Haruskah Jihad Dengan Pedang? (Bagian ke-1)

Haruskah Jihad Dengan Pedang? (Bagian ke-1)

Filosofi dari Jihad dan makna hakikinya sesungguhnya merupakan masalah akbar yang pelik, dan hanya bisa dimengerti oleh sedikit sekali orang-orang. Bahkan, bukan tidak mungkin jika umat manusia masa kini dan juga di zaman pertengahan, telah melakukan kesalahan besar, hanya karena ketidak-mampuan memahami hal ini.

Akibatnya adalah, munculnya anggapan-anggapan negatif dari non-Muslim terhadap agama Islam. Padahal, Islam sebenarnya adalah agama suci yang merupakan cerminan daripada hukum alam dan manifestasi keagungan Allah swt.

Baca Juga :

Jihad Dalam Terminologi Islam

Akar kata dari Jihad dalam bahasa Arab adalah perjuangan, yang secara metaforika diterapkan sebagai berperang untuk kepentingan agama. Mengapa Islam terpaksa harus berperang, dan apa yang menjadi tujuan daripada Jihad?

Sejarah kelahiran Islam, terdapat tanda berupa kesulitan-kesulitan yang amat besar, di mana sebagian besar orang di masa itu memusuhi kehadiran Islam. Pada setiap kehadiran seorang Nabi atau Rasul maka para musuh akan mewaspadai para pengikutnya.

Para pengikut Islam, yang dikenal sebagai sekumpulan orang-orang yang tekun, bertakwa dan berani yang dianggap setiap saat bisa bergerak maju dengan cepat, menimbulkan rasa dengki dan cemburu orang lain.

Maka bayangkan, bagaimana rasa iri dan dengki para penentang terhadap para nabi dan Rasul, terlebih Rasul pembawa Syariah. Beliau para nabi dan rasul, sudah pasti memiliki ketekunan dan ketakwaan melebihi manusia biasa.

Para penentang lalu merancang berbagai cara, guna menghancurkan agama yang baru muncul tersebut. Sebenarnya, di hati kecil mereka menyadari bahwa dengan menganiaya para hamba Allah yang muttaqi, mereka akan menjadi sasaran kemurkaan Tuhan. Hal itu tidak kalin adalah cerminan rasa bersalah di hati mereka.

Namun, api kedengkian telah mendorong mereka ke jurang permusuhan. Keadaan demikian itulah, yang tidak saja telah mencegah para pimpinan umat kafir, Yahudi dan Kristen untuk menerima kebenaran, tetapi juga telah merangsang mereka menjadi musuh yang getir sehingga mencari-cari jalan untuk menghapus Islam dari muka bumi.

Baca Juga :

Perjuangan di Masa Awal

Pada awalnya jumlah umat Muslim masih amat sedikit. Adapun para musuhnya, karena kecongkakan alamiah yang merasuk fikiran dari suatu bangsa, menganggap dirinya lebih mulia dari para penganut agama baru tersebut. Perasaan sombong karena menganggap memiliki kelebihan kekayaan, jumlah, dan derajat di masyarakat, sehingga mereka memperlakukan umat Muslim dengan rasa permusuhan yang getir.

Mereka tidak menginginkan Islam sebagai pohon surgawi yang berakar di bumi. Mereka berusaha keras menghancurkan kelompok orang-orang muttaqi ini dengan segala cara. Mereka khawatir jika agama baru ini sempat berdiri tegak, maka kemajuannya akan menghancurkan agama dan kebudayaan yang mereka anut selama ini.

Karena ketakutan itulah maka mereka menggunakan segala bentuk paksaan dan kekejaman dalam usaha mereka menghancurkan Islam. Mereka membunuh umat Muslim dengan laku yang kejam, dan terus-menerus menganiaya selama lebih dari tiga belas tahun.

Pedang dari gerombolan hewan buas ini telah mencencang secara kejam para hamba Allah swt yang sebenarnya merupakan manusia-manusia pilihan di muka bumi. Mereka membunuh anak-anak yatim dan menjagal wanita-wanita lemah di jalan-jalan kota Mekah.

Sepanjang kurun waktu tersebut, yang dipatuhi umat Muslim adalah firman Tuhan yang menyatakan agar jangan melawan kekejian yang dihadapi, dan para muttaqi mematuhinya dengan sepenuh hati. Jalan-jalan di kota Mekah menjadi merah karena darah, tetapi mereka tetap tidak berkeluh kesah. Mereka disembelih laiknya domba kurban, tetapi mereka tidak mengeluh.

Hazrat Rasulullah saw berulangkali menjadi sasaran lemparan batu yang telah mengucurkan darah beliau, namun gunung kebenaran dan keteguhan hati memikul semua aniaya itu dengan hati yang gembira dan pengasih.

Sikap kerendahan hati dan keteguhan yang demikian, malah menggalakkan para musuh untuk lebih mengintensifkan penganiayaan. Mereka menjadikan komunitas suci umat Muslim sebagai hewan buruan mereka.

Baca Juga :

Perintah Allah Terkait Jihad

Kemudian Allah swt yang tidak berkenan bahwa kekejaman dan kekejian itu melampaui batas, lalu berpaling kepada hamba-hamba-Nya yang teraniaya dan kemurkaan-Nya menyala terhadap para pendosa. Dia memberitahukan hamba-hamba-Nya melalui Al-Qur’an, bahwa Dia menyaksikan segala hal yang telah ditimpakan atas hamba-hamba-Nya, dan sekarang Dia memberikan izin khusus kepada mereka untuk melawan musuh mereka, dan bahwa Dia itu Maha Kuasa yang tidak membiarkan para pendosa tanpa dihukum sebagaimana mestinya.

Firman inilah yang dimaksud dengan Jihad. Ayat berkaitan dengan firman tersebut ada di Al-Quran yang berbunyi sebagai berikut:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا۟ ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِير . ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ
‘Telah diperkenankan untuk mengangkat senjata bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah diperlakukan dengan aniaya dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orangorang yang telah diusir dari rumah mereka tanpa sebab yang benar, hanya karena mereka berkata: “Tuhan kami ialah Allah”’ (S.22 Al-Hajj:40-41).

(Government Angrezi Aur Jihad; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 17, hal. 3-6, London, 1984).

Kalau saja para missionaris Kristen mau mendengarkan, aku akan memberitahukan kepada mereka agar jangan mengemukakan bantahan yang akan berbalik kepada kitab suci mereka sendiri. Sebagai contoh, salah satu kritik mereka terhadap Hazrat Rasulullah saw adalah tentang perang yang terpaksa beliau harus lakukan berdasarkan firman Tuhan terhadap umat kafir, yang telah menganiaya para pengikut beliau selama lebih dari tiga belas tahun di Mekah, dengan berbagai macam laku aniaya.

Bahkan, orang-orang kafir ini telah merancang untuk membunuh beliau sehingga beliau beserta seluruh sahabat terpaksa meninggalkan Mekah. Namun para penganiaya tersebut tidak juga menghentikan kelakuan mereka. Mereka mengejar beliau, memperlakukan beliau dengan segala kekurangajaran, dan tetap saja mendustakan beliau.

Baca Juga:

Apakah Jihad Hal yang Bathil?

Mereka menganiaya umat Muslim lemah yang tertinggal di Mekah dengan segala macam kekejaman yang luar biasa. Dalam pandangan Allah swt, tindakan tirani mereka telah melampaui batas dan sudah patut dihukum sejalan dengan kaidah abadi Ilahi.

Penghukuman ini dikenakan juga terhadap mereka yang telah membantu penduduk Mekah dalam tindak lajak mereka, serta orang-orang yang secara sendiri-sendiri ikut menyiksa umat Muslim dan menghina agama Islam dengan tujuan menghalangi perkembangan agama ini.

Dengan demikian, mereka yang telah mencabut pedangnya terhadap agama Islam karena kedurhakaan, kemudian dihancurkan dengan pedang juga. Lalu apakah adil untuk menganggap perang dalam bentuk seperti ini sebagai suatu hal yang bathil? Sementara, umat Kristiani melupakan bagaimana Nabi Musa a.s. dan Nabi-nabi Israil lainnya telah melakukan perang yang demikian kejam, sehingga bayi-bayi yang masih menyusu juga ikut dijagal?[1]

Keberatan umat Kristiani itu lebih banyak dilambari oleh sifat culas, kejahilan dan kerancuan jalan fikiran mereka. Umat Kristiani terkadang menanggapi dengan mengatakan bahwa peperangan yang dilaksanakan Hazrat Rasulullah saw dicirikan oleh terlalu banyak kesantunan terhadap musuh, sehingga mereka yang kemudian memeluk Islam malah langsung dibebaskan dari segala hukuman, anak-anak yang masih menyusu, wanita, orang-orang tua, para pendeta dan para musafir, semuanya terpelihara.

Di samping juga, tidak ada gereja dan sinagoga yang dihancurkan. Sedangkan, para Nabi Israil menganggap semua penghancuran sebagai suatu yang halal. Bahkan pernah terjadi, 300.000 bayi dijagal.

Alangkah ganjilnya konsep pemikiran yang menyatakan bahwa perang yang dilakukan umat Muslim patut dikritik, jika mengingat terlalu banyak pengampunan yang diberikan kepada musuh, dan tidak seganas perang-perang yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi-nabi Israil lainnya.

Apakah dalam jalan fikiran mereka, jika perang umat Muslim sama ganasnya dengan perang yang terdapat dalam Injil, lalu missionaris Kristen tersebut mau mengakui perangnya umat Muslim sebagai perang menurut firman Tuhan?


[1] Banyak contoh dalam Perjanjian Lama mengenai hal ini, antara lain di 1 Samuel:3 dimana dikatakan oleh Samuel kepada Saul: ‘Pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, jangan ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba,  unta maupun keledai.’ (Penterjemah)

Bersambung ke bagian II ….

Penulis : Ihsan Tahir Ahmad

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.