Shalat, Obat Penawar Kehancuran Dunia

Assalamu’alaikum sobat keren,

Kondisi dunia modern saat ini, semua sektor kehidupan berlomba-lomba menggiatkan aktivitasnya dengan teknologi terkini. Bukan hanya perorangan atau perusahaan, bahkan negara-negara pun berlomba untuk menjadi yang terdepan. Siapa cepat dia dapat. Dampak dari persaingan ini pun sangat luar biasa. Banyak hal positif yang membuat kita tidak bisa menutup mata. Meski begitu, dampak negatif  tetap saja ada, yang bahkan menabrak pelaksanaan ajaran agama.

Sebagai seorang muslim, kita memiliki amalan-amalan yang perlu kita tunaikan dengan sebaik mungkin. Salah satunya adalah shalat, ibadah utama yang menjadi pondasi bagi ibadah-ibadah kita lainnya. Namun, dalam realitanya, tidak sedikit umat Islam yang melalaikannya, hanya karena tuntutan pekerjaan, persaingan karir, dan urusan duniawi lainnya.

Kalau kita melihat kembali kepada sabda Rasulullah ﷺ, beliau memberikan gambaran bahwa bangunan Islam baru akan tegak dalam diri kita, jika shalat yang merupakan tiang-tiangnya berdiri dengan kuat dan kokoh. Jadi, jika dalam pengamalannya terdapat kelemahan dan kelalaian, bahkan memperlihatkan sikap acuh tak acuh terhadapnya, maka secara otomatis bangunan Islam yang indah tidak akan berdiri dengan sempurna dalam diri kita.

Rasulullah ﷺ bersabda :

…أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ…

“…Maukah kamu aku tunjukkan pokok perkara agama, tiang dan puncaknya?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pokok dari perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah Shalat, sedangkan puncaknya adalah Jihad…” (HR.Tirmidzi)

Lalu, apa hubungan ibadah shalat dengan kesuksesan duniawi? Bukankah shalat hanya perintah agama dalam perkara rohani?

Tak ubahnya seperti seekor kuda yang kuat, ia akan sangat tidak terkendali dan bahkan bisa merusak segala sesuatu yang ada di sekitarnya jika tidak ada tali pengikat yang mengendalikannya. Begitulah tarikan dunia yang begitu kuat saat ini. Jika tarikan itu tidak dikendalikan, maka kita bisa tergerus di dalamnya. Secara perlahan kita menuju lubang kehancuran yang selalu mengintai, menganga dan siap untuk melahap.

Tali pengikat inilah shalat dalam Islam. Shalat menjadi penjaga dari keburukan-keburukan yang mungkin terjadi. Ia menjadi pengikat yang mengendalikan kita dari tarikan kehancuran. Kenapa demikian? Ya, sebagaimana kita pahami, tujuan kita diciptakan oleh Allah Ta’ala adalah untuk beribadah dan menyembah kepada-Nya. Tanpanya, kesuksesan duniawi yang dicapai, adalah kesuksesan semu yang akhirnya justru bisa mengantarkan kita kepada kebinasaan. Bukan hanya dalam kehidupan dunia, namun juga di akhirat nanti. Barang-barang duniawi yang kita peroleh, jabatan yang kita terima, harta yang kita miliki, pada dasarnya adalah pemberian Allah Ta’ala. Maka, sudah sepantasnyalah kita mengucap syukur dan beribadah kepadaNya.

Memang, saat ini kemajuan-kemajuan duniawi telah kita rasakan manfaatnya. Banyak hal positif bisa kita dapatkan, dan tentunya kita pun memerlukan kemajuan dalam hal tersebut. Namun hendaknya diingat, hanya mengejar harta dan kepuasan duniawi, lalu melupakan dan meninggalkan Allah, adalah kesalahan besar. Kesuksesan duniawi, jika tanpa memperhatikan tujuan utama kita yaitu ibadah dan mengutamakan Allah di atas segalanya, tidak akan berarti apa-apa.

Shalat adalah satu bentuk ibadah yang sangat ringan namun berdampak sangat besar bagi kehidupan setiap umat Islam. Saat kita menjalin hubungan dengan Allah di dalam Shalat, dari situ terjalin keakraban dengan yang Empunya alam semesta. Saat kita memprioritaskan Dia di atas segalanya, maka kita akan menjadi prioritas dalam pandangan-Nya. Inilah Shalat, satu hal yang ringan, namun mengantarkan kita kepada keberhasilan hakiki, kedamaian, dan menjauhkan kita dari kehancuran dan kebinasaan.

 

Penulis : Muhammad Ali