seperti chatting, bermedsos, Whatsapp, pekerjaan duniawi lainnya betul-betul untuk sementara harus kita putuskan dan ditingggalkan dulu dalam kehidupan kita, semata-mata demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Agar kita semua mendapatkan makna hakiki dari pada I’tikaf tersebut. Kalau tidak maka i’tikaf yang kita laksanakan juga tidak akan mendapatkan keberkahan apa-apa.

By : Sarmad Ahmad Supriatna

[DISPLAY_ULTIMATE_PLUS]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *