Memaknai Taubat Yang Hakiki

Memaknai Taubat Yang Hakiki

Assalamualaikum sobat keren, Taubat ialah seseorang kembali kepada Allah sembari memohon pengampunan atas dosa-dosanya. Pada saat itu seseorang menghadirkan dirinya di hadapan Allah sembari berjanji untuk tidak pernah berbuat dosa lagi dan selalu berusaha untuk melindungi diri dari melakukan perbuatan jahat. Dengan melakukan demikian, Allah menerima pertobatan orang seperti itu yang menghadap kepada-Nya dengan perasaan dan niat yang seperti ini.

Allah SWT Berfirman

“Sesungguhnya Allah mencintai (menjadi sahabat) mereka yang banyak bertaubat dan Dia mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan dirinya (orang-orang yang bersih dari pada dosa-dosa).” (Al Baqarah : 223)

Dengan jelas dalam ayat ini tidak hanya dikatakan, ‘Allah Ta’ala menyintai orang-orang yang bertaubat’, melainkan Dia menegaskan juga bahwa penyucian diri dan kesucian hakiki ialah syarat yang mengiringi taubat sejati.” (Taubat hakiki mengharuskan kesucian hakiki. Seseorang yang bertaubat bertekad tidak akan melakukan dosa di masa mendatang. Jika tidak demikian, taubatnya tidak akan diterima tanpa penyucian dan kesucian diri.)

Pembersihan diri dari setiap jenis kekotoran dan ketidaksucian juga termasuk syarat. Jika tidak demikian, hanya sekedar berkomat-kamit mengucapkan kalimat taubat tidak akan bermanfaat apa-apa. Berdasarkan janji Allah Ta’ala bahwa setiap orang yang bertaubat dengan hati yang jujur maka ia akan diampuni dosa-dosanya dan itu sesuai dengan itu sabda Hadhrat Rasulullah ﷺ,

“Orang yang bertaubat dari dosa-dosanya seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa apapun.” (Ibnu Majah)

Artinya, semua dosa yang telah dia lakukan sebelumnya dimaafkan.

Allah SWT berfirman :

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan beristighfarlah, sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubah. (An Nashr, : 3)

Baca Juga : Istighfar dan Taubat; Solusi Utama Memenuhi Tujuan Hidup

Makna Istighfar dan taubat

“Makna istighfar adalah seseorang menjaga keberadaan cahaya yang telah ia peroleh dari Allah Ta’ala, bahkan membuatnya bertambah bercahaya. Wasilah-wasilah (sarana-sarana) mencapai hal itu ialah shalat lima waktu, (shalat lima waktu ialah juga sarana meraih maghfirat dan nuur [cahaya] karena seseorang beristighfar dalam shalatnya juga.) supaya orang yang shalat meminta cahaya itu dari Allah setiap hari sembari membukakan hatinya di hadapan Allah. Siapa yang mempunyai bashirah akan paham bahwa shalat ialah mi’raaj. Shalat ialah doa yang penuh tadharru’ dan ibtihaal yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Seseorang memerlukan doa-doa demi keselamatan dari setiap jenis penyakit ruhiyah dan jasadiyah. Diantara doa-doa ialah jenis istighfar. Shalat juga mengandung bagian istighfar di dalamnya. Ketika Nabi mewasiyatkan supaya membaca ayat-ayat ini maka itu bukanlah artinya hanya membaca saja sudah cukup tanpa beramal melainkan suatu keharusan bagi mereka untuk memperbaiki keadaan perbuatan dan perhatian akan istighfar serta menjaga shalat-shalat sehingga mereka terjaga.

Makna istighfar ialah supaya seseorang tidak melakukan sesuatu yang jelas-jelas dosa dan supaya kekuatan dosa tidak tampak. (artinya, kesempatan dan kekuatan yang memungkinkan seseorang melakukan dosa tidak muncul.)

Inilah hakikat istighfar para Nabi yang membuat mereka benar-benar ma’shuum (terlindungi dari berbuat dosa) namun mereka beristighfar supaya kekuatan-kekuatan itu tidak muncul di masa mendatang. Ada pun bagi umumnya manusia, makna lainnya ialah mereka meminta diselamatkan dari akibat dosa, yaitu semoga Allah Ta’ala berkenan menyelamatkannya dari dampak-dampak keburukan kejahatan dan dosa yang dilakukan sebelumnya, mengampuninya dan menyelamatkannya dari melakukan dosa di masa mendatang.

Penulis : Dian Khoeruddin

Baca Juga : Aku Melakukan Dosa, Apa Tobatku Akan Diterima?

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.