Bijak Menyikapi Normal Baru

Bijak Menyikapi Normal Baru

Bijak Menyikapi Normal Baru

Rahma Roshadi

May 28, 2020

Assalamu’alaikum sobat keren, sudah siap menuju era baru ? Era normal baru.

Sebaran virus corona tidak akan mereda tanpa partisipasi kita bersama. Segurat makna tersebut sepertinya selalu terselip di setiap himbauan yang berseliweran di berbagai media. Corona memang belum mereda. Bahkan, jika kita ikuti beritanya, sepertinya kasus penderita covid-19 ini semakin meningkat setiap harinya. Menjelang hari raya Idul Fitri kemarin, bahkan tercapai angka fantastis yaitu hampir 1.000 orang positif dalam 1 hari saja.

Normal Baru Apakah Virusnya Hilang?

Virus massif ini memang sangat menyita perhatian dunia. Namun mari kita berpikir sejenak, bagaimana kondisi kota asal virus ini, Wuhan? Apakah mereka sudah benar-benar bebas dari virus ini?

Jawabannya, belum. Wuhan memang pernah mengklaim memenangkan peperangan dengan C19. Namun tak lama berselang, kasus baru kembali muncul di sana. Hingga pada akhirnya, Wuhan memilih untuk gencatan senjata. Wuhan membuka kembali akses dari dan ke kotanya, serta fasilitas umum dan sosial yang ada. Namun, dengan level keamanan dan standar kesehatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Sebaran penyakit tertentu, sebenarnya tidak akan sempurna hilang dari sekitar kehidupan kita. Ingat saja tentang demam tifoid atau yang kita kenal dengan nama thypus. Pada awal kemunculannya di medio tahun 1915, penyakit ini juga diklaim sebagai wabah penyakit yang berbahaya. Thypus juga menimbulkan banyak kematian, dan para ilmuwan pun berjibaku untuk menemukan penangkalnya. Saat ini, bukankah penyakit thypus juga tetap ada? Namun bedanya, saat ini orang tidak terlalu khawatir karena para dokter sudah hafal tata laksana penyembuhannya. Dan kita pun sudah bisa membentengi diri agar tidak terkena penyakit ini. Salah satunya, dengan menjaga kebersihan makanan.

Dunia pun mengharapkan hal yang sama pada virus corona. Meskipun saat ini belum ditemukan vaksin yang tepat untuk melawan C19, namun pemerintah negara-negara di dunia sepakat untuk menerapkan protokol kesehatan yang serupa kepada warga negaranya, dalam rangka pencegahan infeksi dan penularan. Hal inilah yang disebut dengan ‘new normal’. Sebuah kondisi yang berbeda dari biasanya, karena setiap hari, kita harus menerapkan protokol kesehatan ala corona seperti penggunaan masker di tempat umum, jaga jarak 1 – 2 meter, mencuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga etika batuk dan bersin.

Baca juga : PERHIASAN DI ERA COVID-19

Beradaptasi Dengan Normal Baru

Dalam kondisi normal baru, masyarakat sebenarnya diminta untuk beradaptasi dengan protokol-protokol kesehatan, sehingga mereka terbiasa melakukannya secara otomatis. Misalnya, memakai masker bagi masyarakat Indonesia bukanlah sebuah kebiasaan yang lumrah. Karena beberapa daerah masih ada yang memiliki ambang polusi udara rendah, sehingga lebih nyaman untuk menghirup udaranya dalam-dalam. Namun, karena kondisi kali ini berbeda, maka penggunaan masker akan menjadi sebuah ‘keharusan’ baru yang diadopsi, agar masyarakat setidaknya terlindungi dari sebaran virus lewat droplet yang terbawa udara.

Nah, pada sudut pandang yang berbeda, tentu akan ada pro-kontra dari penerapan ‘normal baru’ ini. Wajar saja, karena begitulah sinyal tumbuhnya demokrasi. Akan tetapi, meskipun ‘new normal’ di Indonesia masih wacana, alih-alih kita selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah tanpa menyumbang solusi, akan lebih baik jika kita memilih untuk rendah hati, dan taat pada kebijakan apapun dari pemerintah setempat.

Ingat saja sebuah nasihat bijak, sebelum menilai orang lain, cobalah untuk terlebih dahulu menilai diri sendiri. Artinya, jika tangan kita belum mampu berkontribusi untuk menyingkirkan wabah ini dari muka bumi, akan lebih bijak jika kita bukan menjadi orang yang turut memperparah penyebarannya, hanya karena tidak mau mengikuti anjuran pemerintah negara sendiri.

Note : Jika postingan ini dirasa bermanfaat silahkan untuk menshare kembali.


Facebook


Twitter


Youtube


Instagram


Spotify

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.