Harapan dan Rasa Takut: Dua Unsur Yang Melandasi Kemajuan Manusia

Harapan dan Rasa Takut: Dua Unsur Yang Melandasi Kemajuan Manusia

Harapan dan Rasa Takut: Dua Unsur Yang Melandasi Kemajuan Manusia

Islam Keren

August 9, 2020

Assalamu’alaikum sobat keren,

Di dalam setiap kemajuan yang dicapai oleh seseorang, setidaknya didasari oleh dua unsur utama di dalam dirinya, yaitu harapan dan rasa takut. Unsur-unsur tersebut, merupakan bagian tak terpisahkan dari fitrat kita sebagai seorang manusia.

Sebagai gambaran misalnya, disebabkan adanya harapan untuk memperoleh kemajuan dan kekayaan duniawi, maka seseorang rela bekerja dengan tekun. Rencana pun dibuat dengan matang, ia bekerja keras, serta focus dalam melakukan apa yang sudah direncanakan tersebut. Selain itu, bagi sebagian lagi, unsur rasa takut yang bekerja di dalam dirinya. Misalnya, disebabkan takut tidak dihormati dan disegani orang lain, maka seseorang berusaha bekerja banting tulang memeras keringat, agar ia mendapatkan kemajuan dan kekayaan duniawi, yang dengannya ia beranggapan orang lain akan menghormatinya.

Kemudian contoh lainnya, dikarenakan takut kalau-kalau anak dan istri tidak bisa makan enak, tidak punya pakaian bagus, tidak bisa jalan-jalan ke tempat wisata, dan juga khawatir jika anaknya tidak bisa masuk sekolah di sekolah favorit, maka seorang suami rela untuk bekerja keras, pergi pagi pulang malam, agar ia bisa maju dalam usaha atau pekerjaannya, lalu ia bisa mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Jadi, inilah realita kehidupan kita, bahwa setiap kemajuan yang dicapai, sebagiannya didasari oleh adanya harapan-harapan, dan sebagian lagi didasari oleh adanya ketakutan di dalam dirinya.

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan rohani kita. Sebagai seorang hamba Allah Ta’ala yang beriman kepada-Nya, kemajuan kerohanian kita itu pun didasari oleh dua hal yang sama, yaitu adanya harapan dan adanya ketakutan terhadap Allah Ta’ala. Jika kedua hal itu melekat dalam diri kita dan tampil dalam keseharian kita, maka darinya bisa mengantarkan kita kepada kemajuan rohani yang dikehendaki oleh-Nya. Oleh karena itu, inilah juga yang harus kita kejar, yakni selain kemajuan-kemajuan yang kita raih secara duniawi, maka kita pun hendaknya berusaha mencapai juga apa yang menjadi kemajuan untuk rohani kita.

Apa kemajuan rohani itu? Kemajuan rohani artinya adalah bahwa kita secara bertahap memahami tentang perjalanan hidup kita ini, tiada lain adalah pergerakan dari satu kesadaran yang samar kepada kesadaran yang jauh lebih baik. Apa maksudnya? Berkaitan dengan Tuhan misalnya, artinya bahwa kita berusaha agar di dalam diri kita ini tumbuh kesadaran bahwa kita adalah hamba-Nya, yang diciptakan oleh-Nya, yang dicukupi semua kebutuhan-kebutuhan kita oleh-Nya, dan kita juga akan kembali hanya kepada-Nya.

Selain itu, kita juga berusaha untuk bagaimana caranya agar di dalam diri kita timbul kesadaran, bahwa Tuhan itu Esa, Dia Maha Kuasa dan Maha Pemberi Rezeki. Dia pun Maha Melihat setiap gerak langkah kita, Dia Maha segala-galanya, serta di dalam Zat-nya-lah segala sifat keagungan itu melekat.

Dalam fase awal kehidupan kita, kesadaran tersebut bisa jadi masihlah samar. Untuk itu, seiring berjalannya waktu, perlu kita tumbuhkan kesadaran yang lebih baik terkait hal-hal tadi. Ketika kesadaran itu muncul di dalam diri kita, secara bertahap, akan mendorong kita kepada kemajuan-kemajuan rohani. Artinya, ketika kita sadar bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki, serta apa yang kita dapatkan adalah semata-mata karunia-Nya, maka akhirnya timbullah harapan kepada-Nya di dalam diri kita. Kita pun akan menggantungkan diri dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala. Ketika kita sadar bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Melihat dan Mengawasi, maka akhirnya dalam setiap gerak langkah kita, selain kita berharap Dia selalu membimbing kita pada jalan yang lurus, maka kita juga akan selalu timbul rasa takut kepada-Nya, jangan-jangan kita melakukan perbuatan dosa yang menjadikan Allah marah kepada kita.

Kemudian, kemajuan rohani pun erat kaitannya dengan hubungan kita terhadap satu sama lain. Artinya, sebagai makhluk sosial, maka sangat perlu bagi kita untuk menumbuhkan kesadaran terlebih dahulu agar bagaimana caranya kita bisa hidup dengan baik dan damai satu dengan yang lain. Terlebih lagi kita sebagai seorang mukmin, kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Nabi kita tercinta Rasulullah saw, agar kita selalu berbuat baik terhadap sesama. Ketika hal tersebut kita penuhi, maka sebagai timbale baliknya, kita pun akan mendapatkan kebaikan dari orang lain. Di sinilah salah satu letak kebahagiaan kita, yakni tatkala satu dengan yang lain timbul rasa saling mengasihi.

Oleh Karena itu, ketika kita berharap agar Tuhan menyayangi kita, maka hendaknya kita berlaku baik terhadap sesama, sehingga dampaknya kita pun akan memperoleh perlakuan baik dari orang lain. Pun demikian ketika kita takut kalau-kalau Tuhan tidak menyayangi kita, maka agar Tuhan tidak murka, kita pun hendaknya berusaha untuk berbuat baik kepada sesama.

Terkait hal ini, Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran :

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ…

“… dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah 2 : 196)

Dan Hadhrat Rasulullah saw pun bersabda :

الخلق كلهم عيال الله وأحب خلقه إليه أنفعهم لعياله

“Semua makhluk adalah keluarga Allah. Dan yang paling dicintai-Nya, adalah ia yang berbuat baik kepada keluarga-Nya.” (HR.Ath-Thabrani)

Jadi, kemajuan-kemajuan rohani yang kita capai dalam kehidupan kita, baik yang hubungannya dengan Allah Ta’ala maupun terkait sesame hamba, didasari oleh unsure harapan dan rasa takut dalam diri kita. Jika hal inimelekat di dalam diri kita, maka kemajuan-kemajuan rohani sebagai dampaknya akan kita peroleh.

Kedua hal ini, tiada lain merupakan rangkaian dari kesadaran yang harus tumbuh semakin baik di dalam diri kita. Semakin seseorang sadar akan kedudukan Zat Allah Ta’ala, maka semakin merendah dan taat ia kepada-Nya. Semakin sadar seseorang akan kedudukannya di hadapan sesame hamba, maka semakin ia juga berusaha memenuhi apa yang menjadi hak dan tanggung jawabnya. Kemajuan rohani inilah yang hendaknya juga kita kejar dalam kehidupan kita di dunia.

Semoga Allah Ta’ala mencurahkan taufik dan karunia kepada kita semua. Aamiin.

Penulis : Muhammad Ali


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.