Masa Lalu Dan Masa Kini Yang Kian Melekang: Pemuda Perlu Berubah Mengambil Peran

Masa Lalu Dan Masa Kini Yang Kian Melekang: Pemuda Perlu Berubah Mengambil Peran

  1.  

Masa Lalu Dan Masa Kini Yang Kian Melekang: Pemuda Perlu Berubah Mengambil Peran

Islamku Keren

April 9, 2021

Pemuda merupakan salah satu generasi yang mana kehadirannya memiliki peran penting di dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Menurut KBBI pemuda merupakan orang yang masih muda;orang muda; taruna. Adapun menurut Undang-Undang Tentang Kepemudaan pemuda didefinisikan sebagai “warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun” (UU No. 40 Tahun 2009, Pasal 1.1).

Hal tersebut dapat dikonsepsikan jika pemuda merupakan seseorang yang telah memasuki usia 16-30 tahun. Seseorang tersebut telah memasuki masa transisi dari kanak-kanak menuju remaja, dengan anggapan bahwa pemuda telah memiliki jiwa, akal, dan pikiran yang lebih matang. Pemuda dianggap mampu menghadapi berbagai masalah dalam dinamika kehidupan sosial dengan satu tingkat lebih kompleks dibanding ketika masa kanak-kanak. Kehadiran pemuda di Indonesia tentu menjadi pemeran utama di dalam kemajuan bangsa. Mengapa demikian? Jika ditinjau dari kisah masa lampau, pemuda memiliki peran agen of change atau agen perubahan dari masa lalu untuk masa depan, senantiasa membawa perubahan dari satu generai ke generasi lain, dan dari satu masa ke masa lain. Apa yang mereka tuai sejak muda, maka akan diturunkan atau setidaknya dijadikan cerminan untuk generasi selanjutnya dengan berbagai kondisi dan situasi zaman yang telah disesuaikan.

Pada masa pergerakan nasional pada tahun 1908-1945, perspektif pemuda ditandai sebagai generasi tangguh yang mampu menjadi motorik dan penentu masa depan bangsa. Hal itu dikarenakan pemuda berhasil merealisasikan kepekaan dirinya terhadap situasi pendidikan di negerinya sendiri, dan mampu berpikir kritis terhadap tatanan kehidupan sosial yang sedang terjadi kala itu. Seolah pemuda telah berhasil menunjukan kepeduliannya terhadap bangsa yang terus diperlakukan semena-mena oleh pemerintah Hindia Belanda.

Diawali oleh kesadaran para kaum terpelajar pada masa pergerakan akan penyimpangan dalam kebijakan Politik Etis. Kebijakan yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan dan menyejahterakan taraf hidup masyarakat, justru berbanding terbalik dalam realitasnya. Tujuan nyata dari kebijakan tersebut ialah untuk mengeruk tenaga terpelajar dari bangsanya, kemudian melakukan penanaman modal dari kaum kapitalis untuk menguatkan akar kekuasaan Belanda dalam menjalankan roda pemerintahan dan birokrasi kolonial di Indonesia. Seolah kebijakan Politik Etis ialah kedok dalam mengelabui masyarakat Indonesia sebagai strategi penjajah Belanda untuk menancapkan akar kekuasaan yang lebih kuat.

Namun, berkat kesadaran para kaum terpelajar akan kepicikan Belanda, pemuda pada masa pergerakan telah menunjukan jati dirinya sebagai pemuda penyelamat bangsa kala itu. Pemuda yang kemudian menentang kebijakan tersebut, mencari solusi sebagai bentuk penentangan. Penentangan itu termanifestasikan melalui pendirian sekolah-sekolah swasta yang didirikan oleh pemuda kaum terpelajar dengan tujuan utama untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia. Sekolah-sekolah tersebut didirikan dengan menerapkan sistem pengajaran yang berfokus pada penanaman jiwa untuk mencintai bangsa, tidak mudah terpengaruh oleh bangsa asing, dan menancapkan jiwa patriotisme. Hal tersebut telah menjadi bukti jika pemuda pada masa pergerakan telah menjadi representasi nyata dari kalimat “generasi muda sebagai harapan bangsa”, dan mampu mencari berbagai solusi dan strategi untuk melawan Belanda.

Setelah berakhirnya masa pergerakan, peran pemuda dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan dan membawa perubahan. Salah satunya peran pemuda dalam membawa Indonesia mengalami pergantian pemerintahan Orde Baru menuju masa Reformasi. Hal itu diakibatkan oleh banyak pemuda yang tidak setuju dengan kebijakan pada masa pemerintahan Soeharto. Akhirnya mereka melakukan penentangan besar-besaran pada tahun 1998. Penentangan dalam bentuk ujuk rasa itu digalakan oleh mahasiswa-mahasiswa di Indonesia dan terjadi di beberapa wilayah, salah satunya Ibu Kota Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan pemuda dalam melakukan penentangan pun telah menjadi strategi mereka dalam membawa perubahan bagi negeri kala itu hingga berhasil menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto. Hingga kini peristiwa tersebut telah menjadi salah satu elemen sejarah yang tidak terlupakan. Peristiwa itu pun menjadi tanda nyata bahwa peran pemuda kala itu berhasil membawa perubahan baru dalam negeri, yakni dengan berakhirnya masa Orde Baru, dan menjadi awal hidupnya masa Reformasi. Masa Reformasi memiliki ciri perubahan dalam tatanan sosial politik yang lebih terbuka.

Namun, pada masa kini, peran pemuda di masa Reformasi cenderung mengalami kemunduran yang dikhawatirkan akan mengalami degenerasi. Hal tersebut diakibatkan oleh zaman telah tersentuh teknologi, serta kehadiran internet dan media sosial telah memberikan perubahan secara signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya peran pemuda di masa kini. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap perubahan di suatu masa akan menimbulkan dampak di dalam dinamika kehidupan masyarakat, terutama dalam lingkup pemuda. Pemuda yang selalu diidentikkan sebagai generasi penerus bangsa, kini masih diragukan. Lantas apabila pondasi pemuda di suatu zaman telah runtuh akan moral, karakter, dan jiwa patriotnya, apakah pemuda masih dapat diandalkan bagi kemajuan bangsa di masa mendatang? Tentu, tidak. Namun, karena pemuda adalah aktor utama dalam membawa bangsa menuju masa depan, maka apa yang mereka tanamkan untuk bangsa sejak dini, baik itu menuju perubahan dalam kemajuan ataupun kemunduran tetaplah bangsa yang terkena pengaruhnya.

Berkaca dari zaman yang sedang berjalan ini, yakni pada masa Reformasi. Kemajuan internet dan sosial media telah memberikan dampak apatis pemuda dalam lingkup sosial secara nyata. Bahkan tidak heran jika pemuda-pemuda yang sedang nongkrong bersama temannya di sebuah angkringan, akan ada beberapa rekannya yang lebih memilih memainkan smartphone, dan keasikkan sendiri bermain media sosial dibandingkan berinteraksi bersama rekan lainnya. Bagaikan sepi di dalam keramaian, bersama namun tak saling menyapa, karena kehidupan mereka telah telah masuk di dalam dunia maya. Jika bersama rekan saja sudah lekang, bagaimana kepada bangsa?

Selain itu, kehadiran berbagai media sosial menjadi penetrasi internet yang semakin meningkat di Indonesia. Dianalisir dari media Inet.detik.com pada 16 Mei 2019 bahwa pengguna internet terus mengalami peningkatan dengan penggunaan tertinggi dikuasai oleh pemuda. Hal itu dibuktikan melalui laporan dari Sekjen APJII Henry Kasyfi Soemartono di Jakarta, Rabu pada 15 Mei 2019 bahwa pengguna internet tertinggi di Indonesia ialah remaja berusia 15-19 tahun dengan persentase 91%, selanjutnya kelompok berumur 10-14 tahun dengan persentase 88,5 %, dan kelompok berumur 20-34 tahun dengan persentase 76,5%. Menurut riset tersebut, dapat dinyatakan bahwa pemuda adalah konsumen terbesar pengguna internet dan media sosial. Tentu banyak faktor yang telah menyebabkan peningkatan tersebut. Salah satu faktornya pada tahun 2021 ialah masa pandemi. Masa pandemi telah meghampiri sejak satu tahun lalu. Internet dan media sosial seolah telah menjadi kebutuhan primer sejak berbagai kegiatan dipindahkan menjadi online sebagai strategi meminimalisir penyebaran virus Covid-19. Namun, peran pemuda cenderung mengalami kemunduran.

Hal itu pula dibuktikan dari beberapa kasus yang telah terjadi akhir-akhir ini, salah satunya kasus netizen—warga internet, berdasarkan riset pengguna internet pada paragraf atas dapat dikatakan jika netizen Indonesia pun mayoritas adalah pemuda— Indonesia dianggap tidak sopan oleh salah satu perusahaan yang bergerak di dalam bidang komputer asal AS, yakni Microsoft. Menurut laporan hasil studi tahunan “Civility, Safety, and Interaction Online 2020” yang bertujuan dalam menilai tingkat kesopanan digital warga internet dalam berkomunikasi di media sosial, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat kesopanan digital paling rendah di Asia Tenggara. Akan hasil survei tersebut pun netizen Indonesia tidak terima dan menyerang berbagai akun media sosial Microsoft dengan melontarkan komentar dan hujatan kebencian hingga beberapa akun media sosial Microsoft terpaksa menutup akses kolom komentarnya beberapa saat.

Dari kasus tersebut dapat menjadi bukti nyata bahwa karakter,moral, dan etika para pemuda di masa kini cenderung luntur dan mengalami keruntuhan. Para netizen yang tidak lain dimayoritasi oleh para pemuda cenderung tidak mampu menempatkan diri di dalam dunia maya yang jangkauannya tiada batas. Selain itu, pemuda mudah mengonsumsi  berbagai berita hoax, kemudian ketika tidak setuju akan berbagai hal yang terakses di dalam dunia maya pemuda akan menggunakan emosinya untuk mengutarakan tulisan berupa hujatan kebencian dibanding lebih rileks ketika menghadapi suatu masalah. Hal itu pula dikarenakan ruang untuk melontarkan pendapat dapat diakses dengan mudah, bebas, dan terbuka untuk setiap kalangan.

Pemuda yang dalam tulisan ini diidentikkan sebagai generasi penerus bangsa seharusnya dapat menjadi peran bagi dirinya sendiri terlebih dahulu dengan mencari relasi yang lebih luas dengan kehidupan yang nyata. Mengeksplorasi diri melalui berbagai kegiatan dan pengalaman di dalam lingkungan yang heterogen, kemudian mampu menjadi pondasi dalam berpikir kritis akan tatanan sistem sosial yang sedang terjadi, cerdas dalam bertindak, dan memiliki pikiran yang terbuka. Namun, sejak masa pandemi, pemuda lebih banyak menggunakan internet untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, bahkan dapat dikatakan internet telah menjadi teman dalam memperluas relasinya, dan hidup di dalam dunia maya. Pemuda bagaikan hidup di dalam sebuah perkampungan yang luas tiada batas, saling bersosialisasi, dan melakukan berbagai kegiatan di dalam sebuah jaringan.

Namun, bukan suatu kemustahilan jika karakter pemuda masih dapat diselamatkan oleh kesadaran yang tentu perlu dibangkitkan dari berbagai pihak. Salah satunya melalui tulisan. Kini berbagai media telah menyediakan fitur yang memberikan kemudahan bagi setiap individu untuk mengutarakan pikiran, dan imajinasinya ke dalam sebuah tulisan—bukan tulisan pengujar kebencian—tetapi sebuah tulisan yang berisi makna, memberikan beragam informasi sesuai fakta, dan dapat merefleksikan realitas dinamika kehidupan yang sedang terjadi saat ini secara empiris dengan didasari pengetahuan teoritis sebagai penunjuk pemuda yang intelek.

Daripada menentang akan sesuatu yang tidak disetujui dengan cara menghujat, mencaci, dan menebar kebencian melalui komentar-komentar jahat, mengapa komentar-komentar tersebut tidak diukir saja menjadi sebuah tulisan yang dikemas dengan bahasa yang baik, sopan, dengan uraian yang jelas, dan mengunggahnya melalui media sosial khusus untuk mengirim tulisan, seperti bloger, jurnal, dan aplikasi menulis lainnya. Pemuda perlu lebih banyak menyadari perannya di masa kini, yakni untuk menentang berbagai kesalahpahaman, berita hoax, dan kejahatan-kejahatan digital melalui tulisan. Kini sudah saatnya pemuda untuk sadar, berubah, dan mengambil peran, demi membawa perubahan dengan berperang melawan kejahatan melalui tulisan, bukan tulisan dijadikan senjata untuk menyerang bangsa sendiri.

Penulis : Putri Amatul Noor

 

Sumber :

  1.  Januarharyono, Yudhaswara. 2019. PERAN PEMUDA DI ERA GLOBALISASI. Jurnal Ilmiah Magister Ilmu Administrasi [Internet]. [diunduh pada 2021 Maret 22]; 13(1). Tersedia pada http://jurnal.unnur.ac.id/index.php/jimia/article/view/277
  2. Sutopo, Oki Rahadianto. 2016. Pemuda dan Resistensi: Sebuah Refleksi Kritis. Jurnal Studi Pemuda [Internet][diunduh pada 2021 Maret 22]; 5(2): 503-305. Tersedia pada https://jurnal.ugm.ac.id/jurnalpemuda/article/view/37954
  3. Widhyharto, Derajad S. 2014. Kebangkitan Kaum Muda dan Media Baru. Jurnal Studi Pemuda [Internet]. [diunduh pada 2021 Maret 22]; 3(2): 141-146. Tersedia pada https://jurnal.ugm.ac.id/jurnalpemuda/article/view/32030/19354
  4. Haryanto, Agus Tri. 2019. Pengguna Internet Indonesia didominasi Milenial. Inet.detik.com. [diakses    pada    22                         Maret          2021].      Tersedia        pada https://inet.detik.com/telecommunication/d-4551389/pengguna-internet-indonesia- didominasi-milenial
  5. Septalisma, Bisma. 2021. Sebut netizen RI paling tidak sopan, akun Microsoft diserang. CNN Indonesia.                        [Diakses        pada        22        Maret        2021].        Tersedia        pada https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210226140821-192-611309/sebut- netizen-ri-paling-tidak-sopan-akun-microsoft-diserang.
  6. UNDANG – UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG
  7. KEPEMUDAAN di https://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2009_40.pdf


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

Share

96 thoughts on “Masa Lalu Dan Masa Kini Yang Kian Melekang: Pemuda Perlu Berubah Mengambil Peran

  1. Wow tema yang diambil bagus sekali, pemilihan kata yang tepat serta kalimat yang digunakan mudah dipahami oleh orang awam seperti saya, sukses terus amatul untuk karya karya selanjutnya❤

  2. Mantap tulisannya, apalgi penutup nya keren banget tri, pemuda masa kini harus mampu menegakan kebenaran dan bergerak dalam kebaikan. Sukses untuk Putri Amatul Nursyarifah Dwi Khamola, tetap semangat dalam berkarya..

  3. Bagus sekali teh Atul. Tema yang diangkat sangat sesuai dengan keadaan saat ini, dalam penulisan pun sesuai ejaan yg baik dan benar sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami isi tulisan, kata yang digunakan tidak terlalu berat dan yang bermakna sehingga langsung dapat dipahami, isi dari tulisan membuat pembaca menyadari akan hal-hal tersebut. Bangga sekali dengan karya kakak kelas aku, sukses terus dalam menghasilkan karya-karya selanjutnya teh. Semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.