Keterbukaan adalah Kunci Pemuda untuk Persatuan

Keterbukaan adalah Kunci Pemuda untuk Persatuan

Banyak orang khususnya pemuda, baik individu maupun komunal cenderung mempertahankan karakter privasi agar sebisa mungkin tidak dapat diketahui oleh orang lain. Hal yang wajar bagi manusia untuk menjaga martabat sosial nya. Namun, konsekuensi yang dapat terjadi adalah, benturan antar karakter yang saling mempertahankan privasi itu.

Maka ketertutupan menjadi wujud nyata, mulai dari sifat dan tindakan akan terlihat jika hal itu bertemu dalam satu ruang. Apa yang terjadi jika ketertutupan itu terus dilanggengkan? Timbulnya eksklusifisme atau eksklusifitas, yang membuat semua hal yang diluar dirinya atau diluar komunitasnya sebagai gangguan bahkan ancaman. Karena sifat-sifat eksklusif atau bisa kekakuan yang dilanggengkan akan menimbulkan gesekan kecil di publik, dampak besarnya adalah konflik.

Eksklusifitas yang terjadi dalam satu komunitas akan lebih besar berdampak pada komunitas lain, karena melibatkan banyak pihak dan gesekan yang kecil bisa membesar suatu waktu. Hal itu adalah penyakit. Penyakit yang bisa kita lihat, memiliki wujud dan mengancam. Obat dari penyakit itu adalah salah satunya, keterbukaan.

baca juga : PEMUDA, PENA DAN REFORMASI

Dalam melihat kembali fenomena yang terus terjadi dalam kehidupan kepemudaan, eksklusifitas sering terlihat. Ada berapa banyak kasus tawuran antar organisasi pemuda yang terindikasi oleh kekakuan komunitasnya yang merasa eksklusif. Dalam waktu yang bersamaan juga beberapa komunitas kepemudaan menjalin pertemuan untuk mengobati penyakit eksklusifitas itu. Hal ini masih kita lihat dalam skala yang belum besar, hanya melihat satu factor, sebagai pemuda di dalam tatanan kewarganegaraan.

Mari melihat kembali 93 tahun yang lalu, dimana gerakan kepemudaan secara nasional dapat bertemu membuat satu visi khidmat untuk kemerdekaan Indonesia. Pemuda-pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, menempatkan bahkan membuang ke-egoan komunalnya, meredam eksklusifitasnya untuk bersama melihat celah persatuan.

Hal yang bisa direfleksikan dari catatan sejarah diatas adalah bagaimana biang penyakit yang dalam hal ini adalah ke-egoan komunal dapat diatasi, yaitu dengan membuka celah rasa, celah untuk bersatu, celah untuk bersama., apa yang terjadi? Semangat patriotic yang timbul dari membangun rasa yang sama, tujuan yang sama, kesatuan yang sama, menghadirkan kemerdekaan suatu bangsa.

Pemuda Ahmadi dalam Dialog antar Agama

Untuk skala yang lebih luas, yaitu komunitas keagamaan, karena tidak hanya melibatkan unsur kewargaan, namun lebih jauh adalah kepercayaan. Kepemudaan sebagai salah satu instrument yang ada dalam organisasi keagamaan, memiliki peranan krusial. Mengapa? Karena dengan segala kepekaan, inovasi, pergerakan hingga penyakit eksklusifitas dapat bereaksi cepat bagi kelompok pemuda keagamaan.

baca juga : Jihad Pemuda Menuju Reformasi Indonesi Damai

Banyak organisasi kepemudaan berlatar belakang agama, berlatar belakang etnis yang berbeda-beda menginisiasi suatu pertemuan untuk saling berjumpa jiwa, raga dan rasa. Baik internasional, nasional maupun regional. Yang mereka bicarakan adalah mengupayakan celah persatuan yang dengan melihat mereka apa adanya dan berbagi rasa dan dinamika bagi komunitas lain karena perbedaan yang ada dalam perjumpaan mereka adalah suatu realita yang dapat dibicarakan bahkan dibagikan satu dengan yang lain.

Gerakan kepemudaan yang sudah berkembang 10 tahun terakhir yang bisa kita lihat adalah dari NGO-NGO kepemudaan seperti Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC) dan Inisiative of Change (IofC), mereka adalah salah dua organisasi kepemudaan yang melibatkan banyak komunitas kepemudaan berlatar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda untuk merefleksikan rasa, nasib, kasih dan dinamika komunitas masing-masing.

Dalam beberapa agenda mereka adalah pesan perdamaian antar golongan. Nilai positif yang keluar itu adalah jika eksklusifitas sudah hilang terobati dari ke-egoan, kekakuan, dan ketertutupan. Maka, narasi keterbukaan sangat penting dan sering digaungkan dalam agenda-agenda mereka.

Lebih kurang 5 tahun terakhir ini Pemuda Ahmadiyah Indonesia terlibat dalam kegiatan-kegiatan YIPC dan IofC. Salah satu diantara agendanya adalah dialog antar- agama. Ruang spiritualitas yang sakral dan khidmat dapat menjadi cair dan hangat untuk diperbincangkan, karena nilai-nilai keterbukaan dan rasa saling percaya itulah yang diimplementasikan.

Asumsi-asumsi liar, pertanyaan-pertanyaan, dan kesalahpahaman yang terjadi didalam komunitas kepemudaan yang ikut berpartisipasi dapat spontan diredam dan diperbaiki dengan keramah-tamahan dialog. Dialog antar- agama yang merupakan suatu hal penting dalam membangun perdamaian adalah wujud dari hasil perjumpaan ide, rasa, nasib, keresahan, perbedaan hingga kesamaan yang diinteraksikan.

Dalam memperingati Hari Toleransi, yang mana Toleransi dalam bentuk dinamika kehidupan keagamaan, dialog antar agama menjadi satu indikator yang signifikan terhadap toleransi antar umat beragama. Hal yang perlu diperhatikan adalah, sebagai pemuda Ahmadi, apakah kita masih ada eksklusifitas di komunitas kita? Apakah masih ada ketertutupan di dalam organisasi kita? apakah masih ada sifat kekakuan? Apakah masih ada ke-egoan komunal didalam diri dan komunitas kita?

baca juga : Ta’aruf Untuk Penguat Sikap Toleransi

Mari merefleksikan kembali, dimana kita berada, seperti apa kondisi kita, dan apa yang harus kita perbaiki. Dialog antar agama yang menjadi sarana Rabtah bagi pemuda Ahmadi adalah kesempatan besar bagi pemuda Ahmadi untuk membuang penyakit-penyakit ke-egoan, ketertutupan dan eksklusifitas. Untuk memulai dalam terjun aktif pada dialog antar agama, merupakan modal penting untuk memiliki keterbukaan, membangun kepercayaan dan inklusif (lawan dari eksklusif).

Sederhananya, pemuda Ahmadi yang inklusif adalah kunci terciptanya persaudaraan. Pemuda Ahmadi yang terbuka adalah kunci terciptanya perdamaian. Pemuda Ahmadi yang telah membangun rasa percaya dengan komunitas lain adalah kunci terciptanya kekeluargaan dalam skala kehidupan kepemudaan. Maka toleransi intra agama dan antar agama suatu keniscayaan bagi pemuda Ahmadi jika sudah memiliki kunci-kunci itu.

Penulis: Shakeel Ahmad

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.