Masih Mau kah Menjadi Pemuda Indonesia ?

Masih Mau kah Menjadi Pemuda Indonesia ?

(Sebuah renungan untuk generasi muda Indonesia)

Sudah berlembar-lembar buku sejarah yang menampilkan foto para pahlawan yang berjuang dengan darah. Bukan satu-dua saja, pemuda Indonesia kala itu, yang bertukar nyawa demi identitas negara. Tak rela jika pasrah sebagai negara terjajah. Tak puas jika hanya dimerdekakan dan menjadi persemakmuran. Semangat juang yang begitu membara. Demi satu nama, Indonesia.

Namun, sepeninggal para pejuang yang kini mulai renta, para pemuda penerus bangsa, masihkah komitmen menjadi Indonesia? Entah, apakah generasi penerus negara ini juga merasa haru melihat merah putih berkibar? Atau malah, justru sibuk mencela negaranya sendiri, dan larut dalam budaya asing yang lebih ‘keren’ menurutnya.

Andai Indonesia adalah manusia, layaknya pemuda seperti kita, kado seperti apa yang diinginkan ketika merayakan ulang tahun? Tanpa melihat angka usia yang setara dengan manusia renta, tapi sebutkan saja, apa hadiah yang kita ingin dapatkan, jika masih berkesempatan merayakan hari lahir.

Baca Juga :

Pemuda Indonesia Ingin Dipuji

Barangkali sang ‘Indonesia’ yang berulang tahun ingin di usianya saat ini menjadi sosok yang berguna bagi banyak orang, sehingga banyak menuai pujian. Menarik. Terlebih menjadi sosok inspiratif adalah hal yang didambakan banyak orang.

Tapi, lihat. Indonesia, bahkan dicaci-maki oleh ‘keluarga’-nya sendiri. Sang ‘pemuda’ yang sedang berulang tahun ternyata hanyalah ‘angsa buruk rupa’ yang memalukan. Coba hitung, berapa banyak pemuda Indonesia yang, alih-alih mengkritik, tapi justru melontarkan cemoohan untuk negaranya. Tak patuh dan apatis pada pemimpinnya. Acuh pada lingkungannya. Saling membanggakan kelompoknya, partainya, agamanya.

Indonesia pernah ingin menjadi anak patuh. Menghormati orang tuanya, menghargai budayanya, mengakui keberadaan keluarga sederhananya, keramah-tamahan tetangga dan lingkungannya. Meskipun, tak bertahan lama sejak banyak pendatang membawa kebiasaan yang lebih menyenangkan.

Pemuda Indonesia memang aktif. Jadi bagi mereka, tak seharusnya belajar tari tradisional yang gemulai diiringi gending dengan tempo lambat. Pilihan mereka adalah tarian rancak, musik berbahasa asing dengan beat yang dinamis. Tidak juga harus ribet dengan sampur dan kebaya, melainkan cukup dengan pakaian mini agar bebas bergerak seperti dancer Korea.

Baca Juga :

Pemuda Indonesia dan Kebermanfaatan

Barangkali, pujian bukanlah kado yang tepat. ‘Indonesia’ ingin kado yang lebih dari sekadar dipuji, yaitu menjadi viral. Apalagi, menjadi viral adalah sumber penghasilan yang menggiurkan. Benar, sudah banyak juga para influencer beterbaran media sosial, menjadi akun centang biru, dan tentunya menerima uang hasil dari popularitasnya.

Tapi, celotehan pemuda Indonesia, tak sedikit juga yang menyakiti Indonesia. Beragam istilah muncul untuk menyetarakan negeri tempat tinggalnya dengan kebodohan dan kemiskinan. Padahal, mereka mencari makan di sini, di negara yang terlalu baik karena tetap mengakui para pencela sebagai warga negara.

Lelahnya berdebat dengan pemuda yang merasa hebat, membuat Indonesia di hari ulang tahunnya ingin memiliki pendidikan yang lebih. Tak perlu muluk-muluk agar setara dengan Finlandia, Jepang, dan negara maju lainnya. Indonesia barangkali juga punya keinginan agar keluarganya bersama-sama mencari ilmu, agar bisa saling menasihati dan memperbaiki.

Ah, Indonesia lagi-lagi harus mengalah, karena faktanya minat baca pemudanya sangat rendah. Kemajuan teknologi, tak berjalan seimbang dengan keinginan untuk menggali informasi. Sebaliknya, tak sedikit pemuda Indonesia yang larut dalam game dan aplikasi judi. Belum lagi, keterampilan digital media yang tak pada tempatnya, membuat hoaks tersebar di mana-mana.

Baca Juga :

Pemuda Indonesia Kritis?

Sang ‘Indonesia’ yang sedang berulang tahun ini akhirnya semakin tak ingin memiliki keinginan, selain Ingin sehat. Berharap segala sektor bisa dikendalikan dan dimaksimalkan dalam keadaan badan dan pikiran yang yang sehat. Apalagi, wabah dunia juga mampir ke Indonesia, membuatnya sakit dan kehilangan banyak anggota keluarganya.

Tapi, kado sehat untuk Indonesia seperti jauh panggang dari api. Pemuda Indonesia ikut menuduh corona adalah konspirasi. Memakai masker adalah langkah awal pembungkaman, menjaga jarak adalah teknik agar tak saling peduli, dan upaya vaksin adalah bisnis besar para kapitalis. Pemuda Indonesia, terlalu keras berpikir.

Sang pemuda ingin sehat tapi tak ingin berobat. Mereka tak mau dibilang sakit meskipun perut semakin melilit. Pemuda Indonesia hanya ingin semua berjalan biasa dan normal saja, meskipun terlihat jelas dengan mata, mayat tak terhitung jumlahnya dan pemakaman semakin sesak setiap harinya.

Pemuda Indonesia, merenunglah sejenak. Jika semua ini hanya sandiwara, negara harus bayar berapa untuk jutaan aktor sesak napas, mati, dan dikubur dengan sukarela? mungkin kita masih kuat menahan demam atau anosmia. Tapi bagaimana dengan orang tua kita, bayi dan balita, atau juga tetangga kita yang sudah kehilangan pekerjaannya?

Indonesia, sedang merayakan hari jadinya dalam kondisi menahan sakit, jiwa dan raganya. Fisiknya lemah karena wabah. Demikian halnya perasaan hatinya karena kehilangan banyak anggota keluarganya, putra terbaiknya, kebanggaan bangsanya. Tapi, Indonesia terlihat tegar dengan itu semua.

Luka yang diderita karena ‘pemikiran kritis’ kaum mudanya, terobati dengan kesabaran para tenaga kesehatan yang mulai terlihat bertumbangan. Tangis Indonesia karena hasutan yang menggerogoti kepala pemuda, terhapus dengan prestasi sebagian pemuda lainnya di kancah olahraga internasional.

Bangsa ini masih berdiri. Masih diakui. Tak sedikit pandangan mata yang iba dengan deritanya, dan tetap mengulurkan tangan membantunya bangkit agar tak jatuh terlalu lama. Indonesia butuh pemuda, yang lebih besar tenaganya untuk bisa memapahnya berdiri. Pemuda yang cerdas dan kritis untuk bisa diajak diskusi.

Indonesia butuh kita, untuk sinergi agar bangsa ini segera sehat kembali. Indonesia masih harus sabar, mendidik generasi penerusnya. Pemuda Indonesia yang saat ini juga, seharusnya, sedang merayakan hari lahir bangsanya, masih komitmenkah menjaga Indonesia?

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.