Haruskah Jihad Dengan Pedang? (Bagian ke-3 – Habis)

Haruskah Jihad Dengan Pedang? (Bagian ke-3 – Habis)

Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud) datang ke dunia dengan tujuan untuk menghapus anggapan perlunya jihad mengangkat senjata atas nama agama. Ia akan menegakkan kembali siar Islam tanpa bantuan pedang dan hanya dengan penalaran dan argumentasi saja maka agama Islam dengan segala nilai-nilai inherennya yang luhur, mutiara-mutiara wawasan, bukti-bukti dan tandatanda Ilahi yang hidup bisa menjadi daya tarik bagi manusia umumnya.

Mereka yang menyatakan bahwa Islam disiarkan dengan tekanan pedang sesungguhnya mereka itu berdusta. Islam sama sekali tidak membutuhkan paksaan dalam bentuk apa pun. Jika ada yang meragukan hal ini, silakan datang kepadaku dan tinggal bersamaku untuk suatu jangka waktu, guna melihat sendiri bagaimana Islam memberikan bukti-bukti melalui penalaran dan tanda-tanda Ilahi sebagai tanda dari suatu agama yang hidup.

Allah s.w.t. berkehendak dan telah memutuskan bahwa semua keberatan yang diajukan oleh orang-orang yang berprasangka buruk, sekarang inilah saatnya ditangkal secara efektif. Mereka yang menuduh Islam disebar-luaskan dengan kekuatan pedang, sekarang ini saatnya dipermalukan. (Malfuzat, vol. III, hal. 176).

Baca Juga :

Imam Mahdi Tidak Akan Berperang Dengan Pedang

Akidah yang umum dianut para ulama Muslim menyatakan bahwa Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Maud) akan turun dari langit, akan memerangi mereka yang kafir, tidak akan membayar pajak negara dan hanya akan memberikan dua pilihan, Islam atau mati. Akidah seperti ini sepenuhnya dusta.

Akidah demikian penuh dengan segala kesalahan dan kejahilan serta bertentangan sama sekali dengan ajaran Al-Quran. Akidah tersebut merupakan rekayasa dari para penipu. (Nurul Haq, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 8, hal. 67, London, 1984).

Tidak ada paksaan dalam agama Islam. Menurut Islam, hanya ada tiga macam perang yang diperbolehkan, yaitu:

1.       Perang yang dilakukan dengan tujuan membela diri;

2.       Perang yang dimaksudkan sebagai hukuman terhadap suatu tindak agresi;

3.       Perang yang dilancarkan dengan maksud penegakan kemerdekaan berpendapat, dengan pengertian   memunahkan kekuatan dari mereka yang membunuh orang hanya karena yang bersangkutan menganut agama Islam.

Karena Islam tidak mengizinkan penggunaan kekerasan dalam penyebarannya, maka jelas absurd dan tidak masuk akal jika ada yang menantikan kedatangan sosok Mahdi atau Al-Masih yang berlumur darah. Jelas tidak mungkin ada siapa pun yang muncul untuk memaksa manusia masuk Islam dengan tekanan pedang, karena hal itu bertentangan dengan ajaran jelas yang terdapat di dalam Al-Quran. (Masih Hindustan Mein, Machine Press, Qadian, 1908, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 12, London, 1984).

Baca Juga :

Pedang Bukan Solusi untuk Kurangnya Pengetahuan

Kiranya patut direnungkan bahwa, jika ada orang yang belum bisa menerima suatu agama karena ia belum menyadari kesucian ajarannya dan nilai-nilai inherennya yang luhur, apakah patut jika yang bersangkutan langsung ditetak dengan pedang?

Sesungguhnya orang seperti itu malah patut diperlakukan dengan belas kasih serta dijelaskan kepadanya secara sopan dan halus tentang segala kebenaran dan keluhuran serta kemuliaan keruhanian daripada agama tersebut. Jadi bukan menekan keingkarannya dengan pedang atau senapan.

Karena itu, akidah Jihad sebagaimana yang dikemukakan beberapa kelompok Muslim tertentu, bahwa sudah mendekat saat datangnya Imam Mahdi sebagai petarung dengan nama Imam Muhammad, dan bahwa Yesus akan turun dari langit untuk bergabung dengannya, di mana mereka berdua akan menjagal semua manusia yang menolak Islam, sesungguhnya adalah suatu pandangan yang bertentangan dengan moralitas.

Tidakkah akidah ini akan membekukan semua fitrat murni manusia dan melahirkan emosi laiknya binatang liar? Orang-orang yang menganut akidah seperti itu, akan selalu memandang curiga manusia lainnya. (Masih Hindustan Mein, Machine Press, Qadian, 1908, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 8-9, London, 1984).

Baca Juga :

Masih Mau’ud Bertujuan Menghentikan Perang

Akidah Jihad sebagaimana pemahaman dan disebarluaskan oleh para ulama Muslim abad ini yang biasa disebut Maulvi, sesungguhnya salah sama sekali. Akidah seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali menjadikan umat awam menjadi hewan liar yang tidak lagi memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, dan nyatanya hal seperti itulah yang telah terjadi saat ini.

Aku yakin benar bahwa beban dosa dari orang-orang yang melakukan pembunuhan karena kebodohan akibat dari khutbah-khutbah seperti itu, sepenuhnya terletak di pundak para Maulvi yang terus saja menyebarluaskan pandangan mereka tersebut. Orang-orang tersebut tidak mengetahui dasar alasan yang menjadikan umat Muslim di masa awal terpaksa mengangkat senjata.

Ketika para Maulvi ini bertemu dengan pejabat-pejabat pemerintahan, mereka membungkukkan diri sepertinya akan sujud di hadapan mereka, tetapi jika berada di tengah kelompoknya sendiri, mereka terus saja menyatakan bahwa negeri India ini adalah Wahana Perang (Darul Harb) dimana penggunaan pedang untuk siar Islam dianggap sebagai suatu kemestian.

Hanya sedikit saja dari mereka yang tidak menganut akidah seperti itu. Mayoritas dari kelompok mereka menganut akidah palsu ini yang sebenarnya bertolak belakang dengan ajaran Al-Qur’an, serta petunjuk Hazrat Rasulullah saw. Mereka memfatwakan, siapa saja yang bertentangan pendapat dengan mereka adalah Anti Kristus (Dajjal) dan menghalalkan darahnya.

Baca Juga :

Akidah Jihad Imam Mahdi

Aku sendiri sudah lama menjadi sasaran fatwa mereka. Mereka harus menyadari kalau akidah Jihad, sebagaimana yang mereka kemukakan tersebut, sesungguhnya tidak benar sama sekali. Akibat langsung dari akidah demikian ialah hilangnya fitrat welas asih manusia. Anggapan mereka tentang jihad yang belum juga bisa dilaksanakan seperti di awal, sebenarnya keliru betul.

Ada dua jawaban untuk hal ini. Pertama, Hazrat Rasulullah saw tidak pernah mengangkat senjata kecuali terhadap mereka yang mendahului melakukan pembunuhan orang-orang saleh yang tidak berdosa, wanita dan anak-anak. Orang-orang tidak berdosa ini dibunuh dengan cara yang sedemikian kejam, sehingga terus membuat orang mengucurkan air mata ketika membacanya di saat sekarang.

Kedua, misalnya pun dianggap bahwa Jihad di masa awal Islam merupakan kewajiban (sebagaimana kekeliruan pandangan para Maulvi tersebut), namun untuk masa kini hal itu tidak lagi berlaku. Hal itu karena sudah disuratkan bahwa jika Masih Mau’ud muncul di muka bumi, maka Jihad dengan pedang dan segala perang agama akan ditiadakan, karena sosok mulia ini tidak akan menggunakan pedang atau senjata duniawi lainnya.

Sarana yang digunakannya hanyalah doa, dan senjatanya hanyalah keteguhan hati. Ia akan meletakkan sendi dasar perdamaian yang akan menghimpun domba dan singa menjadi satu kesatuan. Masanya adalah abad perdamaian, kelembutan dan welas asih manusia.

Mengapa orang-orang tersebut tidak merenungi kenyataan bahwa seribu tiga ratus tahun yang lalu, Hazrat Rasulullah saw sudah menyatakan berkenaan dengan Al-Masih yang Dijanjikan bahwa: ‘Ia akan menghentikan segala perang.’

Wahai kalian para ulama Muslim dan Maulvi, dengarlah himbauanku. Aku jelaskan kepada kalian bahwa masa kini bukan saatnya lagi berperang demi agama. Jangan kalian melawan perintah Hazrat Rasulullah saw. Adapun Al- Masih yang Dijanjikan sekarang ini telah datang dan telah mendapat perintah: ‘Jangan lagi melakukan perang agama dengan pedang yang menyebabkan pertumpahan darah.’ Jika tetap saja melakukan pertumpahan darah dan tidak menghentikan khutbah-khutbah yang mengarah ke sana, sesungguhnya bukanlah jalan Islami.

Baca Juga :

Kewajiban Menghentikan Perang

Ia yang beriman kepadaku tidak saja akan berpaling menjauh dari khutbah seperti itu, tetapi juga akan menganggapnya sebagai cara yang keji yang akan mengundang kemurkaan Ilahi. Sekarang karena Masih Maud sudah datang, adalah kewajiban setiap Muslim untuk menghentikan penggunaan perang guna penyiaran agama Islam. Kalau saja aku tidak diutus, maka mungkin saja beralasan adanya kesalahpahaman demikian.

Tetapi sekarang aku telah datang dan kalian telah menyaksikan hari yang dijanjikan, maka mereka yang mengangkat senjata atas nama agama sudah tidak lagi punya alasan yang bisa dikemukakan di hadirat Allah swt. Mereka yang punya mata dan biasa membaca Al-Quran serta Hadith akan menyadari bahwa jenis Jihad yang digalakkan mereka yang bodoh di zaman ini, sesungguhnya tidak dibenarkan dalam Islam.

Pandangan mereka itu merupakan kesalahan yang menyebar di antara umat Muslim sebagai akibat dari luapan nafsu yang tidak benar, atau harapan kosong guna mendapatkan surga melalui tindakan yang salah arah itu. Para Maulvi yang bodoh secara sangat menyedihkan telah menyesatkan orang-orang awam dengan mengatakan bahwa Jihad seperti itu adalah kunci ke surga, padahal kelakuan demikian jelas salah, kejam dan bertentangan dengan nilai-nilai akhlak yang mulia.

Apakah bisa dikatakan suatu perbuatan yang mulia untuk menembak seorang asing yang sedang melewati suatu jalan dan tidak pernah melakukan apa pun yang merugikan kita? Bila perbuatan tersebut disebut sebagai amal saleh, sesungguhnya hewan liar memiliki akhlak yang lebih baik dari manusia. Maha Agung Allah, betapa tinggi takwa mereka yang diilhami dengan ruh para Nabi, di mana ketika mereka di Mekah diperintahkan jangan melawan kekejian sekelilingnya, mereka patuh, dan bersikap rendah hati dan lemah laiknya bayi yang masih menyusu, seolah tangan dan kaki mereka tidak berdaya sama sekali.

Baca Juga :

Jihad Sesungguhnya adalah Pensucian Kalbu

Betapa menyedihkan dan memalukan bahwa seorang yang asing sama sekali dan tidak pernah merugikan kita dan sedang menjalankan perintah kedinasannya, lalu ditembak mati tanpa alasan sehingga isterinya menjadi janda, anak-anaknya menjadi yatim serta tempat tinggalnya menjadi rumah berkabung. Hadith mana dan ayat Al-Quran mana yang memerintahkan tindak laku yang keji seperti itu?

Apakah ada seorang saja ulama (Maulvi) yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan ini? Umat awam yang tidak berpengetahuan, begitu mendengar kata Jihad lalu menjadikannya sebagai pembenaran untuk memenuhi nafsu pribadi mereka sendiri. (Government Angrezi Aur Jihad; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 17, hal. 7-13, London, 1984).

Aku membawa firman kepada kalian yang menyatakan bahwa Jihad dengan pedang sudah dihentikan, tetapi Jihad bagi pensucian kalbu kalian harus terus dilaksanakan. Aku mengatakan ini bukan dari diriku sendiri, tetapi merupakan perintah Ilahi. Renungilah lagi Hadith Bukhari dimana dinyatakan bahwa sosok Al-Masih yang Dijanjikan akan menghentikan perang atas nama agama.

Karena itu aku perintahkan kepada mereka yang telah masuk dalam golongan Jemaatku agar mereka meninggalkan pandangan yang salah tersebut. Kalian harus mensucikan hati kalian, mengembangkan fitrat welas asih, dan harus mengasihi mereka yang sedang menderita. Anggota Jemaatku harus menyiarkan kedamaian di muka bumi, dan dengan cara inilah maka agama Islam akan menyebar.

Kalian tidak perlu merisaukan bagaimana hal ini akan terjadi. Sebagaimana Allah s.w.t. telah memanfaatkan semua unsur dan sarana bumi untuk terciptanya temuan baru bagi kebutuhan manusia berupa lokomotif dan lain-lain, begitu juga Dia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya guna pemenuhan kebutuhan ruhani melalui tanda-tanda surgawi, tanpa campur tangan manusia di mana akan muncul berbagai kilatan cahaya sehingga mata manusia umum akan menjadi terbuka. (Government Angrezi Aur Jihad; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 17, hal. 17, London, 1984).

Penulis : Ihsan Tahir Ahmad

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.