Menerima Perbedaan Merangkul Keberagaman “Love for All Hatred for None”

Menerima Perbedaan Merangkul Keberagaman “Love for All Hatred for None”

Menerima Perbedaan Merangkul Keberagaman “Love for All Hatred for None”

Islamku Keren

April 9, 2021

Dalam rangka menyongsong era reformasi Indonesia, tentu terdapat banyak sekali aspek yang perlu mendapat perhatian khusus dan dipersiapkan dengan matang. Pemerintah harus bekerja sama dengan masyarakat dalam membenahi permasalahan-permasalahan yang ada. Peranan para pemuda sebagai generasi masa depan bangsa dalam hal ini pun sangatlah penting dan tidak dapat dipisahkan. Upaya yang dapat dilakukan oleh para pemuda di antaranya adalah dengan menyumbangkan buah hasil pemikiran mereka ke dalam tulisan-tulisan. Oleh karena itu, penulis akan mengupas sebuah topik yang berkaitan dengan persoalan yang masih menjadi permasalahan di negara kita tercinta yaitu mengenai kesadaran akan pentingnya toleransi di masyarakat.

Indonesia adalah negara yang besar. Tidak hanya luas wilayahnya, jumlah masyarakatnya pun terbilang cukup besar dibandingkan dengan negara yang lain. Karena itulah, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan menjadi hal yang tak bisa dihindarkan. Persoalannya adalah Indonesia memiliki berbagai macam suku, ras, agama, dan budaya. Keberagaman inilah yang kemudian melahirkan berbagai macam karakter manusia. Perbedaan cara pandang dalam melihat sesuatu pun juga bisa berbeda antara satu sama lain.

Diskriminasi ras dan sikap arogansi merupakan salah satu kendala utama dalam mencapai perdamaian. Latar belakang suku bangsa dan etnis, yang bertindak sebagai sarana identitas, tidaklah membenarkan bentuk superioritas apapun[[1]]. Perbedaan suku dan bangsa hanyalah sarana untuk saling mengenal. Adanya kesombongan akan entitas seseorang atau menyatakan orang lain lebih inferior hanya akan menciptakan kebencian dan perpecahan, yang pada gilirannya akan merusak perdamaian.

Islam memberikan nasihat kepada umat manusia supaya membuang semua kebencian, permusuhan, dan dendam kesumat. Islam mengajarkan agar umat manusia bersatu di bawah panji cinta dan saling menghormati sesamanya. Islam menganjurkan agar terciptanya perdamaian dan keadilan di semua lini tingkatan masyarakat dan di antara semua orang. Al-Qur’an telah memerintahkan para pengikutnya untuk bekerja sama dengan para pengikut agama lain dalam hal kemanusiaan.[[2]]

Tanpa diragukan lagi, Nabi Muhammadsaw telah menegakkan standar kebebasan beragama dan toleransi yang sangat tinggi di dunia ini. Sebuah contoh yang utama dari hal ini adalah bagaimana Nabi Muhammadsaw memperlakukan dan menghormati kaum Yahudi dan non-Muslim lainnya setelah beliau hijrah ke Madinah, setelah tahun-tahun penganiayaan di kampung halamannya, Mekkah. Sebagian besar penduduk lokal Madinah menyambut dan menerima Nabi Muhammadsaw. Mereka menyambut beliau tidak hanya sebagai pemimpin agama mereka, melainkan juga memilih beliau sebagai penguasa negeri.  Lalu beliausaw mengadakan suatu perjanjian perdamaian dengan orang-orang Yahudi dan kelompok lainnya, berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan beragama universal dan asas-asas toleransi. Menurut perjanjian tersebut, kebebasan beragama orang-orang Yahudi dan masyarakat non-Muslim lainnya dilindungi dan dijamin oleh Nabi Muhammadsaw.[[3]] Beliausaw juga mendamaikan pasangan suami-istri, dua orang yang saling berutang-piutang, dan juga merupakan juru damai dalam menegakkan hak harta, nyawa, dan kehormatan. Beliau bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلِ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوْا بَلَى قَالَ صَلَاحَ ذَاتَ البَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتَ البَيْنِ هِيَ الحَالِقَةُ

“Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama daripada puasa, shalat dan sedekah? Para sahabatra menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Itu adalah mendamaikan perselisihan yang terjadi di antaramu, karena rusaknya perdamaian di antaramu adalah pencukur (perusak agama).”[[4]]

Al-Quran mendukung kebebasan beragama dan toleransi sebagaimana tercantum di dalam ayat berikut:

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ

“Tidak ada paksaan dalam urusan agama.” [[5]]

Toleransi bukan hanya sekedar menerima perbedaan orang lain, tetapi menerima segala implikasi dari perbedaan tersebut. Contoh lain yang sangat baik tentang toleransi, Al-Quran menjelaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, kita tidak boleh meninggalkan toleransi.

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُواۚ

“Janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorongmu bertindak tidak adil. [[6]]

Ayat ini menyatakan bahwa untuk sepenuhnya memenuhi persyaratan keadilan, maka perlu memperlakukan orang lain dengan kesamaan dan kesetaraan, melampaui segala sekat kebencian dan permusuhan yang ada. Dan demi melindungi kesucian agama dan mencegah kekacauan di dunia, Tuhan berfirman bahwa kita tidak seharusnya menghina atau memaki berhala atau sembahan orang lain. Jika tidak, maka akan menyebabkan lingkaran permusuhan dan kebencian yang tak pernah berakhir.[[7]]

Perjalanan menuju kedamaian dimulai dari individu. Sumber pertamanya adalah ditanamkan dari dalam hati masing-masing. Ketika ia berkembang dalam pribadi seseorang, maka keluarganya akan mendapatkan kedamaian. Dari keluarga kemudian dampaknya akan berkembang ke masyarakat. Dan saat sebuah bangsa meraih kedamaian, maka ia akan berkontribusi pada perdamaian dunia. Ini bukanlah konsep teoritis, melainkan fakta nyata yang terjadi di seluruh dunia.

Dengan demikian, jika kita menginginkan perdamaian ditegakkan di dunia, maka kita harus mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kebaikan yang lebih baik. Kita harus membangun hubungan timbal balik yang sepenuhnya didasarkan pada keadilan dan kesetaraan. Kita harus saling menghargai dan menghormati perasaan keagamaan dan suku bangsa antara satu sama lain. Semua pihak harus berkomitmen untuk merangkul keberagaman. Tidak boleh ada seorang pun, baik itu dari level masyarakat hingga kalangan para pemimpin, yang menebar benih kebencian. Boleh berbeda pandangan, boleh berbeda pendapat, bahkan berbeda keyakinan. Tetapi yang tidak boleh adalah merusak kerukunan yang telah ada. Harmoni dalam keberagaman ini harus terus dipertahankan, demi terciptanya tatanan kehidupan yang lebih baik.

Cinta adalah dasar keimanan sekaligus merupakan ajaran fundamental semua agama, khususnya Islam. Nabi Muhammadsaw diriwayatkan pernah bersabda mengenai tanda mu’min hakiki (orang beriman yang sejati) yaitu,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak akan beriman setiap dari kalian hingga kalian menyukai bagi saudaranya apa yang kalian sukai terjadi bagi diri kalian sendiri.”[[8]]

Ini adalah prinsip guna meletakkan dasar bagi kecintaan, kerukunan dan perdamaian di dunia pada semua tingkatan, mulai dari tingkat rumah tangga hingga hubungan-hubungan antar bangsa di tingkat internasional. Prinsip tersebut juga menjauhkan pertikaian, menciptakan kelembutan di hati dan mengarahkan pada penunaian kewajiban antara satu dengan yang lain.

Keindahan suatu ajaran akan tampak dengan sendirinya hanya ketika seseorang yang mengatakannya itu memperlihatkan melalui perbuatannya. Orang-orang akan mengenali keistimewaan kita yang khas selama amal perbuatan kita sesuai dengan apa yang kita nyatakan. Orang-orang tidak hanya merasa puas atau cukup dengan mendengarkan nasehat saja tapi mereka bahkan mengamati amal perbuatan kita juga.

Tiada yang dapat menyangkal sabda Nabi Muhammadsaw tentang mendirikan akhlak mulia yaitu, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ “Kalian takkan menjadi mu’min hakiki selama tidak menunjukkan akhlak yang tinggi dan tolok ukur dari empati kalian tidak meningkat satu dengan yang lain”. Apakah tolok ukur yang dimaksud? Itu adalah حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ Apa yang engkau sukai untuk dirimu, sukailah untuk orang lain juga.” Jadi, ketika kita berjuang keras tanpa henti untuk memperoleh keadilan bagi diri kita sendiri, saat itu juga kita menerapkan tolok ukur yang sama dalam memberikan hak bagi orang lain. Jadi, ketika kita gelisah untuk mendapatkan hak-hak kita, maka kita harus juga gelisah jika hak-hak orang lain belum kita berikan. Ketika kita melakukan kesalahan, kita ingin dimaafkan, tidak ingin dihakimi dan tidak ingin dihukum. Maka, ketika orang lain melakukan kesalahan yang sama, selama ia tidak melakukan itu berulang kali dan menjadi kebiasaannya, maka kita harus berperilaku dengan perlakuan yang sama seperti yang diperuntukkan bagi diri kita sendiri dan memaafkan orang tersebut.

Hadhrat Al-Hafizh Mirza Nasir Ahmad[[9]] mengatakan, “Islam mengajarkan kepada kita untuk hidup dengan semangat cinta, kasih sayang, dan kerendahan hati. Islam mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada bedanya antara seorang Muslim ataupun non-Muslim. Pesan saya kepada Anda semua adalah Anda harus memiliki kecintaan untuk semuanya dan kebencian tidak untuk siapapun.”[[10]]

Ini adalah moto Jamaah Muslim Ahmadiyah. Moto ini mencerminkan pandangan Ahmadiyah yang sejak dulu menolak bentuk kekerasan dan menegakkan hak asasi manusia, termasuk kebebasan beragama bagi setiap orang. Nilai-nilai loyalitas, kebebasan, kesetaraan, saling menghormati, dan perdamaian merupakan kunci yang menopang moto ini.

Kegiatan-kegiatan yang melibatkan para pemuda dalam membangun kesadaran akan pentingnya kebersamaan dan rasa welas asih terhadap sesama perlu sekali diadakan dengan tujuan agar mereka dapat memahami arti perbedaan, toleransi, dan perdamaian. Kaum muda memiliki peranan yang amat penting dalam kehidupan berbangsa karena mereka merupakan tunas muda harapan bangsa. Hadhrat Al-Hajj Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad[[11]] mengatakan, “Suatu bangsa tidak dapat direformasi tanpa adanya reformasi di kalangan pemuda dan pemudinya.” [[12]] Oleh karena itu, reformasi di kalangan kaum muda sangat penting dilakukan.

Selanjutnya, untuk menumbuhkembangkan toleransi aktif di kalangan kaum muda yang hidup dalam keberagaman diperlukan sejumlah sikap. Sikap itu adalah saling menghormati, saling menghargai perbedaan, kelembutan dan lapang hati, kesabaran, saling menerima, berlaku adil, saling mempercayai, dan melibatkan diri untuk saling memajukan. Karenanya toleransi harus didukung oleh wawasan pengetahuan yang luas, sikap yang terbuka, dan dialogis. Dengan adanya sikap toleransi, maka kita dapat hidup berdampingan secara damai, rukun, dan bekerja sama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di lingkungan kita. Di sini peran institusi pendidikan dasar dan menengah khususnya menjadi sangat penting. Institusi pendidikan tersebut dapat menanamkan dan membentuk karakter baik dari anak sebagai peserta didik. Di samping itu, keteladanan dari para orangtua, guru di sekolah, para tokoh masyarakat, dan politikus juga tak kalah pentingnya dalam menunjukkan diri sebagai orang yang berkarakter baik, berintegritas, dan teguh pendirian.

Sebagai penutup, marilah kita tumbuhkan kesadaran di dalam diri masing-masing mengenai pentingnya sikap toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman yang ada lalu menyebarkannya kepada orang lain sehingga kita dapat hidup berdampingan dalam nuansa perdamaian. Berbeda tidak berarti harus berpisah. Berbeda tidak berarti tidak dapat bersatu. Berbeda harus dapat kita sikapi dalam konteks ke-gotong-royong-an. Upaya ini harus kita tujukan demi mencapai tujuan bersama dalam ruang kebersamaan. Dasar berpikir seperti inilah yang kemudian menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Tanah Air Nusantara ini. Unity in Diversity, berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Love for All Hatred for None, cinta kasih untuk semua, tiada kebencian untuk siapapun.

Penulis : Nidaun Nasir

Sumber gambar:

https://pin.it/3AA52Kd

[1] Q.S. Al-Hujurat, 49: 13.

[2] Q.S. Al-Maidah, 5: 2.

[3] Kutipan Pidato Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah saat ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 9 Mei 2016, di Kopenhagen, Denmark.

[4] H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi

[5] Q.S. Al-Baqarah, 2: 256.

[6] Q.S. Al-Maidah, 5: 8.

[7] Q.S. Al-An’am, 6: 108.

[8] Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Iman, no. 13; Shahih Muslim, Kitab al-Iman, no. 45.

[9] Khalifah ketiga Jamaah Muslim Ahmadiyah.

[10] M.A. Saqi. Laying the Foundation of the Pedroabad Mosque. The Muslim Herald1982; The Review of Religions Magazine, March 1996 & 2008.

[11] Khalifah kedua Jamaah Muslim Ahmadiyah.

[12] “A Nation cannot be reformed without the reformation of its youth”


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

Share

9 thoughts on “Menerima Perbedaan Merangkul Keberagaman “Love for All Hatred for None”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.