Keberkahan Tak Tergantikan

Keberkahan Tak Tergantikan

Alhamdulillah ada hal yang membuat saya terkesan terhadap keajaiban Jalsah yang saya ikuti. Begitu khusuknya saya menyaksikan Jalsah Salanah kali ini, hingga tanpa sadar, ternyata suami saya pun mengikutinya. Padahal, dia sangat tidak perduli dengan aktivitas saya selama ini.

Acara Jalsah kali ini cukup berkesan, walaupun jaringan sangat bermasalah. Sejak awal, sudah harus berjuang mencari jaringan sana-sini. Alhamdulillah dapat, walaupun timbul-tenggelam sehingga ada yang tertinggal, tak tahu apa yang di ucapkan para penceramaah. Namun apapun kondisinya tetap saya dan suami menyimaknya.

Baca Juga : Mengulang Kenangan Jalsah Salanah

Dari sekian banyak penceramah, ada yang sangat menyentuh hati saya secara langsung dan mampu menguras air mata. Kisah yang dipaparkan penceramah ke-tujuh membuat saya terharu terhadap pengorbanan para syuhada Islam. Dalam kisah tersebut, Ikrima terluka parah berserta rekan-rekannya. Ikrima sangat kehausan akan tetapi ketika beliau menoleh kesebelahnya rupanya masih ada temannya yang lebih membutuhkan air.

Maka Ikrima memberikan isyarat agar air minumnya diberikan kepada temannya yang sebelahnya, begitupun teman Ikrima yang nya, beliau memberi isyarat agar air minumnya di berikan ke kawan lainnya yang lebih membutuhkan.

Ya Allah, betapa di tengah tengah kondisi yang terluka parah, seseorang masih ingin berbagi ke teman-temannya. Ikrima tidak memperdulikan dirinya yang sangat harus dan kehabisan darah, tetapi beliau mementingkan teman-temannya yang terluka parah.

Baca Juga : Pertemuan Pengobat Rindu

Menurut saya, inilah kisah yang patut di tiru dan dibudayakan oleh kita, terlebih untuk generasi anak-anak Ahmadi saat ini. Di dalam segala aspek kehidupan saat ini, sudah tidak lagi yang demikian peduli, memperhatikan lingkungan sekitar kita. Rasa empati tidak lagi menjadi budaya dan rasa solidaritas teramat sangat langka. Bentuk seperti inlah yang di harapkan oleh Islam saat ini, dimana Islam mengjarkan cinta kasih pada sesama.

Jalsah yang telah berlangsung mengajarkan dan menyadarkan kita semua saat ini untuk lebih peduli. Melebihi kepedulian mereka yang di luar sana. Bukan hanya itu, untuk menjadi peduli, juga diperlukan kelemahlembutan, sebagaimana huzur setiap menyampaikan banyak nasihat, selalu huzur contohkan dengan jiwa yang lembut. Apa yang telah di sampaikan dalam (maktubat e Ahmadiyyah Volume 4 halaman 6; Surat kepada Maulwi Muhammad Hussain; Tadhkirah, Edisi Bahasa Indonesia,2014 halaman 160 ), “Keteranganmu terlalu keras. Lemah lembut diperlukan, maka berlakulah lemah lembut.”

Semoga Jalsah kali ini menarik keberkahan Allah dan mampu memunculkan kebiasaan baru yang lebih peduli dan penuh kelemahlembutan, demi mencari “Ridho Allah Ta’ala”.  Terutama, dalam memberikan contoh empati pada sesama manusia di masa sekarang ini.

Penulis: Nurlelah, S.Pd

Baca Juga : Hikmah Indah di Balik Rencana yang Tertunda

Share

2 thoughts on “Keberkahan Tak Tergantikan

  1. Asslkm, wr wb.
    Sikap dan rasa toleransi harus lah di ikuti, karena kelembutan itu mampu menggoyahkan singasana keangkuhan sekalipun. Semoga Islam bisa jaya, cepat atau lambat insya Allah akan menang✍️✍️✍️🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.