Deforestasi Gunung Kerinci

Deforestasi Gunung Kerinci

Deforestasi Gunung Kerinci

Islamku Keren

April 9, 2021

Deforestasi menurut KBBI memiliki arti kata penebangan hutan, tindakan deforestasi ini dilakukan untuk kebutuhan lahan pertanian, penambangan, dan pembangunan. Dalam Jurnal Selat, 2018. Selama 50 tahun terakhir penutup hutan di Indonesia telah berkurang sekitar 25-40% atau sama dengan (40-60 juta ha). Pulau Sumatra menepati posisi ke 2 dengan tingkat deforestasi terluas yaitu dengan peresentase 24,49 persen dibawah pulau Kalimantan yaitu sebesar 36,32 persen. Di Sumatra Provinsi Riau merupakan provinsi terluas yang mengalami deforestasi yakni seluas 3,81 juta hektar, dan Provinsi Jambi menepati urutan ke-3 yakni 1,59 juta hektar setelah Provinsi Sumatra Selatan dengan luas deforestasi 2,80 juta hektar.

Jambi adalah Provinsi yang berada di pulau Sumatra dimana memiliki kawasan hutan yang luas, yaitu sekitar 2.179.440 ha pada tahun 1999. Dari seluruh luas kawasan tersebut didalamnya terdapat hutan lindung yang menjadi kawasan taman nasional sekitar 338.000 ha. Salah satu kawasan taman yang menjadi hutan lindung adalah TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) yang sudah ditetapkan sejak tahun 1996 dimana didalamnya terdapat banyak cagar alam serta daerah aliran sungai. Salah satu kawasan cagar alam yang terdapat didalamnya adalah Gunung Kerinci.

Gunung Kerinci merupakan suatu gunung yang terdapat dikawasan Kabupaten Kerinci, tepatnya di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Gunung Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi yang masih aktif di Indonesia dengan tinggi 3805 mdpl. Sehingga tak heran jika Gunung Kerinci merupakan suatu daya tarik utama yang berada dikabupaten kerinci, terlebih bagi turis lokal maupun mancanegara. Selain itu Gunung Kerinci merupakan cagar alam yang didalamnya terdapat banyak ekosistem yang saling berkaitan satu sama lain. Selain keindahan dan kegagahannya Gunung Kerinci juga memberi manfaat besar bagi masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Kerinci. Keadaan tanah yang subur dan kondisi lingkungan yang mendukung dalam bidang pertanian, membuat sebagian besar masyarakat yang tinggal didaerah kaki Gunung Kerinci berprofesi sebagai petani tanaman hortikultura.

Keindahan alam yang asri disajikan di kaki Gunung Kerinci sendiri membuat Kabupaten Kerinci dijuluki sebagai daerah sekepal tanah surga, Namun hal tersebut sekarang mulai terancam dikarenakan adanya oknum serta masyarakat yang tidak bertanggung jawab yang mengelola sumberdaya alam dikawasan kaki Gunung Kerinci dengan tidak baik. Contohnya, sebagai pemenuhan kebutuhan lahan pertanian untuk bercocok tanam, masyarakat disekitar kaki Gunung Kerinci melakukan penebangan hutan secara liar, hal ini tentu saja sangat disayangkan, walaupun pemerintah setempat telah melakukan pelarangan pembukaan lahan baru diwilayah TNKS khususnya di kawanan Gunung Kerinci. Melalui Peraturan Mentri Kehutanan, Pemerintah telah melakukan Peratuaran UU P 56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional. Didalam peraturan tersebut sudah tegas dijelaskan Pemanfaatan dan rehabilitas tanam nasional serta pelarangan penebangan hutan. Namun nyatanya deforestasi tetap saja terjadi di kawasan tersebut.

Pembukaan lahan dengan cara menebang dan membakar hutan merupakan tindakan yang sangat merusak bagi kelangsungan ekosistem hutan, Meskipun begitu tindakan tersebut tetap saja dilakukan, hal ini dikarenakan tanah hutan yang masih asli dan belum tercemar oleh bahan kimia pestisida membuat petani berbondong-bondong membuka lahan dikawasan Gunung Kerinci untuk merauk keuntungan yang tinggi tanpa melihat akibat yang akan ditimbulkan setelahnya. Petani disekitar kaki Gunung Kerinci membeli tanah dari oknum penebang hutan ilegal sebagai upah atau sering disebut upah lelah oleh masyarakat sekitar, lahan yang dibelipun tidak sedikit, namun dengan luas hektaran dan dengan harga yang sangat murah sehingga membat para petani tergiur.

Penebangan hutan sangat marak terjadi sejak 10 tahun terakhir. Hal ini mengakibatkan terancamnya ekosistem flora dan fauna yang ada dimana diketahui terdapat 4.000 jenis flora dan sekitar 370 spesies burung serta hewan langka seperti, harimau Sumatra, tapir, dan beruang madu. Dalam hal ini pemerintah setempat harus segera melakukan tindakan tegas dan tepat sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam penyelesaian masalah ini. Seperti yang terdapat pada Peraturan Pemerintah republik Indosensia Nomor 45 tahun 2004 Tentang Perlindungan Hutam merupakan tanggung jawab pemerintah maupun pemerintah daerah sebagai pelaksana tugas negara untuk mengatur melindungi dan mensejahterakan masyarakat. Seperti yang terdapat pada Peraturan Pemerintah republik Indosensia Nomor 45 tahun 2004 Tentang Perlindungan Hutam merupakan tanggung jawab pemerintah maupun pemerintah daerah sebagai pelaksana tugas negara untuk mengatur melindungi dan mensejahterakan masyarakat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu pegawai Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Kabupaten Kerinci didalam Jurnal Selat, 2018. Diketahui bahwa potensi perambahan hutan dikawasan TNKS wiayah Provinsi Jambi pada tahun 2013 terjadi perambahan hutan sebanyak 28.255 ha, pada tahun 2014 sebanyak 28.255 ha, hingga pada tahun 2017 secara berturut-turut terdapat 28.255 ha. Sedangkan untuk wilayah Kabupaten Kerinci potensi perambahan hutan yang terjadi pada tahun 2013 adalah sebanya 24.700 ha dan pada tahun 2014 adalah sebanyak 6.720 ha. Diketahui secara langsung yang terlihat keadaan hutan di kaki Gunung Kerinci setiap tahunnya mengalami pengurangan, bahkan ¼ hutan yang terdapat di kaki Gunung Kerinci kini sudah gundul, dampaknya adalah banyaknya bencana yang terjadi pada 10 tahun terakhir di daerah kabupaten kerinci khususnya di daerah Kayu Aro Barat.

Bencana bajir dan tanah longsor merupakan bencana yang jelas merupakan akibat dari deforestasi yang terjadi. Seperti yang dikatakan Komonitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencatat pada kurun waktu 2010-2016 saja di Jambi korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor mencapai 46 orang, serta korban yang meninggal mencapai 55 orang yang diakibatkan bencana penebangan liar. Bencana yang terjadi di Kabupaten Kerinci ini disebabkan berkurangnya hutan sehngga tidak ada lagi akar tanaman yang dapat menyerap air pada saat terjadi intensitas hujan yang tinggi. Perlu disadari bahwa selain kerusakan ekosistem serta bencana yang terjadi hal ini juga mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan yang datang ke Kabuaten Kerinci, sehingga hal ini mampu menjadi ancaman serius bagi kabupaten kerinci dalam pengembangan serta peningkatan dari segi pariwisata di daerah Gunung Kerinci.

Ditilik dari sumber Kerinci dalam angka didalam jurnal destinasi pariwisata, 2016. Terdapat penurunan jumlah wisatawan setiap tahunnya mencapai 24%, hal ini tentu sangat disayangkan mengingat bahwa daerah Kabupaten Kerinci sendiri memiliki potensi yang sangat besar dalam hal ini. Oleh sebab itu selain peran dari pemerintah masyarakat sekitar juga harus ambil bagian dalam hal tersebut, dengan mematuhi peraturan perundang-undangan yang diberlakukan oleh pemerintah Kabupaten Kerinci.

Dilansir dari Jurnal Selat tahun, 2018. Peraturan perundan-undangan yang berlaku dalam hal ini adalah undang-undang republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan mendefinisikan Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didomonasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sehingga dalam hat tersebut semua pihak yang melakukan tindakan perusakan atau penebangan hutan diwilayah TNKS khususnya dapat dilakukan pidana.

Keberadaan hutan didaerah TNKS yang mulai terancam, menjadi hal yang memprihatinkan, maka dalam hal ini pemerintah daerah seharusnya menjaga taman nasional dengan baik dari perusakan hutan dan jika kelestarian TNKS sudah terkikis maka akan menimbulkan efek negatif tersendiri bagi daerah terutama masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan TNKS. Berkaitan dengan hal ini, pengawasan perambahan pemerintah daerah juga menghadapi kesulitan seperti yang dituturkan Iman Purwanto bahwa “ada penyebab kami untuk sulit mengawasi penanggulangan perambahan hutan khususnya di kawasan TNKS selain dikarenakan terbatasnya kewenangan juga disebabkan oleh adanya konflik sosial dan kepentingan politik. Selain itu juga faktor dari masyarakatnya sendiri yang sudah menganggap kawasan TNKS turun-temurun dari zaman dahulu”. Jika sosialisasi yang diadakan optimal, dan kebutuhan masyarakat terpenuhi maka masyarakat tidak akan merambah dikawasan TNKS lagi. Karena sekarang ini masyarakat merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah, sehingga mereka memanfaatkan apa yang ada.

Gunung Kerinci sekarang terancam gundul bila tindakan yang tegas dan efektif dari pemerintah tidak segera terlaksana. Masyarakatpun perlu menyadari bahwa menjaga ekosistem hutan di Gunung Kerinci sangat penting sebagai warisan yang akan diturunkan ke anak cucu nantinya. Hal ini dibiarkan begitu saja tentu akan banyak lagi bencana atau dampak negatif lain yang akan terjadi disekitar kawasan Gunung Kerinci. Tidak menuntut kemungkinan bahwa anak cucu pewaris tanah Kerinci tidak dapat menikmati lagi keindahan alam yang ada di Kabupaten Kerinci.

Sebagai salah satu contoh dampak dari kerusakan hutan di Kabupaten Kerinci baru- baru ini adalah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi ketika adanya intensitas hujan yang tinggi yang terjadi pada 28 Februari 2021 lalu, hal tersebut mengakibatkan puluhan rumah yang berada disekitar daerah aliran sungai rusak dan hanyut serta banyak sekali kerugian dari segi ekonomis yang dirasakan masyarakat. Namun sayangnya hal tersebut belum mampu membuat masyarakat sadar bahwa hal tersebut disebabkan oleh deforestasi yang sudah dilakukan.

Pada prinsipnya apapun alasan dari semua pihak baik masyarakat, petani ataupun pemerintah yang melakukan deforestasi pada daerah TNKS khususnya Gunung Kerinci tentu saja tidak dibenarkan, karena hal tersebut akan menimbulkan banyak dampak negatif untuk jangka waktu yang lama. Tindakan yang dilakukan pemerintah daerah selama ini hanya mengakibatkan konflik antara petani dan pemerintah yang bersangkutan, hal ini dikarenakan petani merasa keputusan yang diambil merugikan petani dikarenakan pihak pemerintah hanya melakukan tindakan menggambil lahan yang memang illegal tanpa memberi ganti rugi atau tempat baru bagi petani untuk melakukan kegiatan bertani. Maka dari itu langkah yang harus diambil pemerintah dalam hal ini adalah membuka, membatasi, serta memberikan kawasan khusus bagi para petani agar mendapatkan lahan pertanian yang terjamin legalitasnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Selain itu pemerintah harus menanamkan dan memberikan wawasan mengenai pentingnya menjaga hutan dan ekosistem yang kepada masyarakat sehinggal hal tersebut dapat ditanamkan kepada generasi muda sejak dini. Peran masyarakan dan pihak swasta yang terkait tentu saja sangat diharapkan dalam hal ini, agar pemerintah dapat melakukan reboisasi kembali pada kawasan yang sudah terdeforestasi, sehingga mampu mengurangi persentase penggundulan hutan bukan hanya untuk Kabupaten Kerinci dan Provinsi Jambi saja. Namun hal tersebut harus dilakukan diseluruh wilayah Indonesia yang mengalami hal yang serupa.

Penulis : Ahmad Firlangga


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

Share

82 thoughts on “Deforestasi Gunung Kerinci

  1. Bermanfaat sekali tulisannya buat jadi reminder kita semua kalau alam indonesia tidak sedang baik-baik saja, banyak oknum yg tidak bertanggung jawab merusak alam. Dan kita tidak boleh abai begitu saja, setidaknya ada langkah kecil yg kita lakukan, seperti menulis/menyuarakan ke masyarakat luas agar semakin banyak yg sadar dan perduli. Semangatt!!

  2. Keren kak ahmad firlangga jangan sampai harta yang telah kita miliki musnah, tetap jaga dan lestarikan, “warisi anak cucu kita dengan mata air dan jangan warisi anak cucu kita dengan air mata”

  3. Memang harus ada tindakan secepatnya yang tentunya jangan sampai merugikan bagi salah satu pihak, terutama petani. Selain itu harus ada lapangan kerja baru yang tersedia di kerinci. Semoga hutan sebagai sumber oksigen akan tetap terjaga terus kedepannya

  4. Tulisan ini sangat bagus dan sangat menginspirasi meski kita tahu bahwa membuat lahan pertanian juga penting untuj menunjang perekonomian kita namun alangkah baik nya lgi menjaga hutan yang ada disekitar kita karena dampak dari penebangan hutan sangatlah besar bagi kehidupan kita selanjut nya ..

  5. Mantap 👍 sangat bermanfaat
    Semoga masyarakat dan khususnya pemerintah lebih sadar akan bahaya yg ditimbulkan dari penggundulan hutan. Tidak hanya di hutan gunung kerinci semoga alam indonesia lebih terjaga.

  6. Alam harus dijaga, kelestariannya harus dijaga. Karena kita sebagai manusia haruslah menjaga apa yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta.
    Jika kita saksikan dan melihat hutan yang telah mulai menggundul, menyaksikan lahan yang tandus, seolah-olah menawarkan masa depan yang suram.
    Jangan sampai hal itu terjadi.
    Menjaga Hutan, Menjaga Dunia <3

  7. Apakah kita harus menunggu alama ini murka dulu baru kita sadar betapa pentingnya menjaga alam ? Stop merusak alam, stop merusak lingkungan, stop mementingkan dan memperkaya diri dengan menjadikan alam sebagai tumbalnya. Alam kita adalah tanggungjawab bersama. Harus dijaga dan dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.