Merdeka Bernegara, Merdeka Beragama

Assalamualaikum, sobat keren. Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Allah subhaanahu wata’ala. Aamiin.

Kita semua tahu ya, bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara yang Merdeka. Lalu apa sih makna dari kemerdekaan itu bagi kita? Apakah hanya  sekedar pembacaan teks proklamasi saja, lalu kita sudah merdeka?

Sobat keren, manusia adalah makhluk yang merdeka sejak lahir dari kandungan ibunya. Manusia adalah makhluk yang merdeka dan bebas berekspresi. Manusia bebas memilih jalan hidupnya, bebas menentukan keyakinannya, bebas berpendapat, dan bebas mengekspresikan pemikirannya. Intinya, manusia adalah makhluk yang bebas dalam bersosial, berekonomi, berbudaya, bahkan beragama.

Kebebasan berekspresi adalah salah satu hak yang fundamental yang di akui dalam sebuah negara hukum yang demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Di Indonesia, sebagai negara demokrasi, jaminan kebebasan berekspresi di atur dalam UUD 1945 amandemen ke-2 yang menyatakan bahwa   “setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.”

Pada zaman jahiliyah (kebodohan) dulu, manusia banyak diperbudak oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Sudah tidak asing lagi pada zaman itu memperjual belikan manusia. Di mana pada waktu itu, nasib atau jalan kehidupan seorang budak ditentukan oleh Tuannya. Lalu, diutuslah Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wasallam untuk membebaskan dan memerdekakan manusia. Memerdekakan manusia dari apa?  Ya! Dari kebodohan. Nabi memerdekakan umat manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.s Ibrahim: 1)

Dalam ayat tersebut di sebutkan bahwa Allah mengutus RasulNya yang  di berikan tugas untuk mengeluarkan (membebaskan) manusia dari kegelapan, dengan membawa petunjuk-Nya yaitu Al-Qur’an.

Nah, sobat keren, sampai di sini kita sudah melihat, ya, seperti apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya? Jadi, kemerdekaan yang hakiki akan kita dapatkan ketika kita mengikuti petunjuk yang Allah berikan di dalam Al-Qur’an. Di mana pada Al-Qur’an, Allah telah memberikan begitu banyak petunjuk untuk kita, salah satunya adalah petunjuk tentang kemerdekaan diri.

Lalu di tempat lain Allah pun berfirman:

وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُون

Terjemah Arti: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan saalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Q.s Asy-syura : 38)

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa Islam sangat mengenal konsep musyawarah, yang di dalamnya terdapat cara penyampaian pendapat bahkan adu argumen. Tapi, walaupun kita memiliki kebebasan berekspresi, kita juga harus menghormati bahwa orang lain juga punya hak yang sama. Dalam surah Shad ayat 26 Allah berfirman:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Jadi sob, kemerdekan bukan hanya pembacaan teks proklamasi tapi intinya adalah kemerdekaan diri dan kebebasan berekspresi. Kemerdekaan diri dari hawa nafsu, dari sifat buruk. Dan kebebasan berpendapat yang dimiliki semua orang tentunya kita harus menghargai pendapat orang lain.

Jadi, kemerdekan yang sesungguhnya sudah di berikan oleh Allah sebagai Sang Mahapencipta kepada kita umat manusia, dengan ditegakkannya agama oleh baginda Rasul.

Penulis: imam-Talaga

IG: imam_nurshaleh

 

3 thoughts on “Merdeka Bernegara, Merdeka Beragama”

Comments are closed.

Postingan Terbaru