Mengapa Pengabulan Doa Kita Tertunda?

Mengapa Pengabulan Doa Kita Tertunda?

Sobat keren, Pernahkah terlintas dalam dalam hati, Mengapa Pengabulan doa kita tertunda? Ini adalah pertanyaan yang lumrah saat kegundahan kita memuncak akibat belum nampaknya “hilal” terkabulnya doa. Padahal, seorang pemohon merasa telah mengajukan permohonan doanya dengan hasrat dan kepiluan hati. Apakah yang menjadi penyebabnya?

Untuk menjawab ini, dalam buku Inti Ajaran Islam Jilid II ada 3 hal menurut Hd. Masih Mau’ud  as yang menyebabkan ditundanya doa :

  1. Segala sesuatu memiliki tahapan;
  2. Agar kita lebih teguh dan sabar dalam berdoa;
  3. dikabulkan dalam bentuk lain yang dianggap terbaik menurut Allah.

Baca Juga :

Pengabulan Doa : Segala Sesuatu Memiliki Tahapan

Pada zaman sekarang, segala hal menjadi serba cepat. Gaya hidup seperti ini di satu sisi dapat meningkatkan produktivitas, tapi pada saat yang sama juga mengurangi kesabaran dan mengarah pada keegoisan. Termasuk dalam hal berdoa, kadang-kadang kita cenderung berdoa kepada Allah dengan tidak sabaran.

Menginginkan apa pun kepada-Nya tanpa sabar. Bahkan menjadi frustrasi jika Allah tidak menjawab doa-doa kita. Padahal sudah jelas bahwa doa akan selalu dijawab, asalkan dibuat dengan kesungguhan, kesabaran, dan keimanan.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

Dan Tuhan-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku ; Aku akan mengabulkan bagi kamu. [Ghafir : 60]

Allah SWT tidak pernah menolak permohonan doa hamba-Nya, karena hal itu bertentangan dengan salah sifat Allah SWT yaitu Al Mujib.

Memang, dalam berdoa pengabulan dari doa tersebut bukanlah seperti kisah Aladin dan lampu wasiatnya, yang saat ada permintaan dengan ajaib terkabul seketika. Merupakan ketetapan dari Allah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki tahapan.

Seperti hal nya kita menanam sebuah pohon, ada tahapan dari benih yang kita tanam sampai menjadi sebuah pohon. Selain itu, tentu saja membutuhkan pupuk dan media tanah yang bagus agar pohon tadi menjadi baik.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

Berkaitan dengan hal ini perlu diingat bahwa selalu ada jenjang pertahapan dalam masalah-masalah di dunia. Berapa banyaknya tahapan yang dilalui seorang anak sebelum menjadi seorang dewasa penuh? Berapa lamanya waktu yang diperlukan sebutir benih sampai menjadi sebuah pohon? Begitu pula halnya dengan masalah-masalah samawi yang juga berlangsung secara bertahap. [Inti Ajaran Islam II]

Selain itu, doa juga membutuhkan kesabaran.

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ 

“Berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah: 155]

Terkait hal ini Hadhrat Masih mau’ud as. bersabda:

“Tuhan tidak ada menyatakan bahwa kabar suka akan diberikan kepada para pemohon doa, melainkan kepada mereka yang bersabar. Karena itu janganlah berkecil hati jika menghadapi kegagalan dalam doa, melainkan belajar menerimakan kehendak Allah SWT dengan keteguhan hati dan kesabaran.” [Malfuzat, vol. III, hal. 385-386]

Permohonan seorang hamba pasti akan dikabulkan selama dia tidak memohon untuk hal yang berdosa atau untuk sesuatu yang akan memutus hubungan kekeluargaan dan dia mampu bersabar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَـا مُـسْلِمٍ يَدْعُـو بِدَعْـوَةٍ لَيْسَ فِيـهَا إِثْـمٌ وَلَا قَطِيـعَةُ رَحِـمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَـا إِحْـدَى ثَـلَاثٍ، إِمَّـا أَنْ تُعَـجَّلَ لَـهُ دَعْـوَتُهُ، وَإِمَّـا أَنْ يَدَّخِـرَهَا لَـهُ فِي الْآخِـرَةِ، وَإِمَّـا أَنْ يَصْـرِفَ عَـنْهُ مِنْ السُّـوءِ مِـثْلَهَا. قَالُـوا : إِذًا نُكْـثِرُ ؟ قَـالَ : اللَّهُ أَكْـثَرُ

“Tiada seorang muslim pun yang memohon (kepada Allah Ta’ala) dengan doa yang tidak mengandung dosa (permintaan yang haram), atau pemutusan hubungan (baik) dengan kerabat, kecuali Allah akan memberikan baginya dengan (sebab) doa itu salah satu dari tiga perkara:

  1. Boleh jadi akan disegerakan pengabulan doanya,
  2. Atau allah akan menyimpannya untuk kebaikan (pahala) baginya di akhirat,
  3. Atau akan dihidarkan darinya keburukan (bencana) yang sesuai dengannya.”

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata: Kalau begitu, kami akan memperbanyak (doa kepada Allah). Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah lebih banyak (rahmat dan karunia-Nya).” [ Ahmad [ 3/18 ], Bukhari no. 710 ]

Agar doa dikabulkan oleh Allah SWT dalam Kitab Barahin Ahmadiyah, Hadhrat Masih Mau’ud as menyebutkan Ada 3 syarat yang harus dilakukan. Yaitu :

  1. Seorang pemohon doa haruslah seorang yang bertakwa penuh, yang menjadikan jalan ketakwaan sebagai kebiasaan hidupnya.
  2. Keteguhan hati dan perhatiannya (terhadap mahluk lain) demikian kuat.
  3. Mengajukan permohonan doanya dengan segala kerendahan hati, keyakinan penuh, kepastian, niat baik dan penyerahan diri.

Seorang cendikiawan muslim yang terkenal Ibnu Qayyim juga pernah mengatakan mengenai doa,

“Doa itu ibarat panah yang dilesatkan ke langit. Tapi untuk mencapai ke langit ia memerlukan waktu”

Baca Juga :

Pengabulan Doa Tertunda Agar Kita Lebih Teguh Dan Sabar

Setiap ketetapan yang Allah berikan kepada hamba-Nya pasti memiliki hikmah. Begitu juga dengan tertundanya doa, pasti memiliki hikmah yang apabila direnungkan, kita akan mendapat jawaban darinya. Salah satu hikmah tertundanya doa kita adalah agar kita lebih teguh dan sabar dalam berdoa.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ 

Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. [ Al Baqarah : 153 ]

Kesabaran dan kesungguhan adalah tema yang berulang dalam Al-Quran dan Sunnah. Kesabaran akan menguntungkan seseorang secara sosial, profesional, dan spiritual. Ketulusan berhubungan erat dengan niat dan integritas.

Semua hal ini berasal dari hati . Tidaklah cukup jika berdoa hanya sekadar ritual saja, namun berdoa juga harus memiliki niat yang tulus dengan keyakinan bahwa doa pasti akan diijabah oleh Allah swt. Kita dapat melihat contoh dari Nabi Muhammad ﷺ yang mengulang doa berkali-kali dengan niat yang kuat, dan tanpa terburu-buru apabila doa yang beliau panjatkan belum terkabulkan. Seperti halnya beliau terus menerus berdoa untuk menjadikan Hadhrat Umar bin Khatab ra masuk ke dalam Islam.

Mengenai hal ini Rasulullah ﷺ bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ : يَقُوْلُ : قَدْ دَعْوتُ رَبِّي ، فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي  

“Doa salah seorang di antara kalian pasti dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa. (Yaitu) orang tersebut berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku, tetapi Dia tidak mengabulkannya untukku.’“ [ Bukhari, no. 6340 dan Muslim, no. 2735 ]

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

لاَ يَزالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ ، أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ  قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الاِسْتِعْجَالُ ؟ قَالَ :  يَقُوْلُ : قَدْ دَعوْتُ ، وَقَدْ دَعَوْتُ ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِبُ لِي ، فَيَسْتحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Doa seorang muslim senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan hubungan keluarga, asalkan ia tidak tergesa-gesa.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang berkata, ‘Sungguh aku telah berdoa dan sungguh aku telah berdoa, namun aku belum melihat dikabulkannya doaku.’ Maka ia pun merasa rugi (putus asa) ketika itu sehingga meninggalkan doa.”

Selain itu, tujuan Allah swt menunda permohonan doa adalah agar pemohon menjadi lebih teguh dalam niat dan keyakinannya, dengan apa yang dia minta kepada Allah swt. Allah juga sedang menilai kesungguhan hamba-Nya yang menyangkut keyakinan dan pemenuhan amaliah-amaliah yang Allah minta.

Hadhrat Masih Mau’ud as  kembali bersabda:

“Selain itu mungkin terdapat alasan atau pertimbangan Ilahi yang bersifat khusus dalam penundaan tersebut seperti si pemohon agar menjadi lebih teguh dalam niat dan keberaniannya serta untuk penguatan pemahamannya. Sampai kepada tingkatan derajat apa yang diinginkan akan dicapai seseorang, sekian pula upaya yang harus dilakukan dan menunggunya.

Keteguhan hati dan niat merupakan fitrat yang baik karena tanpanya maka manusia sulit menahapi jenjang-jenjang keberhasilan. Karena itulah perlu bagi kita untuk pernah melalui berbagai kesulitan. Mengenai ini dinyatakan:

إِنَّ مَعَ العُسرِ يُسرًا

“Sesungguhnya sesudah kesukaran ada kemudahan.” [  Al Insyirah : 6 ]. [ Malfuzat, vol. III, hal. 202-203 ]

Beliau as juga bersabda :

“Salah satu aspek dari cobaan demikian adalah lebih tingginya hasrat berdoa. Tambah berat kegalauan yang diderita si pemohon, tambah mencair kalbunya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pengabulan doa. Karena itu janganlah patah hati dan jangan berprasangka buruk terhadap Tuhan hanya karena ketidak-sabaran dan kegelisahan. Jangan pernah berfikir hal doanya tidak dikabulkan atau tidak akan dikabulkan. Pandangan demikian merupakan penyangkalan terhadap fitrat Ilahi bahwa Dia mengabulkan doa.” [ Malfuzat, vol. IV, hal. 434 ].

Baca Juga :

Permohonan Doa Dikabulkan Dalam Bentuk Lain

Bisa jadi sebuah doa sebenarnya telah dikabulkan oleh Allah swt, tapi dalam bentuk yang lain, yang tidak sesuai dengan apa yang diminta oleh sang hamba. Hal ini dikarenakan apa yang diminta oleh sang hamba dalam pandangan Allah swt mungkin tidak memiliki maslahat dan manfaat baginya, sedangkan apa yang diberikan Allah tentu memiliki manfaat dan maslahat baginya. Atau, bisa jadi apa yang diminta oleh sang hamba ada manfaatnya, namun apa yang diberikan Allah SWT jauh lebih manfaat dan maslahat sehingga sebenarnya itu merupakan pengabulan doa kita.

Allah SWT berfirman :

وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ 

Dan boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal hal itu sangat buruk bagimu. Dan Allah  Mengetahui dan kamu tidak mengetahui. [ Al Baqarah : 216 ]

Allah swt dengan sifat Al ‘Alim-Nya lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah tidak menginginkan hamba yang dikasihi-Nya mengalami hal terburuk akibat permohonan yang mereka minta, sehingga apa yang diberikan-Nya adalah apa yang memang mereka butuhkan.

Mengenai hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda :

“Kadang pula terjadi seseorang memohonkan doa untuk sesuatu, tetapi permohonannya sebenarnya karena ketidak-tahuan atau ketuna ilmuan. Ia menginginkan sesuatu dari Tuhan yang sebenarnya tidak akan berguna baginya. Dalam keadaan demikian maka Allah SWT tidak akan menolak doanya, bahkan mengabulkannya dalam bentuk lain. Sebagai misal, seorang petani yang memerlukan lembu untuk membajak ladang tetapi pergi ke rajanya untuk memohon seekor unta. Sang penguasa mengetahui bahwa yang baik baginya adalah seekor lembu dan karena itu lalu mengatur agar kepadanya diberikan seekor. Jika yang bersangkutan kemudian mengatakan bahwa permohonannya tidak dikabulkan, hal itu justru akan memperlihatkan ketuna ilmuannya karena jika ia mau berpikir maka apa yang terjadi atas dirinya adalah yang terbaik baginya. [Malfuzat]

Di bagian lain Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda :

Kadang-kadang manusia tidak berhasil dalam suatu doa dan dia beranggapan bahwaAllah Ta’ala menolak doanya. Padahal Allah Ta’ala mendengar doanya, dan pengabulan tersebut adalah dalam bentuk penolakan itu sendiri. Sebab baginya  — baik secara terselubung maupun hakikat – manfaat dan kebaikan terdapat dalam penolakan itu sendiri.

Dikarenakan manusia berpandangan sempit dan tidak berpikiran (berwawasan) luas – dan hanya percaya pada hal-hal yang zahir —   karena itu tepat baginya, agar ketika dia berdoa kepada Allah Ta’ala – dan pada kenyataannya   tidak memberikan hasil yang bermanfaat  kepadanya – maka hendaknya ia jangan berprasngka buruk  terhadap Allah Ta’ala    bahwa,  “Dia tidak mendengarkan doaku.”

Dia mendengar doa setiap orang, “Ud’ūni astajib lakum  [ berdoalah kepada-Ku, Aku kabulkan bagi kamu ]. Rahasia dan hikmahnya adalah bahwa manfaat dan kebaikan bagi orang yang berdoa itu terletak dalam penolakan doa itu sendiri. Inilah asas dari doa. Dalam mengabulkan doa Allah Ta’ala tidak mengikuti kehendak dan pikiran kita. [ Malfuzāt, Jld. I, hlm. hlm. 106-107 ]

Baca Juga :

Berdoa Tanpa Usaha Menguji Allah SWT

Doa dan usaha adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Doa adalah permohonan, pengharapan seorang hamba kepada Sang Khaliq, sedangkan usaha adalah pembuktian kesungguhan kita akan permohonan yang kita minta. Dibalik kelebihan yang kita miliki, sebagai manusia kita menyimpan kelemahan-kelemahan yang tidak dapat kita tutupi.

Untuk itulah kita perlu meminta kepada Allah swt. Berdoalah dengan penuh kukhusyukan, penuh harapan, tulus, pasrah dan ikhlas. Sebaliknya, untuk menarik keberkatan dan rahmat Allah swt, kita harus buktikan diri kita layak mendapatkan pengabulan doa.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

 “Ini memang benar, bahwa jika seseorang tidak mau berusaha bererti dia tidak berdoa, bahkan justru ia menguji Allah. Oleh karena itu sebelum berdoa kita perlu berusaha sekuat tenaga, dan inilah makna dari doa.

Pertama-tama, penting bagi manusia untuk memperhatikan usaha dan amalnya, karena sudah menjadi kebiasaan Allah Ta’ala bahwa ishlah [ perbaikan ] itu berawal dari sarana yang diusahakan, maka Dia akan menciptakan suatu sarana sehingga ishlah [ perbaikan ] itu menjadi terwujud.”  [Malfuzat, jld. I, hlm. 118]

Sangat penting bagi kita sebagai seorang hamba untuk membangun hubungan yang kokoh dengan Allah. Ketika seorang hamba memiliki hubungan yang kokoh dengan Sang Khaliq, maka keberkatan dan rahmat akan terus mengalir kepadanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as kembali bersabda:

Doa adalah suatu hal yang sangat pelik, untuknya diperlukan syarat berupa hubungan yang kokoh sedemikian rupa antara si pendoa dan Wujud  yang kepada-Nya doa dipanjatkan, sehingga rasa perih yang dialami oleh pihak pertama menjadi rasa perih yang juga dialami oleh pihak kedua, dan kegembiraan satu pihak menjadi kegembiraan pihak lainnya. [Malfuzat, jld. I, hlm. 323]

Jadi, jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha, ya sobat keren!

Jangan merasa gundah ketika doa kita belum dikabulkan, apalagi sampai meninggalkan Allah SWT. Hal yang harus kita lakukan adalah, buktikan bahwa kita yakin dan teguh dalam permohonan kita, dan juga buktikan bahwa permohonan kita memang layak untuk dikabulkan Allah swt. Sebagai hamba, kita juga hanya bisa berusaha, serahkanlah pengabulan doa sepenuhnya kepada Allah, karena Dia-lah Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita.

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *