Kegembiraan Berpuasa Di Tengah Pandemi Covid-19

Kegembiraan Berpuasa Di Tengah Pandemi Covid-19

Kegembiraan Berpuasa Di Tengah Pandemi Covid-19

Islam Keren

May 6, 2020

Assalamualaikum sobat keren,

Sudah lebih dari satu bulan, masyarakat di Indonesia menjalani aturan protokol kesehatan demi memutus rantai penyebaran covid-19. Ritme kehidupan masyarakat di Indonesia berubah drastis di tengah pandemi, karena faktanya pandemi ini bukan kejadian biasa, karena menyebabkan kasus positif 11.192 dan 845 kasus kematian (covid19.go.id).

Update informasi terbaru lebih dari 22 daerah telah menerapkan PSBB dan hal ini secara otomatis berdampak langsung kepada kehidupan masyarakat yang salah satu diantaranya mereka harus menahan diri untuk tetap tinggal di rumah kecuali hanya untuk keperluan-keperluan yang sangat mendesak dengan mentaati aturan PSBB tersebut dengan disiplin demi keefektifan aturan tersebut untuk menahan dan memutus penyebaran covid-19.

Ada satu cerita tersendiri khususnya bagi umat Islam yang harus melaksanakan ibadah puasa saat bulan Ramadhan tiba. Ya, berpuasa di tengah pandemi yang sedang melanda. Berpuasa dengan segala pembatasan sosial yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Anjuran Pemerintah untuk melakukan social distancing meliputi kerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah di rumah dirasakan sangat sulit bagi sebagian umat Islam terlebih lagi saat memasuki bulan suci Ramadhan.

Di saat Rasulullah SAW menasehatkan untuk melakukan “qiyaamu Ramadhan” yakni menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah khususnya melaksanakan sholat Tarawih berjama’ah di Masjid saat bulan suci Ramadhan namun anjuran dari Pemerintah malah bertolak belakang dari hal itu. Padahal ini adalah satu ibadah yang disunnahkan dan hanya dilaksanakan saat bulan Ramadhan saja.

Pemerintah dalam hal ini Kemenag secara resmi telah mengeluarkan himbauan kepada umat Islam untuk melaksanakan segala bentuk ibadah di bulan suci Ramadhan termasuk sholat tarawih di rumah bersama keluarga inti. Hal ini membuat sebagian orang merasa sedih karena mereka tidak akan dapat melakukan rangkaian ibadah di Masjid seperti yang mereka biasa lakukan di tahun-tahun sebelumnya saat memasuki bulan suci Ramadhan.

Sudah menjadi satu tradisi dalam masyarakat Indonesia bahwa memasuki bulan suci Ramadhan orang-orang dengan penuh suka cita datang untuk meramaikan Masjid dengan berbagai ibadah dari mulai buka puasa bersama, tadarus Al-Quran dan sholat Tarawih. Namun di tengah pandemi covid-19 ini semuanya harus dilakukan di rumah. Kesedihan ini disebabkan karena kerinduan mereka semua untuk melakukan semua hal itu kembali dan bersilaturahmi seperti biasa kepada jama’ah yang lain.

Dalam artikel ini tidak akan dibahas dari perspektif tinjauan ilmu Fiqh mengenai anjuran dari Pemerintah untuk ibadah di rumah, karena anjuran tersebut sudah melalui pertimbangan dan pendapat para Ulama bukan hanya di Indonesia namun juga di negara-negara yang lain seperti Arab Saudi maupun Mesir. MUI juga mengeluarkan himbauan yang senada dengan anjuran dari Pemerintah ini. Jadi sebenarnya umat Islam di Indonesia tidak perlu ragu-ragu lagi untuk melaksanakannya demi kemaslahatan bersama.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah betul kita perlu merasa bersedih saat ini? Apakah benar itulah satu-satunya indikasi kebahagian kita saat memasuki Ramadhan yakni bisa buka puasa bersama, tadarus Al-Quran bersama-sama serta sholat Tarawih berjama’ah di Masjid?

Mari kita lihat sejenak apakah yang dimaksud dengan kebahagian menurut Hadhrat Rasulullah SAW saat Ramadhan itu. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Jadi sudah sangat jelas dalam hadits qudsi ini disebutkan ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yang pertama kebahagian saat berbuka puasa. Mengapa orang yang berpuasa merasa bahagia saat berbuka puasa? Apakah karena nikmatnya es buah, opor ayam, sate kambing, dll itu yang membuatnya bahagia. Kalau ukuran kebahagian itu hanya sebatas hidangan pemuas jasmani yang disuguhkan pada saat berbuka, maka orang-orang dhu’afa dan fakir miskin yang hanya bisa berbuka puasa dengan segelas air putih dan nasi putih saja tidak akan pernah merasakan kebahagian tersebut.

Jadi kebahagiaan yang dimaksud adalah bahagia karena orang yang berpuasa tengah menyantap hidangan ruhani yang memuaskan dahaga dan lapar ruhaninya. Kebahagiaan disebabkan karena telah menunaikan perintah Allah Ta’ala dengan “imaanan wa ihtisaban” dengan keimanan yang tulus ikhlas dan introspeksi diri untuk meraih ridho Allah Ta’ala semata. Sehingga kebahahiaan yang pertama ini baru ada kaitannya dengan kebahagian yang kedua yakni kebahagian karena berjumpa dengan Rab-Nya.

Dalam hadits qudsi ini mengajarkan kepada kita orang-orang yang berpuasa bahwa seharusnya dalam kondisi sesulit apapun itu, Allah Ta’ala tetap akan menganugerahkan kebahagiaan itu. Inilah yang disebut “true happiness” atau kebahagiaan yang sejati yang tidak akan pernah terenggut dalam situasi dan kondisi sesulit dan seberat apapun itu.

Pernahkah kita membayangkan ada seorang Muslim yang tinggal di satu pulau terpencil sedangkan dirinya adalah satu-satunya Muslim yang ada disana dan penduduk yang lainnya non Muslim. Tidak ada ada umat Islam yang lain untuk diajak buka puasa bersama, tidak ada yang bisa diajak tadarus Al-Quran bersama dan sholat tarawih juga. Mungkin kondisinya persis sama dengan jutaan umat Islam di Indonesia yang sedang  beribadah puasa di tengah pandemi saat ini. Lalu apakah dia tidak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan saat Ramadhan tiba?

Ya, dia berhak bahagia karena ibadah puasa yang dilakukannya membuahkan kebahagiaan ruhani seperti yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Jadi siapapun yang ingin bahagia di tengah pandemi ini maka berbahagialah, karena kebahagiaan ini adalah milik mereka semua yang menghajatkan kebahagiaan spiritual bukan material semata. Mari kita sama-sama mengejar kebahagiaan sejati tersebut.

Penulis : Muhammad Idris

[DISPLAY_ULTIMATE_PLUS]

Share

3 thoughts on “Kegembiraan Berpuasa Di Tengah Pandemi Covid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.