Aku Melakukan Dosa, Apa Tobatku Akan Diterima?

Aku Melakukan Dosa, Apa Tobatku Akan Diterima?

Assalamualaikum sobat keren, kadang kita merasa berada dalam titik terendah di kehidupan. Kemudian dalam hati kita muncul pertanyaan, “Aku melakukan dosa, aku melakukan kesalahan, aku menyesal …. Apakah tobatku akan di terima? Bagaimana caranya agar aku tidak lagi kembali melakukan kesalahan yang sama?”

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan kegundahan yang mungkin setiap orang pernah mengalaminya. Nah, kita bahas Bersama yuk apa yang harus dilakukan ketika situasi seperti ini muncul?

Kita akan mulai dengan firman Allah SWT :

وَذَرُواْ ظَٰهِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَبَاطِنَهُۥٓ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡسِبُونَ ٱلۡإِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُواْ يَقۡتَرِفُونَ 

Dan tinggalkanlah dosa yang zahir dan yang bathinnya. Sesungguhnya orang yang berbuat dosa akan dibalas sesuai dengan apa yang mereka usahakan. [ Al An’am : 120 ]

Baca Juga :

Kenapa Ada “Dosa” Dan Kenapa Timbul Pemikiran Untuk Melakukannya ?

Di dalam Alquran setidaknya ada beberapa kata yang dipakai untuk menjelaskan kata “dosa”. Diantaranya Al-Dzanb, Ma’shiyah, Itsm, Sayyi’ah dsb. Kata-kata ini memiliki arti berbagai macam yaitu :

  1. Al-Dzanb: Artinya akibat, karena setiap amal-salah mempunyai akibatnya sebagai balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Kebanyakan orang mengatakan bahwa dzanb  bisa dilakukan secara disengaja atau tidak disengaja, kedua-dua cara bisa terjadi.
  2. Ma’shiyah: Berarti pembangkangan atau keluar dari perintah Tuhan. Kata ini menjelaskan bahwa manusia sudah keluar dari batas abdi Tuhan (‘ubudiyyah) jika melakukannya.
  3. Itsm: Artinya kealpaan dan tidak mendapatkan pahala. dosa atau pelanggaran atau suatu macam kesalahan atau pelanggaran batas atau suatu amal yang sipatnya membangkang yang patut menerima hukuman, atau suatu amal atau pikiran yang mencegah untuk melakukan suatu kebaikan. Atau perbuatan apapun yang dilakukan diluar batas peraturan. Jadi pendosa sebenarnya orang yang alpa tapi menganggap dirinya sadar atau pintar.
  4. Sayyi’ah: Berarti pekerjaan jelek yang mengakibatkan kesedihan, lawan kata hasanah yang berarti kebaikan dan kebahagiaan. dll

Sedangkan menurut terminologi, dosa ialah segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah SWT., baik yang berkaitan dengan melakukan sesuatu ataupun meninggalkannya. (Imam Al-Ghazali, Rahasia Tobat).

Mengenai dosa ini, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertobat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “Ar Raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Mengenai filosofi dosa itu sendiri, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

Ketika cinta selain Allah menutupi hati seseorang, kaca hati yang murni ternoda. Akibatnya, lambat laun, hati menjadi gelap gulita dan kecenderungan ke arah selain Tuhan mulai mengambil tempatnya, sehingga menjauhkan hati dari Tuhan. Inilah akar menyekutukan Allah. (Malfuzat, Vol. 1, hal. 168)

Perlu juga kita ketahui bahwa akar dosa adalah menjauhkan diri dari Allah SWT. Ketika manusia mulai menjauhkan dirinya dari Allah, walaupun sedikit saja, mulai menoleransi perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan perintah ilahi, maka lambat laun dirinya akan terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang merah pada dosa. Dalam hal ini, Hd. Masih Mau’ud as bersabda:

Namun ingatlah, bahwa akar dosa adalah hal-hal yang menjauhkan manusia dari Allah, yang bertentangan dengan  kesucian Allah Ta’ala, yang berlawanan dengan kehendak-kehendak Allah Ta’ala, dan yang menimbulkan kemudharat pada fitrat manusia, itulah dosa. (Malfuzat, jld. X, hlm. 357-359).

Selanjutnya apabila dosa atau keburukan itu menjauhkan manusia dari Allah SWT dan memiliki dampak menimbukan kemudharatan pada fitrat manusia, mengapa kita masih saja tunduk dan memiliki pemikiran untuk berbuat dosa dan pelanggaran? Jawabannya adalah karena kita belum sepenuhnya mengenal Allah SWT sebagai Tuhan kita. Ketika kita sudah mengenal Sang Khaliq, tentu saja bukan hanya mengenal nama-Nya saja, kita akan berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri kita untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa.

Hd. Masih Mau’ud as bersabda :

Mengapa manusia tunduk kepada dosa dan mengapa timbul pemikiran untuk melakukan dosa? Jawabannya adalah sebagai berikut. Secara umum tampak bahwa manusia melakukan dosa selama dia tidak atau belum mengenal Tuhan. Apakah seseorang yang melakukan pencurian, melakukannya pada waktu pemilik rumah sedang terbangun dan lampu masih hidup? Ataukah dia melakukannya ketika pemilik rumah sudah tertidur dan sudah gelap sedemikian rupa,  sehingga tidak kelihatan sedikit pun? (Malfuzat,  jld.IV, hlm.308)

Nah, Ketika kita melakukan perbuatan yang tidak disukai Allah, kemudian kita mnyadari kesalahan itu, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah segera bertobat dan tidak mengulangi lagi apa yang sudah kita lakukan.

Baca Juga :

Apakah Tobat Itu Kesempatan Kedua?

Bisa dibilang bahwa tobat adalah sebuat kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Banyak orang yang tahu tentang tobat, tapi masih enggan untuk menjalaninya. Hanya orang-orang yang beruntung yang memahami kemudian menjalankannya.

Allah SWT berfirman :

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ أُوْلَٰٓئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغۡفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمۡ وَجَنَّٰتٌ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ 

Dan, orang-orang yang apabila mereka melakukan suatu perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu mereka memohon ampunan bagi dosa mereka dan  siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? dan mereka tidak bersikeras pada apa yang telah dikerjakan mereka sedang mereka mengetahui. Orang-orang itulah, ganjaran mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka akan menetap di dalamnya, dan alangkah baiknya ganjaran orang-orang beramal. (Ali Imran:135-136).

Hakikat tobat adalah perasaan hati yang menyesali perbuatan buruk yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah SWT serta menahan diri dari melakukanya kembali. Melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan adalah wujud nyata dari tobat.

Hd. Masih Mau’ud as bersabda :

Tobat mengandung pengertian bahwa seseorang meninggalkan suatu kebiasaan buruk dengan tekad penuh bahwa setelah itu, meski ia dilempar ke dalam api sekali pun, ia tidak akan mengulangi dosa itu lagi. Bila manusia berpaling kepada Allah SWT dengan ketulusan dan keteguhan niat seperti ini maka Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang akan mengampuni dosanya tersebut. Adalah menjadi fitrat Ilahi bahwa Dia akan mengabulkan pertobatan dan menyelamatkan sang pendosa dari kehancuran. (Chasma Marifat, Ruhani Khazain hal. 189-190)

Tobat haruslah dilakukan dengan ikhlas, menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan, berhenti dari perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa yang akan datang. Didalam Al-quran Allah sangat jelas menjabarkan perihal orang yang bertobat dan apa yang akan mereka dapatkan.

إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٖ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا 

Sesungguhnya tobat terhadap Allah dikabulkan hanya bagi orang-orang yang berbuat keburukan karena kejahilan. kemudian mereka bertobat dengan segera. Maka, mereka itulah yang Allah kembali kepadanya dengan kasih, dan Allah SWT. Maha Mengetahui Maha Bijaksana. [ An Nisa : 17 ]

Baca Juga :

Yakin Tobat Kita Akan Diterima Allah?

Ini merupakan pertanyaan lanjutan yang kadang muncul Ketika penyesalan itu datang. Pertanyaan yang sebenarnya berisi pengharapan bahwa penyesalan yang kita rasakan dan tobat yang kita lakukan akan diterima oleh Allah SWT. Untuk menjawab hal ini mari kita baca di dalam Alquran :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ

Hai, orang-orang yang beriman ! Bertobatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas tobat. Semoga Tuhan-mu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu  ( At-Tahrim : 8 )

Allah SWT sebagai At Tawwab (Maha Penerima Tobat) tidak pernah tidak menerima tobat seorang hamba, dengan syarat bahwa tobat yang dilakukan itu benar-benar dilakukan dengan penuh ikhlas, sepenuhnya dalam keadaan sadar mengakui kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulangi Kembali kesalahan yang telah diperbuat. Bukan tobat yang hanya di mulut saja tanpa ada pengimplementasiannya dalam kehidupan dan dilakukan berulang-ulang.

Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman,

  يَا عِبَادِي! إنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ باِللَّيْل ِوَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنيِ أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berdosa siang dan malam, dan Aku maha mengampuni dosa, maka mintalah ampunan kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni kalian” [ Muslim ]

Betapa Maha Rahman dan Maha Penerima Tobat-Nya Allah SWT kepada hamba-Nya yang bertobat menyesali perbuatannya. Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai hal ini juga bersabda:

Pintu gerbang rahmat dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling kepada-Nya dengan hati yang tulus dan lurus, maka Dia bersifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang, serta menerima pertobatan. Adalah suatu kedurhakaan mempertanyakan berapa banyaknya pendosa yang akan diampuni Allah SWT. Khazanah rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan apa pun dan gerbang- gerbang menuju kepada-Nya tidak dihalangi. Barangsiapa yang tiba di hadirat-Nya akan mencapai derajat tinggi. Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa akan Tuhan Yang Maha Kuasa dimana maut di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak menyadari, adalah orang yang amat sial karena ia akan menemukan pintu rahmat dalam keadaan terhalang oleh dirinya sendiri. (Malfuzat, vol. III, hal. 296-297)

So, Jangan pernah ragu untuk ambil kesempatan kedua kita, penyesalan yang kita rasakan merupakan gerbang untuk perubahan diri kita ke arah yang lebih baik lagi. Orang yang beruntung adalah orang yang ketika Allah memberikannya kesempatan untuk memperbaiki dirinya, kemudian dia mengambilnya dan mengubah dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jangan pernah ragu dengan janji Allah SWT, ya sobat keren!

Baca Juga :

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *