Anak, Cerminan  Orang Tua

Anak, Cerminan Orang Tua

Anak, Cerminan Orang Tua

Nurul Khadijah Taufik

August 6, 2019

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Hallo Temanku Islamku Keren…

Sudah menjadi kodratnya setiap manusia terlahir dari rahim seorang ibu, dan setiap orangtua tentu menginginkan anak yang sholeh dan sholehah. Tiap generasi memiliki tanggung jawab akan keberlangsungan hidup anak-anaknya kelak. Di zaman sekarang ini,  seorang anak sangat mudah meniru sikap orang-orang yang ada disekitarnya terutama perilaku sang orangtua. Maka dari itu pendidikan atau ilmu yang pertama kali didapatkan oleh seorang anak adalah pendidikan di rumah yakni oleh orangtua. Orang tua adalah guru yang paling utama mengajarkan berbagai hal kepada anaknya. Baik buruk anaknya akan mencerminkan bagaimana pula didikan orangtuanya.

Untuk tercapainya keturunan anak-anak yang sholeh dan sholehah, Rasulullah SAW menekankan tarbiyat keluarga atau pendidikan keluarga. Tarbiyat keluarga khususnya tarbiyat  rohani  sangat penting ditanamkan oleh orangtua sejak dini. Hal terpenting  yakni tarbiyat keluarga khususnya kepada anak bukanlah di terapkan setelah anak tersebut beranjak remaja lalu dewasa, melainkan pendidikan tarbiyat keluarga dimulai dari saat sebelum anak itu dilahirkan. Pengaruh atau pendidikan dari orangtua khususnya seorang ibu sangat menentukan dan menjadi tolak ukur dari anak yang kelak akan dilahirkan.

Akar dari anak-anak sholeh dan sholehah pun terletak pada bagaimana orangtuanya,  jika ingin keturunan yang baik maka bagi seorang pria carilah wanita yang berakhlak baik pula. Seorang ibu yang memiliki akhlak baik, tentu kelak akan memberikan hal-hal yang berpengaruh kuat dalam tarbiyat kepada anak-anaknya. Peran seorang ayah pun sama pentingnya meskipun jika diukur memang tidak sebanding dengan bagaimana pengorbnan seorang ibu, baik saat mengandung, melahirkan, dan mendidik anaknya.

Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW, bahwa “surga terletak di bawah telapak kaki ibu.” Namun surga seperti apa yang berada di bawah telapak kaki ibu?  yakni,  ibu yang berakhlak serta beragama baik yang insyaAllah akan menghantarkan anak-anaknya ke arah jalan surga yang Allah ridhai.

Dengan segala usaha tentu tidak terlepas dari kunci utama yaitu do’a, do’a untuk mendapatkan keturunan yang baik. Seperti do’a yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s,  ketika beliau di karuniai seorang anak beliau pun tidak merasa puas dengan do’-do’a beliau sebelumnya, maka beliau pun berdo’a tiada hentinya. Do’a Nabi Ibrahim a.s dalam surat Al-Baqarah : 128 :

رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ 

“Robanaa waj’alnaa muslimaini laka wamin dzurriyatinaa ummatan muslimatal lak, wa arina manaasikanaa watub ‘alainaa, innaka anta tawwaburrahiim.” Intinya adalah, Ya Allah jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada Engkau, dan jadikanlah anak keturunan kami ada dalam umat yang taat.

Itulah salah satu doa yang dapat kita amalkan baik ketika shalat maupun sesudahnya. Rasulullah SAW dalam mendidik anak-anaknya, tidak pernah dengan tindakan yang kasar atau dengan kekerasan. Beliau berpikir bahwa jika sang anak di didik dengan kekerasan maka selanjutnya ketika sang anak diingatkan dengan kata-kata yang kurang baik maka anak tersebut hanya akan merasa takut. Rasa takut tersebut diakibatkan dengan cara menegur atau mengingatkan yang tidak sepatutnya. Jadi seorang anak berubah bukan diingatkan dengan hal-hal yang baik dan perkataan yang baik pula. Namun  ketika sang anak melakukan kesalahan lagi, ia malah perlahan-lahan bukan menjadi baik namun menjadi semakin rusak dan bahkan sulit memperbaikinya. Maka dari itu sebagai orangtua, ajarkanlah hal-hal yang baik.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada anak-anaknya kebaikan dari hal yang paling kecil, yang bahkan mungkin saja sebagian orang menyepelekan hal tersebut.  Seperti mengajarkan menjawab salam orang lain, dan sebaliknya memberi salam kepada orang lain. Jika hal seperti itu sudah kita tanamkan kepada anak sejak dini, tentu akan menciptakan kebiasaan sehari-hari yang baik pula. Saat seorang anak berusia 7 tahun maka ajarkanlah dan perintahkanlah untuk shalat, namun jika sang anak telah berusia 10 tahun, akan tetapi masih saja sulit untuk membiasakan shalat serta  tidak ada rasa perhatian sama sekali mengenai shalat, maka saat itu pula orangtua dapat memberikan  hukuman yang ringan.

Mengapa demikian, karena mengerjakan ibadah utamanya kewajiban shalat adalah  hal yang utama pula bagi orangtua untuk selalu memperhatikan dan mengingatkan sang anak. Jika orangtuanya saja tidak ada menaruh perhatian akan hal itu, lalu bagaimana nasib anak itu kedepannya.   Bagaimana bisa sang anak menjadi pondasi atau akar dari kemajuan dunia jika hal yang menjadi dasar bagi kemajuan diri sendiri dan umat islam saja sudah tidak ada perhatian sama sekali.

Hal-hal baik yang orangtua tanamkan kepada anak nantinya  akan menjadi amal baik pula bagi orangtua. Warisan yang orangtua berikan kepada sang anak bukan hanya berupa harta benda, kekuasaan dan hal-hal duniawi lainnya akan tetapi warisan akhlakkul karimah dan ketakwaanlah yang menjadi warisan terbaik yang bisa orangtua berikan kepada sang anak, serta menjadi bekal untuk mendidik anak keturunannya kelak. Dari beberapa point penting mengenai mendidik anak, seyogianya kita dapat  menanamkan mulai dari sekarang bagaimana sedikitnya kiat-kiat menjadi orangtua, dan juga sebagai tongkat estafet generasi yang berakhlak baik di masa mendatang.

[DISPLAY_ULTIMATE_PLUS]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.