Jangan Takut Miskin Berjual Beli dengan Allah SWT

Jangan Takut Miskin Berjual Beli dengan Allah SWT

Tidak jarang seseorang yang berkurban atau yang akan memberikan pengorbanan, mendapat bisikan dalam hatinya, untuk menunda berkorban. Bisikan itu datang baik dari dirinya sendiri, atau dari orang lain yang menganjurkan untuk tidak bersedekah, atau tidak terlalu banyak memberi karena takut miskin. Hal itu dengan alasan, agar hartanya aman dan cukup untuk keluarga di masa mendatang.

Sering bisikan ini mengakibatkan seseorang mengurungkan niatnya berkorban, atau mengurangi nilai pengorbanannya. Yang paling berperan dalam membisikkan rasa takut akan kemiskinan dalam bersedekah adalah setan. Setan sering membisikkan dalam hati manusia, “Jangan berkurban, jangan bayar candah, bersedekah, jangan menyumbang, hartamu akan berkurang, padahal engkau memerlukan harta itu. Jika kamu menyumbang, kamu akan terpuruk dalam kemiskinan.”

Baca Juga :

Takut Miskin? Hati-hati Itu Bisikan Syaitan!

Hasil dari tergodanya seseorang akan gangguan setan dalam berkurban adalah kikir, di samping dia tidak akan tulus dalam bersedekah. Kikir dalam artian, dia takut hartanya akan habis karena berkurban, atau kehidupannya akan hancur karena berkurban.

Allah SWT berfirman,

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةً مِّنۡهُ وَفَضۡلًاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Syaitan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan, dan menyuruh kamu berbuat kekejian, dan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas Karunia-Nya, Maha Mengetahui. [ Al Baqarah : 269 ]

Dalam ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas ra., ada 2 hal yang dipengaruhi syaitan dan ada hal yang berasal dari Tuhan. Syaitan memberikan pengaruh dengan takut akan kemiskinan dan perbuatan keji. Sedangkan Allah swt memberi janji kepada kita dengan ampunan dan karunia.

Terkadang manusia lebih memilih pada kemiskinan. Mereka takut akan sengsara menjalani kehidupan dunia dibandingkan mencari ridho Allah swt. Mereka lupa bahwa Allah swt adalah Mahakaya, Sang Empunya karunia.

Perkataan  ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ  “syaitan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan” adalah sebuah gambaran dari Allah swt akan keadaan yang dialami manusia. Allah swt menjelaskan ini  dalam Alquran agar manusia selalu berhati-hati dengan bisikan-bisikan yang muncul dalam kalbunya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia menceritakan, Rasulullah ﷺ bersabda,

"إِنْ لِلشَّيْطَانِ لَلَمّة بِابْنِ آدَمَ، وللمَلك لَمة، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَادٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ. فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فليعلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ، فَلْيحمَد اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ". ثُمَّ قَرَأَ: {الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا} الْآيَةَ.
Artinya: “Sesungguhnya setan itu mempunyai dorongan atau bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga mempunyai dorongan atau bisikan pula. Dorongan setan itu berupa upayanya mengembalikan kepada kejahatan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan dorongan malaikat berupa upaya mengembalikan kepada kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran. Barangsiapa mendapatkan hal tersebut, maka hendaklah ia mengetahui bahwa yang demikian itu dari Allah, dan hendaklah ia memanjatkan pujian kepada-Nya. Dan barangsiapa mendapatkan selain dari itu, maka hendaklah ia berlindung dari setan.” [ At-Tirmidzi 2988 dan Nasai 11051 ]

Dalam hadits ini Rasululullah ﷺ dengan gamblang menjelaskan kepada kita, bagaimana syaitan dan malaikat membawa pengaruh dalam kehidupan manusia, dan apa yang harus dilakukan ketika dalam hati kita terdapat bisikan-bisikan, baik itu yang mengarah kepada kebaikan atau keburukan.

Manusia sebagai makhluk yang berdikari diberi keleluasaan oleh Allah swt untuk berfikir, menimbang dan mengembangkan kemampuan dirinya. Dia bisa menjadi seperti malaikat yang orientasinya kehidupan ukhrawi, atau bisa juga menjadi seperti syaitan yang orientasi kehidupannya adalah duniawi.

Allah SWT juga telah mengingatkan kita menganai hal ini dalam ayat lain :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam kepatuhan seutuhnya dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan; sesungguhnya bagimu, ia musuh yang nyata. [ Al Baqarah : 209 ]

Ini merupakan pedoman bagi kita, agar kita selalu berhati-hati dalam melangkah menjalan,i kehidupan di dunia ini. Bisa jadi apa yang kita anggap baik untuk diri kita, adalah buruk dalam pandangan Allah swt. Ketakutan akan kesengsaraan, menjadikan kita kikir terhadap Allah swt. Namun hal itu justru akan membawa kita kepada kehancuran hidup. Yakinlah bahwa Allah swt tidak akan meninggalkan kita jika kita mendahulukan urusan-urusan rohani.

Baca Juga :

Harta Tidak Akan Berkurang Dengan Berkurban

Berkurban di jalan Allah SWT tidak akan membuat kehidupan seseorang menjadi sengsara, tidak juga akan membuat harta kita berkurang bila diikuti dengan keyakinan kepada Allah swt, serta dengan tujuan hanya untuk meraih ridho-Nya.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” [ Muslim no. 2588 ]

Dalam urusan ibadah, janganlah kita melihat dan menimbang dengan kacamata duniawi. Ibadah adalah hubungan kita secara rohaniah dengan Allah seperti halnya dalam masalah pengorbanan. Kalau dilihat dari sisi duniawi, jumlah harta kita mungkin saja berkurang. Namun kalau kita lihat dari sisi rohani, secara hakikat dan keberkahannya justru malah bertambah. Boleh jadi kita berkurban, lalu Allah SWT beri ganti dengan 100 kali lipat. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Dan apa yang kamu belanjakan dari sesuatu, tentulah Dia akan menggantikannya ; dan Dia adalah sebaik- baik Pemberi rezeki.” [ As Saba’: 40 ]

Allah swt juga akan mengganti pengorbanan kita tersebut segera di dunia. Selain itu, Allah swt pun akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah adalah seumpama sebuah biji menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir terdapat seratus biji. Dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengatahui” [ Al Baqarah: 262 ]

Ini merupakan janji Allah kepada kita, dan siapa yang lebih menepati janji selain Allah SWT? Sudah banyak contoh yang kita dapatkan atau kita dengar tentang keberkahan Allah, yang datang kepada orang-orang yang percaya dan mencari keberkahan-Nya. Sekarang tinggal giliran kita, apakah kita mau mengambilnya atau tidak.

Hz. Masih Mau’ud as. Bersabda,

Hanya satu maksudnya yang jelas nampak bahwa apa saja pekerjaan yang dikerjakan demi untuk-Nya, maka sebagai ganjarannya, Allah SWT melipatgandakannya beberapa kali lipat. Kini, ini pun merupakan kebesaran Allah SWT bahwa renungkanlah perkara yang terkait hubungan hamba dengan Allah SWT, maka dengan jelas ini dapat dipahami bahwa Allah SWT memelihara setiap orang tanpa kebaikan, doa dan permohonan serta tanpa perbedaan antara kafir dan beriman pun. Dia memberi kepada orang-orang tanpa mereka meminta-Nya. [ Malfuzhat, jilid awwal, h. 147 ]

Baca Juga :

Jangan Menghalangi Anugerah Allah SWT

Pengorbanan yang kita lakukan di jalan Allah SWT sejatinya akan menarik anugerah dan karunia-Nya kepada kita sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 262 di atas. Ketika kita kikir terhadap Allah SWT, tidak mau menafkahkan atau mengorbankannya, berarti kita telah menghalangi anugerah dan karunia Allah SWT atas diri kita sebagaimana yang tertulis dalam sebuah hadits:

Dari Asma’ binti Abi Bakr ra., Rasulullah ﷺ bersabda padaku,

لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ
“Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ
“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” [ Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029,88 ]

Melalui hadits ini jelaslah bagi kita bahwa apabila kita ingin mendapatkan anugerah dan karunia dari Allah swt, salah satu jalan yang bisa kita tempuh adalah dengan mengorbankan harta kita.

Memang, tak bisa dipungkiri sebagai manusia terkadang kita lemah ketika dihadapkan dengan masalah-masalah duniawi, kemiskinan, kekurangan harta, dan semua kebutuhan hidup kita selama di dunia. Takut miskin adalah sifat alami yang terkadang ada dalam diri manusia. Tapi, hal itu jangan lah menjadi sebuah alasan untuk meninggalkan Allah.

Ketika keyakinan kepada Tuhan berkurang, maka kita akan terjerumus ke dalam kebahagian semu dan jurang nafsu duniawi. Sebaliknya, Ketika keyakinan pada Tuhan tetap teguh dan bertambah di masa-masa yang sulit, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Sebenarnya ridha Allah SWT yang menjadi kegembiraan hakiki itu tidak dapat diraih tanpa menanggung kesulitan-kesulitan sementara dengan sabar dan tabah. Tuhan tidak dapat ditipu. Selamat sejahteralah mereka yang tidak menghiraukan kesulitan demi meraih ridha Allah SWT, sebab kegembiraan kekal dan cahaya ketenteraman abadi hanya dapat diperoleh orang-orang beriman setelah melewati kesulitan-kesulitan yang sifatnya sementara itu.”[ Malfuzhat jilid awwal, halaman 367-368 ]

Beliau as juga bersabda,

 “Dengan berkat rabbubiyat dan rahmaniyat-Nya, Dia mendatangkan keberkatan kepada semua orang. Kemudian pernahkah Dia akan menyia-nyiakan kebaikan seseorang? (Tatkala keberkatan secara umum mengalir di setiap tempat maka bagaimana bisa Dia menyia-nyiakan kebaikan orang yang melakukan kebaikan) Tanda Keagungan-Nya adalah فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (Az-zilzal : 8) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah sekalipun, ganjarannya pun niscaya Dia akan anugerahkan. Dan barangsiapa yang melakukan sedikit saja keburukan maka dia akan menemukan akibat keburukannya. [Malfuzhat, jilid awwal, h. 148 ]

Baca Juga :

Doa Malaikat Bagi Orang Yang Berkurban Di Jalan Allah SWT

Sebagaimana disebukan dalam hadits tadi bahwa sikap bakhil terhadap Allah akan membuat manusia terhalang dari anugerah Allah swt. Bahkan bisa membuat manusia justru terjerumus kedalam kehancuran. Dalam sebuah hadits yang lain dijelaskan,

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
‘Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.'” [ Bukhari dan Muslim ]

Mengenai hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as. juga bersabda,

“Dikutuklah orang-orang yang menghabiskan ratusan untuk pertunjukan dan pameran, tetapi ketika datang untuk membelanjakan uang di jalan Allah SWT, mereka menemukan berbagai macam alasan. Sungguh memalukan bahwa seseorang memasuki Jemaat ini dan tidak meninggalkan sifat kikir dan jahatnya. Allah SWT telah menetapkan sedemikian rupa, bahwa rombongan anak buah-Nya selalu membutuhkan bantuan keuangan di awal. Bahkan Nabi Suci kita menerima Chanda dari murid-muridnya, di antaranya Hadhrat Abu Bakar yang paling terkemuka. Jadi, majulah untuk membantu dengan keberanian jantan dan tanpa ragu-ragu… Mereka yang membantu kita hari ini akan menyaksikan bantuan Allah SWT.” (Majmua-e-Ishtiharat, Jilid 3, hal. 156)

Semoga kita semua terhindar dari sifat-sifat seperti ini dan selalu menjadi manusia-manusia yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah swt. Keyakinan kepada Allah dalam berkurban pasti akan membawa karunia-Nya kepada kita. Jadi, jangan pernah takut miskin dalam berkurban di jalan Allah swt.

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.