Al Muta'ali
1 7 min 1 week

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh. Sobat keren yang penuh berkah, Al Muta’ali adalah salah satu sifat Asmaul Husna Allah Ta’ala. Di dalam Surah Ar-Ra’d Allah SWT berfirman ,

عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ
“Dia-lah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak; Maha Besar, Maha Luhur.

Kata al-‘aliyyu, al-a’laa, dan al-muta’al berasal dari akar kata yang sama, yaitu ‘alaa-ya’luu, yang artinya tinggi. ‘Alaa-ya’luu kemudian ‘aalin. Kata ‘aalin, jika ditambah alif-lam (al) menjadi al-‘aalii. Sehingga dari sini juga berasal ‘aliyyun, al-‘aliyyu, yang artinya adalah tinggi, mulia, Mahatinggi, Mahamulia.

Kemudian dari kata al-‘alii, lahir al-a’laa yang artinya paling tinggi atau yang tertinggi. Sementara, kata al muta’ali, berasal dari kata ta’alaa-yata’alaa-muta’alun-al-muta’ali, yang memiliki arti Maha Tinggi, Maha Unggul. Jadi, pada dasarnya ketiga nama dan ketiga sifat mulia ini mempunyai makna yang sama.

Baca juga :

3 Aspek Al Muta’ali

Berdasarkan beberapa penyebutan ketiga asma Allah tersebut dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 255, QS. Al-Hajj: 62, QS: Asyura: 51, QS. An-Nisa’: 34), ketinggian Allah mencakup beberapa aspek.

Aspek yang pertama adalah ‘uluwudz dzat, ketinggian zat Allah. Allah bersemayam di atas singgasana (arasy) yang agung dan mulia. Simbol ketinggian yang tidak merujuk kepada tempat, karena Allah terbebas dari tempat dan waktu. Dengan ketinggian-Nya ini, Allah bisa mengatur dan menguasai semua makhluk ciptaan-Nya.

Terkait makna ‘arasy, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as bersabda,

“Dalam Keyakinan umat Muslim, ‘arasy bukanlah suatu benda fisik atau ciptaan sebagai tempat dimana Tuhan bertahta. Kalian bisa menelusuri Al-Qur’an dari awal hingga akhir dan kalian tidak akan menemukan bahwa ‘arasy (singgasana) merupakan benda ciptaan yang memiliki keterbatasan. Allah Ta’ala telah berulang kali mengungkapkan dalam Al-Qur’an, bahwa Dia adalah pencipta segala hal yang mempunyai eksistensi. Dia-lah pencipta langit dan bumi serta jiwa dengan segala sifatnya. Dia tegak dengan Dzat-Nya sendiri dan segala hal menjadi eksis karena-Nya. Setiap zarah yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya, namun tidak pernah Dia mengatakan bahwa ‘arasy adalah sesuatu yang bersifat fisikal yang merupakan hasil ciptaan-Nya. Setiap kali kata ‘arasy dikemukakan dalam Al-Qur’an, yang dimaksud adalah sifat Maha Besar, Maha Agung dan Maha Kuasa dari Allah SWT karena itulah ‘arasy tidak termasuk sebagai barang ciptaan.” (Buku Inti Ajaran Islam Jilid 1 hal.171)

Berikutnya adalah ‘uluwwush shifati wal ‘adzamah, yaitu ketinggian sifat dan keagungan. Tidak ada sifat makhluk yang dapat menyamai sifat Allah dalam keagungannya. Ilmu manusia tidak cukup bisa memahami dan mendeskripsikan satu saja dari sifat-sifat Allah.

Terkait hal tersebut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as bersabda,

“Semua sifat-Nya cocok bagi-Nya (bagi Allah). Sifat-sifat itu tidak sama dengan manusia. Dia tidak memerlukan mata jasmani dan tidak ada sifat-Nya yang mirip dengan sifat manusia. Sebagai contoh, jika seorang manusia sedang marah maka ia menderita karena kemarahannya itu dimana hatinya tidak lagi merasa nyaman dan terasa seperti terbakar, otaknya merasa tertekan dan ia mengalami proses perubahan. Adapun Tuhan bebas sama sekali dari perubahan-perubahan demikian. Kemurkaan-Nya mengambil bentuk sebagai mencabut sokongannya kepada mereka yang tidak mau berhenti melakukan dosa. Sejalan dengan kaidah-Nya yang bersifat abadi, Dia akan mengganjar yang bersangkutan sebagaimana manusia memperlakukan yang lainnya jika ia sedang marah. Secara metafora, hal itu disebut sebagai kemurkaan Allah SWT. Begitu juga kecintaan-Nya tidak sama dengan kecintaan seorang manusia karena manusia akan mengalami nyeri jika ia harus dipisahkan dari yang dicintainya, sedangkan Dia tidak akan mengalami kenyerian tersebut. Kedekatan-Nya juga tidak sama dengan kedekatan antar manusia, karena jika seseorang mendekati seorang lainnya maka ia akan meninggalkan ruang yang sebelumnya ia tempati. Namun Tuhan meskipun dikatakan dekat sebenarnya jauh dan meskipun jauh tetapi sebenarnya dekat. Pendek kata, semua sifat Ilahi itu berbeda dengan dengan sifat manusia. Yang ada hanyalah kemiripan verbal saja, tidak lebih. Karena itulah di dalam Al-Quran dinyatakan:
 لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ 
‘Tiada sesuatu apa pun yang menyerupai Dia’ (Q.S.Asyura:12)
Dengan kata lain, tidak ada sesuatu apa pun yang mendekati Allah SWT dalam Wujud atau pun sifat-sifat-Nya.” (dari Buku Inti Ajaran Islam jilid 1).

Aspek yang ketiga adalah ‘uluwwul qahri wal ghalabah, yaitu keunggulan memaksa dan mengalahkan. Artinya, kehendak Allah itu mutlak atas semua makhluk-Nya. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Meskipun seluruh makhluk bersepakat untuk mewujudkan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah, atau menggagalkan kehendak Allah, maka hal itu tetap tidak akan terjadi.

Baca juga :

Hilangkan Ego Kalian

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh bersabda,

Rasulullah ﷺ telah dianugerahi ilmu yang kamil tentang sifat-sifat Allah Ta’ala. Kepada orang Muslim telah diberitahukan, bahwa tujuan kalian jauh lebih luas, jauh lebih tinggi, jauh lebih agung, dibandingankan dengan tujuan kaum-kaum terdahulu. Kaum-kaum terdahulu itu telah menjadi mazhar/reflektor bagi sebagian sifat Allah Ta’ala. Akan tetapi kalian akan menjadi mazhar/reflektor bagi segenap sifat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kalian harus menghapuskan seluruh aspek nafsaniyat/ego kalian. Jika penghapusan nafsaniyat/ego ini tidak tampak dalam hubungan suami-istri, antara bapak dengan anak, antara menantu perempuan dengan ibu mertua, antara menantu pria dengan ibu atau bapak mertua, maka kajian-kajian tentang sifat Rahmaniyat dan pembahasan sifat Allah Ta’ala ini akan menjadi kisah-kisah dongeng saja. Sebagai akibatnya, sedikit pun tidak akan ada yang anda peroleh.”

Jadi, dalam setiap kesempatan, mari kita berjuang untuk menjadi hamba-hamba Allah yang dapat merefleksikan sifat-sifat Allah Ta’ala di dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan kepada kita dan memberikan keberkatan dari sifat Al Muta’ali ini Aamiin.

Baca juga :

One thought on “Al Muta’ali Allah SWT

  1. Cocok nih buat seseorang yang telah disakiti, dizalimi, dan dikhianati oleh seseorang lain, oleh sekelompok orang, atau oleh suatu sistem. Mā syā’ Allāh❕✨🙏🏻🤲🏻😇

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *