Haruskah Jihad Dengan Pedang? (Bagian ke-2)

Haruskah Jihad Dengan Pedang? (Bagian ke-2)

Pada bagian sebelumnya telah diberikan perbandingan, antara mengangkat pedang atau senjata yang dilakukan oleh Rasulullah saw, dengan Nabi Musa dan Nabi-Nabi Israil.

Setiap orang kiranya bisa memilih mana dari kedua pandangan tersebut yang benar adanya. Di satu sisi, umat Kristiani menyatakan bahwa Tuhan mereka adalah Kasih, bahkan hukuman-Nya pun mengandung aspek kasih. Namun mengapa mereka membedakan aspek kasih yang diberikan Rasulullah ketika perang?

Baca Juga :

Pedang Hanya Untuk Penganiaya

Jika perang yang dilakukan Nabi Musa dengan sangat ganas, dianggap sebagai firman Tuhan, bukankah seharusnya perang yang dilakukan oleh Rasulullah, yang mengandung wewangian kasih Ilahi, adalah perang yang juga penuh kasih. Mengapa umat kristiani tidak bisa meyakininya sebagai perintah firman Allah yang Maha Kuasa?

Mengapa mereka yang menganggap penjagalan anak-anak yang masih menyusu di hadapan mata ibunya, serta penjagalan ibu-ibu di hadapan anak-anaknya sebagai suatu perang yang dilaksanakan atas firman Tuhan? Namun, mengapa mereka tidak bisa menerima perang yang diperkenankan bagi mereka yang teraniaya terhadap para penganiayanya, sebagai perang yang juga dilakukan atas firman Tuhan? (Arya Dharam, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 81-83, London, 1984).

Jika azab penghukuman dengan pedang dianggap bertentangan dengan fitrat Ilahi, maka sebenarnya keberatan umat Kristiani lebih cocok ditujukan kepada Nabi Musa, yang telah menjagal beberapa bangsa, sehingga darah mereka mengalir seperti sungai dengan tidak menyisakan ruang bagi pertobatan para musuhnya.

Perang yang dilaksanakan berdasarkan perintah Al-Quran, masih tetap membuka pintu pertobatan bagi lawan. Hal tersebut merupakan sifat peperangan yang sejalan dengan hukum alam dan fitrat kasih Ilahi.

Kita bisa melihat, bilamana Allah yang Maha Kuasa bermaksud menurunkan hukuman-Nya atas dunia dalam bentuk wabah, pada saat yang bersamaan Dia juga mengaruniakan pengetahuan kepada para tabib atau dokter tentang obat-obatan yang bisa mengatasi penyakit tersebut.

Dengan demikian, sebenarnya metode perang Nabi Musa itulah yang harus dipermasalahkan karena tidak memberi ruang kelepasan bagi musuh, sebagaimana hukum alam. Kalau pun mereka memberi sedikit keringanan, sifatnya amat partial dan tidak sempurna.

Kiranya menjadi jelas sekarang bahwa sejak awal sudah menjadi kebiasaan Ilahi untuk menghancurkan dengan pedang, kepada para pendosa yang memusuhi Nabi-nabi Allah. Lalu mengapa firman yang sama di dalam Al-Quran dianggap sebagai suatu hal yang menyalahi?

Apakah Tuhan di masa Nabi Musa itu berbeda dengan Tuhan di masa Islam? Atau barangkali mereka menganggap bahwa Tuhan di masa Nabi Musa menyenangi peperangan, tetapi Dia sekarang menganggapnya sebagai suatu dosa?

Baca Juga :

Mengangkat Senjata Terhadap Pemerintah

Perlu diingat bahwa Islam mengizinkan mengangkat senjata melawan orang-orang yang memulai mengangkat senjata terlebih dahulu, dan mengizinkan membunuh mereka yang memulai dengan pembunuhan sebelumnya.

Islam tidak mengatur bahwa umat Muslim yang menjadi rakyat dari suatu pemerintahan non-Muslim, yang memperlakukan mereka dengan adil dan persamaan hak, untuk mengangkat senjata melawan pemerintahnya.

“Menurut Al-Quran, cara itu adalah jalan dari orang-orang yang durhaka dan bukan cara dari orang-orang yang bertakwa. Kitab Taurat sendiri tidak memberikan pembedaan yang jelas mengenai hal ini di mana pun. Keadaan mana menunjukkan kalau Al-Quran itu dengan segala firman-firmannya yang agung dan indah, selalu sejalan dengan rasa keadilan manusia, persamaan hak, rahmat dan kerahiman sehingga menjadikan Kitab Suci Al-Quran sebagai kitab yang unik di antara semua kitab-kitab suci.” (Anjam Atham, Qadian, Ziaul Islam Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 11, hal. 37, London, 1984).

“Adalah suatu kesalahan besar dari para lawan kita yang menyatakan bahwa petunjuk yang diwahyukan dalam keadaan apa pun tidak boleh dinyatakan sebagai perlawanan terhadap musuh karena kepada lawan harus selalu ditunjukkan rasa kasih dan sayang melalui kelembutan dan kasih. Orang-orang seperti ini membayangkan bahwa mereka mengagungkan Tuhan yang Maha Mulia dengan mensifatkan kepada-Nya hanya fitrat kelembutan dan kehalusan belaka.

Namun mereka yang berfikir akan menyadari bahwa orangorang ini jelas salah besar. Renungan atas hukum alam Ilahi jelas menunjukkan bahwa kaidah tersebut memang rahmat dalam pengertian murni. Hanya saja rahmat tersebut tidak selalu dimanifestasikan dengan kelembutan dan kehalusan dalam segala hal. Sebagaimana halnya seorang dokter, terkadang kita diberi obat yang terasa manis tetapi pada kali lain bisa saja diperlukan obat yang terasa pahit.” (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 10, hal. 451, London, 1984).

Baca Juga :

Larangan Penggunaan Kekerasan

“Sesungguhnya tidak ada Muslim hakiki yang akan berpendapat bahwa agama Islam harus disiarkan di bawah tekanan pedang. Islam selalu digambarkan berdasarkan nilai-nilai inherennya yang luhur. Mereka yang menyebut dirinya sebagai Muslim dan bermaksud menyiarkan agama Islam dengan menggunakan pedang, sesungguhnya tidak menyadari nilai-nilai inheren tersebut dan perbuatan mereka tak ubahnya laku binatang buas.” (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 167, London, 1984).

Kitab Suci Al-Quran jelas melarang penggunaan kekerasan untuk penyiaran agama, dan memberi petunjuk agar tabligh siar Islam dilakukan dengan cara mengemukakan nilai-nilai inherennya yang luhur, serta teladan hidup sebagai orang Muslim. Jangan terkecoh oleh pandangan bahwa pada awalnya umat Muslim telah diperintahkan mengangkat senjata.

Penggunaan senjata tersebut tidak dimaksudkan untuk siar Islam, tetapi sebagai upaya bela diri terhadap musuh-musuh Islam dengan tujuan menciptakan keamanan dan kedamaian. Perang tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan tindakan pemaksaan dalam masalah keimanan. (Sitarah Qaisariyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 120-121, London, 1984).

Baca Juga :

Islam Tidak Datang Melalui Kekuatan Pedang

Aku tidak tahu dari mana para musuh kita mengambil kesimpulan bahwa agama Islam disebarkan dengan kekuatan pedang. Allah swt jelas telah mengatur dalam Al-Quran bahwa:

Tidak ada paksaan dalam agama’ (S.2 Al-Baqarah:257).

Lalu siapa yang menganjurkan penggunaan kekerasan untuk siar Islam dan kekuatan apa yang tersedia untuk keperluan tersebut? Apakah mungkin manusia yang dipaksa masuk Islam, bisa menunjukkan teladan ketulusan dan keimanan tanpa imbalan apa pun?

Mereka yang berjumlah tiga ratusan maju melawan musuh yang jumlahnya mencapai seribu orang? Atau ketika jumlah mereka mencapai seribu, siap menghadapi dan mengalahkan musuhnya yang berjumlah ratusan ribu?

Apakah memang karakteristik dari orang-orang yang dipaksa masuk Islam, menyediakan diri disembelih laiknya domba demi mempertahankan keimanan serta menyatakan kebenaran Islam yang dimeterai oleh darah mereka?

Apakah mungkin orang-orang yang dipaksa demikian bisa menjadi para pencinta Ketauhidan Ilahi sehingga mereka bersedia menghadapi berbagai kesulitan dalam perjalanan mereka di gurun pasir Afrika guna menyampaikan siar Islam di daerah tersebut?

Begitu juga dengan mereka yang tiba di negeri Cina, bukan sebagai pahlawan penakluk tetapi sebagai darwis, yang menyampaikan pesan Islam kepada berjuta-juta manusia di negeri itu sehingga akhirnya mereka memeluk Islam. Atau juga, dengan mereka yang tiba di negeri India dengan berpakaian kumuh guna menarik sejumlah besar umat Arya ke dalam Islam, atau mereka yang pergi ke pelosok-pelosok Eropa, dengan menyandang paham/kepercayaan  ‘Tidak ada yang patut disembah selain Allah’.

Katakanlah secara jujur, apakah mungkin semua kinerja mereka itu merupakan perilaku dari orang-orang yang dipaksa masuk Islam, di mana mereka dianggap hanya lidahnya yang mengaku Islam sedangkan hatinya tidak beriman? Jelas tidak! Semua itu adalah hasil kerja dari orang-orang yang kalbunya telah dipenuhi dengan nur keimanan di mana hanya ada Allah swt yang bermukim di dalamnya. (Paighami Sulh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 468-469, London, 1984).

Bersambung ke bagian III ….

Penulis : Ihsan Tahir Ahmad

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.